Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh

Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh
Bab 22. Manisnya Pernikahan


__ADS_3

"Merepotkan sekali!" seru Riana sembari menatap tajam Andri dan Yuan.


Andri tersenyum tipis kemudian mendekatkan kursi roda ke arah Riana. Yuan pun ikut masuk dan berdiri di samping Andri. Yuan dapat menyaksikan rasa tidak suka Riana melalui pantulan badan lift yang terbuat dari bahan mengkilap.


Bukannya takut, Yuan justru menoleh ke arah Riana seraya melemparkan tatapan mengejek. Riana pun ikut menoleh. Dia kini menatap sinis kakak iparnya tersebut.


Andri yang menyadari adanya hawa permusuhan di antara adik dan istrinya pun menoleh ke kanan dan kiri secara bergantian. Awalnya dia mengerutkan dahi. Namun, perlahan tawanya pecah.


"Kalian ini kenapa seperti anak-anak?"


"Apa, sih, Mas Andri!" Riana mencebikkan bibir kemudian mendongak dengan lengan dilipat di depan dada.


Yuan justru ikut terkekeh. Tiba-tiba Andri meletakkan tas ke atas lantai, lalu menarik lengan sang istri. Dia mendudukkan Yuan ke atas pangkuan.


Riana yang melihat kemesraan yang disengaja itu kini melirik kesal. Dia mengerucutkan bibir. Riana juga mengentakkan kaki ke atas lantai.


"Kami sudah baikan! Jadi, bersiaplah untuk menimang keponakan!" seru Andri dengan nada bercanda.


Yuan yang mendengar ucapan Andri pun tersipu malu. Andri mencubit gemas pipi istri cantiknya itu. Jika saja Riana tidak ada di dalam lift, bisa dipastikan Andri akan menghujani istrinya itu dengan ciuman.


"Buat apa keponakan? Misalkan ada, aku nggak mau gendong dia! Bentar lagi aku juga akan punya bayi setelah menikah!" Riana kini memutar tubuh, sehingga tatapannya bisa fokus ke arah pasangan yang sedang dimabuk cinta itu.


Andri hanya menganggap ucapan Riana sebuah gurauan, jadi lelaki tersebut hanya menanggapinya dengan tawa kecil. Tak lama berselang terdengar denting tanda lift sudah sampai lantai dasar. Ketika pintu terbuka, puluhan pasang mata menyaksikan Yuan yang masih duduk di atas pangkuan sang suami.


Sontak Yuan turun dari atas paha Andri. Dia mengangkat tas, lalu mengembalikannya ke tempat semula. Perempuan cantik tersebut mati-matian menahan malu.


Yuan terus menunduk dan melewati kerumunan orang yang hendak masuk ke dalam lift. Begitu sampai di tempat parkir, Yuan berjongkok seraya menyembunyikan wajah ke dalam telapak tangan. Andri terkekeh, sedangkan Riana tersenyum sinis.


"Makanya, nggak usah sok umbar kemesraan di depan umum!" ledek Riana.

__ADS_1


Andri menyikut lengan sang adik, sehingga membuat Riana menoleh ke arahnya. Riana pun melemparkan tatapan tajam kepada Andri. Sang kakak juga melakukan hal yang sama sambil menempelkan telunjuk ke bibir.


Riana yang merasa terkalahkan pun mengentakkan kaki kanannya ke atas lantai. Dia berjalan dengan entakkan kuat untuk masuk ke mobil. Setelah itu Riana membanting kasar pintu usai duduk di belakang roda kemudi.


"Dasar bocah!" gerutu Andri sembari berdecap kesal dan menggeleng.


Riana memang memiliki sifat yang sangat manja serta egois. Hal itu terbentuk karena dia merupakan anak bungsu sekaligus putri tunggal. Jadi, semua anggota keluarga memang memperlakukannya spesial.


Riana selalu mendapatkan apa pun yang dia mau. Jika dia merengek kepada sang ayah dan tidak dituruti, maka Riana akan meminta hal itu kepada anggota keluarga lain. Salah satu dari mereka pasti akan mengabulkan serta memberikan apa yang menjadi keinginannya.


Kini Andri kembali menatap sang istri. Dia berdesus sehingga membuat Yuan mendongak. Perempuan tersebut ternyata menangis.


"Hei, kenapa istri kesayanganku ini menangis?" tanya Andri sambil mendekatkan kursi roda ke arah Yuan.


