Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh

Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh
Bab 23. Hukuman untuk Yuan


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 13:00 ketika Yuan masuk ke dalam kamar mandi. Dia membersihkan tubuh yang terasa lengket. Dia berendam di dalam air hangat sambil memikirkan hukuman apa yang akan dia terima dari Andri.


Yuan bergidik ngeri ketika mengingat bagaimana sikap temperamen sang suami. Yuan terus memikirkan banyak kemungkinan buruk yang akan dia terima. Entah itu bentakan, pukulan, atau cacian dari sang suami.


"Astaga, apa yang harus aku lakukan? Seharusnya sejak awal aku tidak berbohong kepada Mas Andri. Seharusnya terserah saja dia mau makan atau tidak makanan yang aku masak. Untuk apa aku berbohong?" Yuan menyandarkan kepala pada tepi bak mandi.


Kini Yuan menenggelamkan tubuhnya hingga sebatas hidung. Sekarang hanya matanya saja yang terlihat. Ketika Yuan hendak menenggelamkan seluruh kepalanya, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka lebar.


Yuan memang terbiasa untuk tidak mengunci pintu kamar mandi. Dia terbelalak ketika Andri mulai masuk sambil menatapnya garang. Perempuan tersebut langsung menyilangkan lengan di depan dada.


"Mas, Mas Andri, ngapain ke sini? Ke-keluar dulu sana! Aku belum selesai mandi!" usir Yuan.


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Andri. Dia terus memutar roda dan mendekati bak mandi. Tatapan lelaki tersebut terlihat tajam seperti elang yang hendak mencengkeram mangsanya.


"Mas, mundur!" seru Yuan dengan suara bergetar.


"Aku mau kasih kamu hukuman!" ujar Andri dengan rahang mengeras.


Andri perlahan melepas kemeja yang dipakai. Kini lengan Yuan berpindah tempat. Dia langsung menutup wajah karena tidak ingin menatap tubuh polos sang suami.


Yuan takut nantinya akan tergoda dan justru bersikap seperti wanita murahan. Meski keduanya suami istri, Yuan tidak mau tampak terlalu memuja sang suami. Dia ingin mengubah keadaan agar sekarang Andri yang terus berusaha mendekati bukan dirinya lagi.


Yuan merasa lengannya disentuh oleh Andri. Lelaki tersebut memindahkan lengan Yuan agar tidak lagi menutupi wajahnya. Namun, Yuan tetap menutup rapat mata karena mengira Andri sedang tidak menggunakan sehelai benang pun.


"Hei, buka matamu!" perintah Andri.


"Nggak! Pakai dulu pakaian Mas Andri! Baru aku mau buka mata!" ujar Yuan.


"Aku balik kanan, lalu pakailah handukmu! Aku mau memintamu untuk menggosok punggungku." Andri tersenyum jahil ketika mendapati mata Yuan tidak lagi tertutup rapat.

__ADS_1


Perlahan Yuan membuka mata. Dia menggaruk kepala seraya tersenyum canggung. Ternyata suaminya masih memakai celana pendek dan hanya bertelanjang dada.


"Ya sudah, sana Mas Andri balik kanan!" pinta Yuan.


Andri pun mulai memutar kursi rodanya sehingga kini menatap dinding kamar mandi. Yuan melirik bagian bawah tubuhnya. Dia mengembuskan napas lega karena ternyata tubuhnya tertutup oleh busa yang dihasilkan oleh sabun.


Yuan akhirnya meraih jubah handuk yang tergantung di dekat bak mandi. Setelah membalut tubuh menggunakan benda itu, Yuan berjalan pelan ke arah Andri. Dia menatap tajam suaminya yang kini sedang tersenyum jahil.


"Mas Andri kenapa nggak ketok pintu dulu?" Yuan menyipitkan mata sambil bersedekap.


"Lah, memangnya harus? Kita kan suami istri?"


"Ya memang begitu, tapi ...." Ucapan Yuan menggantung di udara.


"Tapi apa?"


Pipi Yuan kini merah merona. Dia mengalihkan tatapan dari sang suami untuk meredakan rasa malu. Sementara itu, Andri terkekeh.


"Sudah, sekarang belajar untuk terbiasa bersama. Bukankah tujuan sebuah pernikahan adalah untuk terus bersama dalam suka dan duka?"


