
"A-aku didorong sama Yuan!" Tangis Riana pun pecah.
Yuan melongo seketika. Dia menyesal karena sudah mengeluarkan tangisnya karena khawatir dengan kondisi Riana. Justru sekarang dia dituduh oleh adik iparnya tersebut.
Kini Andri, Drini, dan Anton menatap Yuan penuh rasa tidak percaya. Namun, mereka juga tidak bisa berkata apa pun. Akhirnya Anton dengan bijak mencairkan suasana.
"Sudah, yang penting kita bawa dulu Riana ke rumah sakit. Ri, ada bagian tubuhnya yang ngilu banget, nggak? Bapak takut kalau kamu mengalami retak atau patah tulang."
"Kakiku sakit, Pak," jawab Riana di antara suara tangis.
"Ya sudah, kita bawa ke rumah sakit sekarang. Yuan, kamu di rumah saja, ya? Kamu istirahat, biar kami yang urus Riana."
Kali ini Andri hanya diam. Dia bahkan ikut mengantar Riana ke rumah sakit. Yuan hanya bisa menatap sang suami yang seakan tidak peduli kepadanya.
Ketika Riana dibopong oleh sang ayah, dia menatap sinis Yuan seraya tersenyum miring. Yuan yang kesal pun memilih untuk balik kanan dengan kondisi kaki pincang. Dia masuk ke dalam kamar.
"Bukan hanya Riana yang sakit, loh! Aku juga kesakitan! Kenapa nggak ada yang menanyakan keadaanku?" Yuan menangis sambil merawat kakinya sendiri yang terasa ngilu.
Tanpa terasa waktu berputar begitu cepat. Sepulang dari rumah sakit, Andri langsung menghampiri Yuan yang kini terlelap di atas sofa. Dia menatap sendu sang istri dan baru menyadari kalau kaki istrinya itu terluka.
"Maaf, Yuan. Aku tadi panik, maaf karena tidak menyadari bahwa kamu juga terluka," ucap Andri lirih sambil mengusap lembut perban yang kini membalut pergelangan kaki sang istri.
Yuan menggeliat dan mulai membuka mata. Melihat Andri sudah ada di sampingnya, rasa kesal kepada sang suami kembali mencuat. Dia balik kanan untuk memunggungi Andri.
Andri menyentuh bahu Yuan, berusaha membujuk istri kesayangannya itu. Namun, Yuan menepiskan lengan Andri. Lelaki itu pun mengembuskan napas kasar.
"Maaf, Sayang. Aku tadi panik, jadi tidak menyadari kalau kamu juga terluka."
Yuan masih diam seribu bahasa. Rasa kesal masih bergelayut di hati perempuan cantik tersebut. Dia tidak terima dengan sikap Andri yang mementingkan Riana daripada dirinya.
"Aku sadar aku salah. Aku benar-benar menyesal. Sebagai permintaan maaf, aku akan mengabulkan apa pun yang menjadi keinginanmu."
__ADS_1
Mendengar ucapan sang suami sontak membuat Yuan balik badan. Dia kini menatap sang suami. Dia menghapus tetes air mata yang membasahi pipinya.
"Beneran?" tanya Yuan dengan mata yang mulai berbinar.
"Tentu! Apa saja!" seru Andri tanpa rasa curiga sedikit pun.
Sebuah senyum pun kini mengembang di bibir Yuan. Dia mendekatkan tubuh ke arah Andri, lalu duduk di pangkuannya. Yuan pun melingkarkan lengan pada leher sang suami.
"Boleh aku minta untuk tinggal terpisah dari ibu dan bapak? Kata orang-orang, kalau dalam satu kapal ada dua nakhoda tidaklah baik."
Andri mengerutkan dahi karena belum mengetahui apa maksud dari sang istri. Yuan pun merangkum wajah suaminya itu sambil tersenyum lembut. Andri kini membelai rambut panjang sang istri penuh cinta.
"Kita kan sudah berumah tangga sendiri, Mas. Bukankah lebih baik kita tinggal terpisah dari ibu dan bapak. Kita harus belajar mandiri supaya rejeki kita lebih lancar dan hidup kita nyaman tanpa merasa menjadi beban untuk mereka."
"Jadi, kamu merasa tidak nyaman tinggal di sini?" senyum Andri mendadak hilang.
"Bu-bukan begitu, Mas. Tapi ...." Belum selesai Yuan mengungkapkan alasannya, Andri kembali memotong ucapan sang istri.
