Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh

Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh
Bab 27. Nikah Dadakan


__ADS_3

Yuan sontak menoleh ke arah sumber suara. Andri sudah ada di taman dengan jarak yang lumayan dekat. Lelaki tersebut menatap dingin dua perempuan yang kini sedang terperanjat.


Embusan angin ditambah tatapan dingin dari Andri semakin membuat tulang Yuan seakan ditusuk. Dia gemetar karena tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Yuan telah memasrahkan semuanya kepada Tuhan.


"Mas," ucap Yuan dengan suara lirih hampir tidak terdengar.


Andri menggerakkan lengan untuk memutar roda. Ketika sampai tepat di depan Yuan, tiba-tiba Andri merentangkan tangan. Penglihatan Yuan mulai buram karena air mata.


"Ayo sini, peluk Mas dulu!" perintah Andri.


Tanpa berpikir panjang, Yuan langsung berjalan cepat dan menghambur ke pelukan Andri. Tangisnya pecah seketika. Rasa sesal kini memenuhi dada Yuan.


Seharusnya Yuan memang mengatakan semuanya. Selain ingin hidup mandiri, sebenarnya dia takut Burhan kembali melecehkannya seperti ketika terakhir bertemu. Andri menepuk lembut punggung sang istri.


Setelah tangis Yuan sedikit tenang, Andri melepaskan pelukan. Dia mengusap sisa tangis sang istri dengan ujung jemarinya. Andri juga mendaratkan sebuah kecupan penuh kasih pada puncak kepala Yuan.


"Setelah ini, kamu bisa menceritakan semua. Aku akan menerima semuanya. Toh, sekarang kamu hanya mencintaiku seorang, bukan?" tanya Andri sambil merangkum wajah mungil Yuan.


Yuan pun mengangguk lembut. Andri membelai rambut Yuan, lalu tersenyum lebar. Dia kembali memeluk tubuh sang istri sekilas, lalu melepasnya lagi.


"Kalau begitu, besok kita langsung cari rumah dan segera pindah. Nggak perlu nunggu Riana selesai melangsungkan pernikahan."


Yuan benar-benar terharu. Dia akhirnya menghambur ke pelukan sang suami. Keduanya hampir saja berciuman kalau Dewi tidak berdeham.


Mereka lupa, bahwa ada sepasang mata lain yang menyaksikan kebucinan mereka. Ada sepasang telinga lain yang mendengar kalimat penuh cinta yang mereka ucapkan.


Yuan akhirnya tersenyum canggung. Dia langsung mendekati Dewi dan menggandeng lengan adik Burhan tersebut. Dewi mengerucutkan bibir sambil membuang muka.


"Maaf, Wi. Aku lupa kalau kamu masih ada di sini!"


"Nggak, nggak, nggak! Aku ngambek!" rajuk Dewi.


"Ayolah, aku minta maaf, Wi. Ya, ya? Kamu mau apa? Nonton, makan di mana? Atau mau liburan ke Bonbin Surabaya?"

__ADS_1


"Bonbin! Dipikir aku anak TK!" gerutu Dewi.


Ekspresi wajah Dewi mendadak berubah. Kini sebuah senyum lebar terukir di bibirnya. Dia meraih jemari Yuan kemudian mengusapnya lembut.


"Mbak, aku ikut senang dengan apa yang kamu dapatkan sekarang. Aku senang, Mbak Yuan dapat lelaki yang lebih baik dan sayang daripada Mas Burhan. Bahagia selalu, ya, Mbak!" Dewi memeluk Yuan untuk mengekspresikan kebahagiaannya.


Yuan pun tersenyum lebar di balik punggung Dewi. Setelah itu, mereka bertiga berjalan ke ruang tengah. Ketika sampai di sana, suasana terlihat tegang.


Riana menunduk dengan jemari menggenggam erat lengan Burhan. Burhan pun menunduk penuh penyesalan. Sementara itu, Drini terlihat menangis sesenggukan di samping Anton yang wajahnya tampak merah padam.


"Kenapa, Pak? Kelihatannya tegang sekali?" tanya Andri ketika sudah sampai di dekat sang ayah.


Anton mengusap wajah kasar. Dia mengangkat lengan kemudian mengarahkan jari telunjuknya kepada Riana. Urat sekitar mata lelaki tersebut tampak tegang.


"Tanya saja sama adik kesayanganmu itu!" Anton mengusap wajah kasar, lalu mengempaskan punggung pada sandaran sofa.


"Ada apa, Ri?" tanya Andri dengan nada setenang mungkin.


"Aku cuma hamil, Mas," jawab Riana enteng.