Yuan mengangguk pelan, kemudian kembali mengangkat dagu. Dia memandang sendu sang suami yang kini menatapnya penuh arti. Keduanya saling bertatapan selama beberapa waktu.


Sampai akhirnya Andri berdeham dan mengalihkan pandangan. Yuan yang gugup pun memalingkan wajah. Sedetik kemudian, Andri mengulurkan batu apung legendarisnya kepada Yuan.


"Batu ini buat apa?" tanya Yuan sambil menunjuk batu yang ada dalam genggaman sang suami.


"Kamu harus menerima hukuman dariku karena sudah berbohong mengenai masakan itu." Andri menyipitkan mata ditanggapi dengan senyum kecut oleh Yuan.


"Kamu harus melayaniku 24 jam selama seminggu. Aku mau jadi rajamu!" Andri mendongak congkak seraya menepuk dada jemawa.

__ADS_1


"Dih, biasanya selalu menolak bantuanku! Kenapa sekarang mau aku melayanimu? Menjilat ludah sendiri!" gerutu Yuan tanpa rasa takut sedikit pun.


Bukannya marah, Andri justru terkekeh. Apa yang dikatakan Yuan memang tidak salah. Dia sudah menjilat ludah sendiri karena apa yang dia pikirkan mengenai Yuan semuanya salah.


Bahkan sebentar lagi mungkin dia akan melanggar janji yang mengatakan bahwa akan menjadikan ranjangnya tetap dingin. Andri mengusir pikiran kotor mengenai aktivitas ranjang dengan melemparkan pelan batu ringan itu ke arah Yuan.


Beruntungnya Yuan berhasil menangkap batu tersebut. Dia mengamati batu dengan permukaan kasar serta memiliki banyak rongga itu. Akhirnya Yuan kembali menatap sang suami dengan dahi berkerut.


"Gunakan batu itu untuk menggosok punggungku! Rasanya punggungku menebal karena banyak kotoran yang menempel di sana," ucap Andri sambil menunjuk bagian belakang tubuhnya menggunakan jempol.


Yuan pun melangkah ke arah punggung sang suami. Dia mulai menggerakkan lengannya untuk menggosokkan batu ke punggung Andri. Andri memejamkan mata karena memang sudah lama kesulitan saat membersihkan tubuh bagian belakangnya itu.


Keduanya hanya diam ketika melakukan aktivitas tersebut. Tangan Yuan yang awalnya gemetar, kini mulai terbiasa melakukan kontak fisik dengan sang suami. Setelah selesai menggosok punggung Andri, Yuan menyiramnya dengan shower sehingga kotoran yang menempel rontok.


"Rasanya bersih, makasih, Sayang." Andri mengecup punggung tangan Yuan berulang kali.


Yuan pun tersipu malu. Dia akhirnya berpamitan untuk keluar kamar mandi lebih dulu. Andri pun mengiyakan.


Lelaki tersebut menyadari kalau membutuhkan waktu bagi Yuan untuk terbiasa berdua dengannya. Memang sejak awal dia bersalah telah menolak semua usaha Yuan untuk mendekati dan melayaninya. Kali ini Andri harus menjadi pihak yang mendekati Yuan.


Andri berniat untuk terus melakukan pendekatan dan mencurahkan perhatian serta kasih sayang kepada sang istri. Dia berharap sang istri segera tersentuh dan mau menjalani kehidupan rumah tangga seutuhnya bersama.


"Aku sudah selesai ...." Andri menghentikan ucapan ketika melihat keadaan kamar sudah sunyi dan cahaya menjadi remang-remang.


Yuan sudah tertidur pulas di atas sofa seperti biasa. Andri mengganti pakaian sebelum akhirnya memutar kursi mendekati Yuan. Dia berhenti tepat di samping Yuan dan melemparkan tatapan sendu.


Hampir sepuluh menit Andri berdiam diri mengamati istri kesayangannya itu. Rasa bersalah kembali menyelubungi hati Andri. Dia menatap kaki dengan otot yang terus mengecil setiap harinya.


"Andaikan aku memiliki kondisi tubuh yang normal, pasti aku sudah memindahkanmu ke ranjang, Yuan. Maaf karena tidak bisa menjadi suami yang sempurna untukmu," ucap Andri dengan suara bergetar sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


__ADS_2