
"Minggir!" seru Burhan ketika melihat Drini berdiri tegap seakan sedang menghalangi jalannya.
Drini tidak menjawab dan tetap mematung, enggan beranjak dari posisinya sekarang. Dia merasa geram karena melihat tingkah menantunya yang tidak sopan itu. Tak lama berselang, Riana mengikuti Burhan.
Riana menangis tersedu-sedu kemudian menarik lengan Burhan yang sedang menggenggam gagang koper. Drini benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Riana yang masih berat hati kepada Burhan.
"Mas, cuma ngomong maaf saja! Maka aku akan memaafkanmu! Kita mulai lagi semuanya dari awal!" seru Riana di antara isak tangis.
Burhan tidak menjawab. Dia tetap berusaha melewati Drini, dan mengabaikan Riana. Riana terus merengek karena telah dibutakan oleh cinta.
Burhan kesulitan untuk bergerak karena Riana menghambat langkahnya dengan terus menarik lengan lelaki tersebut. Keduanya menuruni anak tangga dengan saling tarik menarik. Drini berusaha membujuk Riana agar putrinya melepaskan serta merelakan sang suami, tetapi Riana mengabaikannya.
Ketika sudah sampai di dasar anak tangga Burhan mendadak menghentikan langkahnya. Dia memejamkan mata kemudian membanting kopernya. Riana yang tersentak akhirnya melepaskan cengkeraman tangan dari lengan Burhan.
"Bisa diam nggak? Berisik sekali!" geram Burhan.
"Apa kamu bodoh atau gimana, sih? Di mana-mana, perempuan kalau dikhianati tidak akan sudi untuk kembali!" Burhan tersenyum miring dengan tatapan seakan merendahkan Riana.
"Mas, aku cinta sama kamu! Aku masih bisa memaafkan kesalahanmu! Aku tahu kalau kamu tadi cuma khilaf!" Riana berulang kali menepuk dadanya pelan.
"Kata siapa aku khilaf? Aku memang memiliki niat untuk menyentuh Yuan!" Burhan menyeringai, lalu melipat lengan di depan dada.
"Aku benar-benar heran sama kamu! Memang seharusnya dari awal aku nggak tergoda! Seharusnya aku mempertahankan hubunganku dengan Yuan!" Burhan mengembuskan napas kasar, kemudian berniat untuk menarik lagi kopernya.
__ADS_1
Namun, Riana kembali meraih lengan Burhan. Lelaki tersebut mengibaskan lengan, sehingga membuat Riana kehilangan keseimbangan. Dia langsung terjatuh ke atas lantai dengan posisi terduduk.
"Kamu keterlaluan, Burhan! Bagaimanapun juga dia masih istrimu!" seru Drini seraya menatap tajam Burhan.
Burhan justru tersenyum miring. Tawa kecil pun keluar dari bibir lelaki tersebut. Tak lama berselang terdengar pintu kamar Yuan terbuka.
Perempuan tersebut langsung berlari menghampiri Riana yang kini sedang meringis menahan sakit. Dia meneliti kondisi Riana. Setelah memastikan tidak ada tanda-tanda buruk yang mengarah pada pendarahan, akhirnya Yuan mendekati Burhan.
"Kamu itu gimana laki-laki macam apa, Mas? Bisa-bisanya kamu bersikap kasar kepada istri yang sedang mengandung anakmu!" teriak Yuan penuh emosi.
"Aku tidak peduli! Mau dia hamil anakku atau tidak, aku hanya menyesali satu hal. Aku menyesal telah menyia-nyiakan perempuan semenarik kamu!" Burhan mendekati Yuan dan mulai mengangkat lengannya.
Jemari lelaki tersebut hendak menyentuh dagu Yuan. Akan tetapi, Yuan langsung menepisnya kasar. Perempuan itu menatap tajam Burhan dengan rahang mengeras.
Mendengar ucapan yang keluar dari bibir Burhan membuat darah Yuan seakan mendidih. Yuan langsung mendaratkan tamparan ke pipi Burhan. Jemarinya mengepal kuat di samping badan untuk menahan emosi agar tidak semakin meledak.
"Bagaimana pun juga, Mas Andri jauh lebih baik! Dia tidak pernah menggoda perempuan lain sejak menikah denganku!"
Burhan tertawa kecil kemudian mengusap pipinya yang terasa panas. Dia kembali menarik koper dan berlalu begitu saja keluar dari rumah tersebut tanpa sepatah kata pun. Begitu Burhan menghilang dari pandangan, Yuan langsung menghampiri Riana yang masih duduk di atas lantai sambil menangis.
"Bu, sebaiknya kita bawa Riana ke rumah sakit. Kita harus memastikan semuanya baik-baik saja dengan bantuan alat USG!"
Drini mengangguk mantap. Yuan pun segera menghubungi taksi online. Setelah taksi datang, mereka membantu Riana untuk berjalan dan masuk ke dalam taksi.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Riana terus menangis di dalam pelukan sang ibu. Kali ini dia merasa sangat hancur. Semangat hidupnya seakan menguap ke udara.
"Sabar, ya, Ri. Ibu yakin, setelah ini akan ada banyak hal baik yang menghampirimu." Drini mengusap lembut puncak kepala Riana kemudian mendaratkan ciuman di sana.
Yuan yang menyaksikan banyak hal buruk hari ini hanya bisa diam. Dia tidak berani ikut menenangkan Riana. Bukan karena tidak peduli.
Yuan hanya takut jika dia mendekati sang adik ipar, Riana akan berpikir lain dan malah semakin stres. Kondisi psikis ibu hamil sangat sensitif. Dia tidak mau Riana semakin salah paham dalam kondisi pikiran yang kacau.
Begitu sampai di rumah sakit, Riana langsung diperiksa oleh dokter kandungan terbaik di rumah sakit milik sang ayah. Beruntungnya tidak ada hal buruk yang menimpa Riana atau pun bayi dalam kandungannya. Yuan ikut bernapas lega setelah mendengarkan penjelasan dari sang dokter.
"Baiklah, terima kasih, Dok."
Dokter itu pun mengangguk sambil tersenyum lebar. Setelah dokter tersebut keluar, Yuan berjalan mendekat ke arah Riana yang kini sedang menatap kosong ke luar jendela.
Yuan mendekat lalu menarik kursi di depannya. Setelah itu, dia mendaratkan bokong ke atas benda tersebut. Yuan menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan sebelum akhirnya berbicara.
"Ri, aku tahu kamu marah sama aku. Tapi aku benar-benar sudah tidak memiliki perasaan apa pun kepada suamimu. Tadi pagi ...."
"Diam!" seru Riana sambil menoleh ke arah Yuan.
"Bisa nggak, sih, Mbak Yuan diam aja? Nggak usah bahas lagi insiden ini! Aku benar-benar muak!"
__ADS_1