"Ya Tuhan, Ri! Kamu bilang cuma? Astaga! Kowe kuwi wong wadon model piye!" teriak Andri frustrasi.


"Lagi pula sebentar lagi kami menikah."


"Udah nggak punya malu kamu, Ri!"


Andri mengusap wajah kasar. Setelah itu tatapannya kini beralih pada Burhan. Andri menatap tajam calon adik iparnya itu.


"Burhan! Kamu juga lelaki nggak punya otak! Kamu punya adik perempuan, bagaimana bisa kamu menghamili anak orang!" seru Andri dengan nada tinggi.


"Lagi pula kami memang mau menikah, Mas. Aku juga nggak akan lari, kok. Aku tetap bertanggung jawab."


"Bukan masalah menikah atau nggak, goblok! Ini soal menjaga kehormatan calon istrimu! Sekarang gini deh, gimana kalau Dewi dihamili pacarnya? Kamu nggak masalah sama itu? Ha! Aku rasa ada yang salah dengan kepalamu!" geram Andri sambil menepuk keras dahinya sendiri.

__ADS_1


"Sudah, perseteruan ini nggak akan berakhir. Kalian harus menikah secepatnya! Bapak akan memajukan acara pernikahan kalian!"


Riana tersenyum puas, begitu juga dengan Burhan. Keduanya saling tatap kemudian Riana memeluk tubuh kekasihnya itu. Apa yang mereka inginkan akhirnya terkabul.


"Ah, ya. Bagaimana dengan pestanya, Pak? Aku mau ...." Ucapan Riana mengambang di udara karena tiba-tiba Anton menggebrak meja.


"Gusti, Ri! Kamu masih mikirin masalah pesta? Nggak! Bapak nggak mau mengadakan pesta untuk pernikahan kalian! Bapak hanya akan menikahkan kalian sebagaimana mestinya agar sah di mata hukum!"


"Bapak tega, ya, sama Riana! Bapak jahat!" Tangis Riana kembali pecah.


"Bapak nggak akan begini kalau kamu sabar! Bapak akan mengadakan pesta besar dengan upacara adat lengkap kalau kamu mampu mempertahankan kehormatanmu! Bapak rasa bisa menikah secara sah di mata hukum sudah cukup! Kalau kamu mau pesta, adakan sendiri sana!" Anton beranjak dari sofa kemudian melangkah ke kamar disusul oleh Drini.


Keesokan harinya Anton meminta asistennya untuk mengurus berkas-berkas dan mendaftarkan pernikahan Riana. Sesuai dengan apa yang dia katakan, Anton benar-benar tidak ingin mengadakan pesta untuk Riana. Dia melakukan hal itu sebagai hukuman untuk Riana.


Riana yang enggan mengeluarkan uang lebih pun akhirnya hanya bisa menerima keputusan sang ayah. Dia memilih untuk bulan madu ke Thailand bersama Burhan. Mereka berencana liburan selama satu bulan penuh.


Sementara Riana bulan madu, Yuan dan Andri sibuk mencari rumah yang cocok dengan keinginan mereka berdua. Di tengah diskusi keduanya, Drini meminta izin untuk menyampaikan pendapat. Drini berusaha mengungkapkan apa yang menjadi ganjalan di hatinya, meskipun ragu.


"Boleh ibu minta sesuatu sama kalian?"


Yuan dan Andri saling menatap, lalu kembali menoleh ke arah Drini. Mereka mengangguk bersamaan. Drini menarik napas panjang, lantas mengembuskannya kasar.


"Cari rumah di dekat sini saja, ya? Biar kalau ibu kangen, nggak harus jauh-jauh pergi keluar rumah. Apalagi nanti kalau punya cucu. Ibu pengen kekep dia terus!" ujar Drini sehingga membuat keduanya salah tingkah.


Jika diingat lagi, memang keduanya belum sempat melakukan hubungan suami istri. Mereka terlalu sibuk dengan masalah yang datang silih berganti. Andri dan Yuan saling sikut sebagai isyarat agar menjawab ucapan Drini.


Akhirnya Andri mengalah. Dia menarik napas sebelum akhirnya memberikan pengertian kepada sang ibu mengenai cucu yang sudah diidam-idamkan. Saat baru saja hendak membuka suara, tiba-tiba bel rumah berbunyi.


Sumi yang awalnya ada di dapur berlari untuk membukakan pintu. Tak lama berselang, dia menemui Drini. Sumi terlihat meremas daster berulang kalo dengan tatapan yang tidak fokus.


"Siapa, Mbok?"


"I-itu, anu ... yang datang ....".

__ADS_1


__ADS_2