"Aku malu, Mas!" Yuan mengusap air matanya sambil mengeluarkan ingus ke dalam lipatan tisu.


"Nggak apa-apa, nggak sengaja. Aku yang salah." Andri mengusap puncak kepala sang istri penuh kasih.


"Baiklah, Sayangku! Maaf, ya? Kalau begitu ayo kita pulang! Ibu pasti sudah menunggu kita!" ajak Andri.


Yuan pun berdiri dari posisi semula. Dia mendorong kursi roda Andri mendekati mobil, kemudian membantu sang suami untuk duduk di atas jok. Setelah memasukkan kursi roda ke bagian belakang mobil, Yuan pun ikut masuk ke dalam.


Riana langsung melajukan mobil menuju rumah. Sepanjang perjalanan Andri terus menggenggam jemari sang istri. Dia juga meminta Yuan untuk menyandarkan kepala pada bahunya.


Keduanya lupa bahwa ada Riana yang terus mengamati melalui kaca spion. Riana terus berdecap ketika melihat sang kakak mengecup lembut puncak kepala Yuan. Ada rasa iri yang mulai bersemayam di hati Riana.


"Muak sekali melihat kemesraan kalian!" ujar Riana dalam hati.


Riana melupakan satu hal. Dia bahkan pernah menunjukkan kemesraan dengan Burhan secara sengaja di depan Yuan. Sebenarnya sah-sah saja Yuan dan Andri bermesraan karena mereka pasangan suami istri.

__ADS_1


Tak lama berselang mereka sudah sampai di kediaman keluarga Ismoyo. Riana membantu Yuan mengeluarkan kursi roda, sedangkan perempuan tersebut memantu Andri berpindah dari mobil ke kursi roda. Mereka pun masuk ke rumah dan disambut hangat oleh Drini dan Anton.


"Selamat datang kembali ke rumah!" Drini memeluk sang putra penuh kasih.


"Cepat sekali pulihnya? Bapak mencium ada aroma cinta bermekaran di sekitar sini!" seru Anton seraya mengendus dengan hidung di arahkan ke Andri dan Yuan.


"Ih, Bapak norak!" gerutu Riana.


Riana pun melangkah kesal menaiki anak tangga. Dia menutup pintu kamarnya dengan kasar. Drini hanya bisa menggeleng melihat tingkah kenakan sang putri.


Drini selalu menyalahkan diri ketika menyaksikan sendiri sikap manja serta egois Riana. Dia ikut andil dalam pembentukan karakter putri satu-satunya itu. Akhirnya Anton berusaha mencairkan suasana.


Lelaki tersebut mengajak mereka semua untuk duduk di meja makan menikmati hidangan yang sudah dimasak oleh Sumi. Yuan melayani sang suami penuh keikhlasan. Mereka makan dalam suasana akrab.


"Ini masakan Mbok Sumi?" tanya Andri.


"Iyalah, siapa lagi? Wong ibumu dari dulu kan nggak hobi masak!" jawab Anton santai.


Sedetik kemudian sebuah injakan mendarat di ujung jari Anton sehingga membuat dia mengaduh. Sontak Anton menoleh ke arah Drini yang menatap tajam sambil komat-kamit. Sementara itu, Yuan tersenyum canggung.


Pada akhirnya kebohongan Yuan dan Drini mengenai masakan yang biasa dimakan Andri terbongkar sudah. Tawa Andri pun pecah. Sebenarnya sejak awal dia sudah tahu kalau ibunya berbohong.


Andri memang memiliki indra perasa yang sangat sensitif. Hanya dengan sekali mencicipi makanan, Andri akan hafal. Termasuk ketika dia memakan masakan Yuan untuk pertama kali.


"Sudahlah, aku sudah tahu semuanya."


Ucapan Andri membuat semua yang ada di meja makan menoleh ke arahnya. Bahu Yuan merosot karena merasa bersalah telah membohongi Andri selama ini. Begitu juga dengan Drini.


"Maaf, Mas. Selama ini aku dan ibu sudah membohongi Mas Andri soal masakan yang selalu dibawa ibu ke kamar."

__ADS_1


"Maaf? Setelah ini, aku akan menghukummu!" seru Andri sambil menyipitkan mata.


Yuan langsung mendongak. Dia terbelalak dan menelan lidah kasar karena mendengar ucapan sang suami. Yuan sedang memikirkan hukuman apa yang sudah menantinya setelah ini.


__ADS_2