Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh

Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh
Bab 35. Sudah Tahu


__ADS_3

"Sebenarnya kondisi Andri sedang tidak baik-baik saja, Nduk."


Tak ada ekspresi apa pun yang keluar dari wajah Yuan. Tatapan matanya biasa saja. Tidak ada gurat wajah terkejut atau khawatir.


Yuan justru tersenyum tipis. Dia langsung meraih jemari sang ibu mertua, lalu mengusapnya lembut. Dahi Drini berkerut ketika mendapati Yuan terlihat begitu tenang, bahkan sampai tersenyum.


"Bu, apa Ibu lupa kalau Yuan juga tenaga medis? Yuan tahu betul bagaimana kondisi Mas Andri saat ini." Kini Yuan melepaskan jemarinya dari punggung tangan Drini.


"Bahkan setiap malam, Yuan tahu kalau Mas Andri selalu menangis dalam diam. Dia menahan semua kesedihannya sendirian. Yuan paham kenapa dia melakukan hal itu."


Kini tatapan Yuan menerawang ke langit-langit rumah. Sebuah senyum penuh keikhlasan terukir di bibir tipis perempuan tersebut. Sedetik kemudian, dia menoleh ke arah Drini.


"Mas Andri ingin terlihat bahwa semuanya baik-baik saja, Bu. Dia tidak ingin membuat kita semua merasa terbebani."


"Yuan ...." Bahu Drini merosot setelah mendengar semua yang dikatakan oleh Yuan.


"Jadi, mari kita perlakukan Mas Andri seperti biasa. Kondisi Mas Andri yang semakin menurun, aku tahu akan berujung sampai mana, Bu. Aku paham."

__ADS_1


Yuan mulai berkaca-kaca. Meski dia terlihat baik-baik saja. Namun, hati perempuan itu sedang begitu rapuh.


Yuan menyembunyikan semua kesedihannya, seperti saat Andri melakukan hal tersebut. Jika suatu saat Andri pergi, Yuan ingin menjadi istri terbaik untuk suaminya itu.


"Tapi, apa kamu yakin mau merawat Andri, Nduk? Kamu tahu kan kalau Andri mungkin saja tidak bisa bertahan lama? Bukannya ibu mendahului ketetapan Tuhan. Tapi, secara medis memang seperti itu nyatanya." Suara Drini bergetar ketika mengucapkan semua hal tersebut.


"Bu, apa Ibu masih meragukan ketulusanku? Aku benar-benar akan melakukan semuanya dengan ikhlas. Aku mencintai Mas Andri dalam keadaan apa pun."


Drini tidak bisa lagi berkata-kata. Dia langsung memeluk anak mantunya itu. Tangisnya pun akhirnya pecah.


Mereka berdua sepakat untuk memperlakukan Andri seperti biasa. Jika suatu saat nanti Andri benar-benar pergi. Mereka ingin membuat kenangan indah dan terbaik bersama Andri.


"Meski kemungkinannya kecil, Yuan berharap Mas Andri mendapatkan keajaiban dari Tuhan, Bu."


Drini mengangguk sambil tersenyum tipis di balik punggung Yuan. Dia berharap keajaiban itu benar-benar terjadi. Drini masih ingin terus bersama sang putra.


Yuan akhirnya melepaskan pelukannya dari Drini. Drini tersenyum lebar, lalu merangkum wajah mungil sang menantu. Tak lama berselang, kini telapak tangannya berpindah pada puncak kepala Yuan dan memberikan usapan lembut di sana.

__ADS_1


"Kamu yang sabar, ya, Nduk? Semoga Tuhan mendengarkan semua doa-doa kita mengenai keajaiban-Nya," ucap Drini diikuti anggukan oleh Yuan.


"Kalau begitu, Yuan mau masak dulu, Bu. Kasihan Mas Andri. Nanti keburu lapar." Yuan mengusap sisa tangisnya, kemudian pergi ke dapur.


Setelah selesai memasak, Yuan pun bergegas pergi ke kamar. Dia langsung masuk dan meletakkan makanan ke atas meja. Yuan menoleh ke arah Andri yang tampak tertidur pulas.


Yuan mendekati Andri. Dia mengamati wajah tampan sang suami yang semakin hari semakin tirus. Yuan mengangkat lengan ke udara, kemudian mendaratkannya tepat pada pipi lelaki tersebut.


"Mas, sudah pura-puranya. Bangun," ucap Yuan lembut sembari tersenyum tipis.


Andri langsung tersenyum, kemudian perlahan membuka mata. Yuan ikut berbaring di samping Andri. Dia menggunakan dada sang suami sebagai bantalan.


Suara detak jantung Andri kini terdengar jelas oleh Yuan. Iramanya tak beraturan. Yuan memejamkan mata, berusaha menikmati setiap degup jantung sang suami yang terdengar oleh telinganya.


"Mas, mulai sekarang nggak usah berpura-pura, ya? Nggak usah berpura-pura kalau Mas andri sedang baik-baik saja. Jika kamu merasa tidak nyaman dengan kondisimu sekarang, katakanlah. Maka aku akan berusaha membuatmu nyaman tanpa beban."


__ADS_1


__ADS_2