"Lagi pula ibu dan bapak tidak pernah merasa terbebani dengan adanya kita di rumah ini," imbuh Andri.
Akan tetapi, Andri mencegah Yuan. Dia malah memeluk sang istri dan mendaratkan ciuman pada puncak kepala Yuan. Bibir Yuan mengerucut karena rasa kesal yang semakin memenuhi dadanya.
Yuan tidak terima Andri kembali berpikir buruk tentangnya. Semua itu Yuan ungkapkan bukan karena merasa tidak nyaman dengan Drini maupun Anton. Namun, Yuan merasa akan lebih leluasa jika hanya hidup berdua dengan Andri mengingat keduanya sudah sah menjadi suami istri.
"Kita cari rumah mulai besok, ya? Tapi ... kita pindahan setelah acara pernikahan Riana. Bagaimana? Setuju?"
Yuan melepaskan pelukannya, menatap wajah Andri sekilas, lalu kembali mendekap suami tampannya itu. Yuan mengangguk mantap dan terus mengucapkan terima kasih berulang kali.
Sejak kejadian jatuhnya Riana dari tangga membuat Anton berpikir keras. Dia tidak percaya dengan ucapan Riana yang terlihat hendak menjatuhkan nama baik Yuan. Setelah berpikir selama beberapa hari, Anton baru menyadari satu hal.
"CCTV!" seru Anton sambil menjentikkan jari.
__ADS_1
Lelaki tersebut langsung membuka laptopnya. Dia langsung mengakses rekaman CCTV dan mencari video terakhir sebelum Riana jatuh dari tangga. Alangkah terkejutnya Anton ketika mengetahui fakta sebenarnya.
Ternyata putri kesayangannya itu awalnya hendak mencelakai Yuan. Namun, justru dia ikut celaka. Jemari Anton mengepal kuat di atas meja.
Ada rasa kecewa yang kini memenuhi hati lelaki berumur 60 tahunan itu. Dia memukul keras meja kemudian berteriak frustrasi. Kali ini Anton merasa benar-benar gagal dalam mendidik Riana.
"Kali ini aku harus memberi peringatan kepada Riana!" Anton beranjak dari kursi kemudian berjalan cepat ke arah kamar sang putri.
Anton memanggil nama Riana sambil terus mengetuk pintu. Tak lama kemudian, Riana pun membuka pintu. Dia mengerutkan dahi karena melihat tatapan tajam dari sang ayah.
"Ada apa, Pak?" tanya Riana dengan dahi berkerut.
"Ikut ke ruang kerja Bapak!" perintah Anton.
Riana pun mengikuti sang ayah dengan patuh. Anton masuk lagi ke ruang kerja, lalu duduk di atas sofa. Riana ikut duduk di samping sang ayah.
"Ri, boleh Bapak tanya sesuatu?" tanya Anton dengan nada tegas.
Riana meraih lengan sang ayah, kemudian bergelayut manja di sana. Anton berusaha meredam emosinya. Dia perlahan melepaskan tangan Riana dari lengannya.
"Bapak ingin bicara serius kali ini, Ri. Tolong hargai sedikit!"
"Kenapa sih, Pak? Kelihatannya serius sekali?" Riana masih tersenyum manja dan berusaha meraih lagi tangan sang ayah.
Namun, Anton tiba-tiba menggebrak meja. Riana pun akhirnya tersentak. Terakhir kali dia melihat Anton marah, adalah saat kakak pertamanya diam-diam kabur untuk kuliah ke Amerika.
"Kenapa kamu berbohong mengenai kejadian tiga hari lalu? Kenapa kamu menfitnah bahwa Yuan telah mendorongmu, padahal awalnya kamu yang berniat mencelakainya?"
"Apa yang Bapak katakan? Riana nggak ngerti maksud Bapak."
"Kamu nggak bisa terus mengelak! Bapak punya buktinya!" Anton beranjak dari sofa kemudian berjalan ke arah meja kerjanya.
__ADS_1
Anton memutar rekaman CCTV dan menunjukkannya kepada Riana. Riana pun terbelalak. Dia melupakan satu hal, hampir setiap sudut rumahnya dipasangi CCTV kecuali kamar pribadi masing-masing.
"Jadi, kamu mau berkilah seperti apa lagi?" tanya Anton dengan rahang mengeras.