Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh

Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh
Bab 26. Kabur


__ADS_3

"Pak, kenapa Bapak nggak tanya apa alasan Riana melakukan hal itu?" tanya Riana dengan suara bergetar.


Anton terdiam. Dia sebenarnya tidak peduli dengan alasan apa yang membuat Riana melakukan hal jahat itu kepada Yuan. Apa pun alasannya Anton tidak mau membenarkan tindakan dari sang putri.


Mengira sang ayah merasa bersalah karena diam, Riana malah mengungkapkan alasannya mendorong Yuan. Anton mendengarkan semuanya sambil menahan amarah. Ketika Riana mengakhiri ucapannya dengan nada tinggi, Anton tidak tahan lagi dengan sikap sang putri.


Sebuah tamparan keras kini mendarat di pipi Riana. Wajah Riana sampai berpaling. Dia menoleh menatap Anton penuh rasa kecewa dan amarah.


"Ri, kamu salah sangka! Bapak, ibu, sama masmu nggak pernah mengabaikanmu! Kasih sayang kami nggak pernah berkurang meski Yuan ada di sini! Itu cuma perasaanmu saja!" geram Anton.


Riana seakan tuli. Dia justru kembali berteriak histeris. Tangisnya pun pecah seketika.


"Bapak jahat! Mulai hari ini Riana bukan lagi putri Bapak!" Riana balik kanan kemudian berlari keluar dari ruang kerja Anton.


Drini yang menangkap kegaduhan dari ruang kerja sang suami pun menyusul. Dia menanyakan apa yang terjadi, tetapi Anton bungkam. Tak lama berselang terdengar suara pintu yang dibanting dengan keras.


Drini pun keluar dari ruang kerja untuk mengejar Riana yang sudah menuruni anak tangga sambil membawa koper. Sementara itu, Anton menyapu meja kerjanya menggunakan lengan. Semua barang pun berhamburan ke atas lantai.


Riana pergi dengan menaiki taksi online. Dia mendatangi rumah Burhan. Ketika Burham membuka pintu, lelaki itu terbelalak dan tampak gugup.


"Mas, aku nginep di sini, ya? Aku berantem sama bapak."


"Ah, i-itu ...." Burhan tampak gugup ketika hendak menjawab pertanyaan Riana.


Tak lama berselang, keluar seorang perempuan muda keluar dari dalam rumah. Riana yang baru pertama kali melihat perempuan itu pun mengerutkan dahi. Hatinya langsung terbakar.


"Dia siapa, Mas?" tanya perempuan itu.

__ADS_1


***


Di sisi lain, Drini menangis sesenggukan karena mengetahui fakta bahwa Anton baru saja memukul putrinya. Anton berulang kali mengungkapkan rasa penyesalan. Dia mengaku sudah bersalah karena sudah main tangan terhadap Riana.


"Sudah, Pak. Nggak apa-apa. Andri paham kenapa Bapak bisa semarah itu." Andri mengusap punggung Anton untuk menenangkan sang ayah.


"Dia sekarang ke mana, Pak? Kita harus cari di mana?" tanya Drini di antara isak tangis.


"Andri yakin Riana ada di rumah Burhan, Bu. Riana selama ini tidak benar-benar memiliki teman."


Tak lama kemudian, Yuan keluar dari kamar. Dia mendekati Andri kemudian membisikkan sesuatu kepada sang suami. Andri mengangguk beberapa kali, kemudian mengembuskan napas lega.


"Ada apa?" tanya Drini.


"Ah, begini, Bu. Yuan bilang dia tahu Riana ada di mana."


"Riana ada di rumah Burhan, Pak, Bu. Tadi adik Mas Burhan telepon Yuan."


Kini Drini dan Anton saling menatap. Tak lama berselang, mereka memandang Yuan secara bersamaan. Yuan menatap Andri seakan meminta persetujuan dari sang suami.


"Yuan akrab dengan Dewi, adik Mas Burhan."


Mereka bertiga tidak bertanya lebih lanjut. Paling tidak mereka semua sekarang tahu keberadaan Riana. Jadi, keluarga tersebut bisa sedikit lebih tenang.


"Kita ajak Riana pulang setelah memastikan dia sedikit lebih tenang," ucap Anton.


Mereka pun akhirnya benar-benar menunggu Riana tenang. Tiga hari kemudian bel rumah kediaman Ismoyo berdenting. Yuan yang awalnya sedang makan malam bersama memutuskan untuk membuka pintu.

__ADS_1


Begitu pintu terbuka, Yuan mengerutkan dahi. Riana sudah berdiri di depan pintu bersama Dewi dan Burhan. Riana melewati tubuh Yuan begitu saja dan dengan sengaja menabrakkan bahunya ke bahu Yuan.


Burhan pun melewati Yuan dan berlenggang santai memasuki rumah. Lain halnya dengan Riana dan Burhan, Dewi justru tampak berkaca-kaca. Dia langsung memeluk Yuan dan menangis sesenggukan.


"Kok Mbak Yuan nggak bilang kalau udah purus sama Mas Burhan?"


"Ceritanya panjang, Wi. Ayo masuk dulu!" Yuan melepaskan pelukan Dewu kemudian menggandengnya dan mengajak gadis tersebut ke taman belakang.


Yuan pun mulai menceritakan semuanya kepada Dewi. Dia menceritakan semuanya secara jujur tanpa mengurangi dan menambahi. Dewi benar-benar tidak menyangka kalau Burhan setega itu terhadap Yuan.


"Mas Burhan bilang kalau Mbak Yuan yang meninggalkannya lebih dulu dan menikah dengan orang yang lebih kaya! Jahat banget Mas Burhan! Bapak sama ibu juga nggak ngomong apa-apa soal ini ke Dewi!"


"Mungkin mereka memiliki pertimbangan lain, Wi. Kamu juga tahu sendiri kalau ibu dari dulu nggak suka sama alu, 'kan?" Yuan tersenyum kecut mengingat sulitnya menjalin hubungan dengan Burhan.


Hubungan keduanya memang terhalang restu karena status ekonomi. Yuan selalu dipandang sebelah mata oleh ibu Burhan. Dia selalu mendapatkan perlakuan buruk dari ibu Burhan.


"Wi, boleh nggak aku minta tolong sesuatu dari kamu?" Yuan menggenggam jemari Dewi.


Dewi pun mengangguk mantap. Yuan menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Dia antara yakin dan ragu dengan apa yang hendak diucapkan.


Namun, setelah berpikir sejenak, akhirnya Yuan mengungkapkan apa yang menjadi ganjalan hatinya. Yuan meminta kepada Dewi untuk merahasiakan bahwa dia dan Burhan pernah menjalin hubungan. Dia tidak ingin keluarga Ismoyo tahu dan berpikiran buruk tentangnya.


"Sebentar lagi aku sama Mas Andri akan keluar dari rumah ini. Aku nggak mungkin bisa tinggal satu atap dengan mas Burhan. Bukan karena masih cinta. Tapi, aku takut dia berbuat hal buruk kepadaku!" Tubuh Yuan gemetar karena teringat dengan perlakuan Burhan kepadanya ketika terakhir kali bertemu.


"Baik, Mbak. Mbak Yuan ...." Ucapan Dewi menggantung di udara karena keduanya menyadari kehadiran orang lain yang mendekat.


"Oh, jadi itu alasanmu minta pindah dari rumah ini!"

__ADS_1


__ADS_2