Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh

Menjadi Pengantin Dokter Lumpuh
Bab 24. Adik yang Cemburu


__ADS_3

Yuan merasa kesulitan bergerak ketika kembali terjaga sore itu. Perlahan dia membuka mata. Alangkah terkejutnya Yuan ketika melihat Andri sedang memeluk erat tubuhnya dan menyusul tidur siang di atas sofa.


Yuan tersenyum lembut seraya menatap sang suami yang menurutnya bersikap begitu manis. Andri terlihat sangat tenang dan menawan ketika tidur. Awalnya Yuan berniat untuk segera bangun untuk menyiapkan makan malam.


Namun, melihat sang suami yang tampak kelelahan, Yuan mengurungkan niatnya. Dia memilih untuk tetap diam dan menunggu sang suami sampai terbangun. Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya Andri mulai menggeliat.


"Sore, Pak! Bagaimana tidurnya? Nyenyak?" tanya Yuan dengan senyum mengembang.


Andri sontak membuka mata lebar. Dia ikut tersenyum, kemudian mengecup puncak kepala sang istri. Andri berusaha bangun dibantu oleh Yuan.


"Bagaimana nggak nyenyak? Di sampingku ada bidadari yang begitu cantik dan wangi!" Andri berusaha memuji Yuan agar istrinya tersebut bahagia.


"Aku mau ke dapur dulu buat masak. Mas Andri mau makan apa?"


"Apa saja asal jangan seafood." Andri tersenyum lembut sambil menyelipkan anak rambut Yuan ke belakang telinga.


Yuan menyatukan ujung jempol dan telunjuknya membentuk tanda OK. Setelah Andri mendaratkan ciuman pada pipinya, dia pun bergegas turun dari sofa dan berjalan ke arah dapur. Perempuan tersebut dengan cekatan memasak untuk semua orang.


Jam menunjukkan pukul 18:00 ketika keluarga Ismoyo makan malam. Sedikit canda tawa menyelimuti mereka. Semua tertawa riang dan saling melemparkan gurauan.


Hanya satu orang yang kesulitan untuk tertawa bahkan hanya untuk sekedar tersenyum. Siapa lagi kalau bukan Riana. Dia benar-benar tidak suka semua anggota keluarganya tampak akrab dan suka kepada Yuan.


"Hei, Ri!" panggil Andri dengan nada ramah.


Riana pun yang awalnya menatap tajam Yuan kini mengalihkan pandangan kepada Andri. Andri pun menyipitkan mata. Riana semakin kesal sekarang.


Riana merasa kehilangan perhatian dari kakaknya tersebut. Dia cemburu kepada Yuan. Sebuah rasa cemburu yang tidak seharusnya.


"Ri, kamu itu sebenarnya ada masalah apa sih sama mbakmu?" tanya Andri dengan nada dingin.


"Mbak yang mana, ya? Aku nggak punya mbak, tuh!" Riana meletakkan sendoknya ke atas piring secara kasar sehingga menimbulkan suara keras.

__ADS_1


Melihat tingkah Riana membuat Anton ikut turun tangan. Dia berdeham, kemudian mengusap bibirnya menggunakan tisu. Lelaki tersebut menatap tegas putri satu-satunya itu.


"Ri, makanlah dengan benar. Jangan pernah membuat kericuhan saat bersama dengan keluarga!" tegur Anton.


"Riana udah nggak napsu makan, Pak!" Riana memundurkan kursi, lalu berlari ke arah anak tangga.


"Riana!" panggil Drini.


Riana mengabaikan teriakan sang ibu. Dia terus menaiki anak tangga dengan langkah cepat. Drini hendak menyusul sang anak, tetapi Anton mencegahnya.


"Biarin aja, Bu! Biar dia menenangkan dirinya sendiri. Dia sudah dewasa, jadi seharusnya dia memiliki pikiran layaknya orang dewasa pada umumnya."


Begitu kalimat itu keluar dari bibir Anton, Drini pun tidak bisa berkutik. Dia hanya menjawab nasehat Anton dengan anggukan. Sementara itu Andri dan Yuan saling menatap.


Andri menggenggam jemari sang istri kemudian mengusapnya penuh cinta. Yuan tersenyum tipis kepada Andri. Meski kesal dengan tingkah Riana, Yuan tidak boleh terpancing emosi.


"Maafkan Riana, ya? Kamu harus banyak-banyak bersabar ketika menghadapinya." Andri memindahkan jemarinya dari punggung tangan Yuan ke puncak kepala sang istri.


Andri benar-benar merasa beruntung memiliki istri sesabar Yuan. Dia berjanji dalam hati untuk terus membuat istrinya itu tersenyum. Cukup sudah perlakuan buruk yang dia berikan kepada Yuan.


Sejak hari itu, Riana benar-benar semakin menjauh. Dia tidak mau lagi duduk satu meja dengan Yuan ketika makan. Terkadang Yuan dan Andri memilih untuk makan di kamar ketika Riana ada di rumah.


Mereka melakukan hal itu karena ingin memberikan waktu kepada Riana dan kedua orang tuanya untuk menikmati waktu bersama. Yuan dan Andri melakukan hal itu bukan karena benci kepada Riana. Mereka hanya ingin Riana tidak berpikir bahwa Yuan telah menggeser posisinya sebagai putri satu-satunya.


"Aku mau antarkan kopi ke ruang kerja bapak dulu, Mas." Yuan yang awalnya berdiri di dapur pun berpamitan kepada Andri.


"Iya, aku mau rebahan dulu di kamar. Nanti langsung susul aku di kamar, ya?" goda Andri sembari menaik-turunkan alisnya.


Yuan tersenyum geli, lalu berjalan ke arah anak tangga. Dia mengetuk pintu dan baru masuk setelah diizinkan oleh Anton. Yuan pun segera keluar dari ruang kerja Anton usai meletakkan cangkir kopi ke atas meja.


Ketika keluar dari ruang kerja Anton, Riana juga keluar dari kamarnya. Keduanya saling melemparkan tatapan sinis. Yuan berusaha mengabaikan Riana, tetapi tiba-tiba adik iparnya itu menghadang.

__ADS_1


"Berhenti!" teriak Riana.


Mau tidak mau Yuan pun menghentikan langkah. Dia balik kanan, kemudian menatap sinis ke arah sang adik ipar. Riana terus memperpendek jaraknya dengan Yuan.


Ketika berada tepat di depan Yuan, tiba-tiba perempuan itu mendorong dadanya. Yuan pun kehilangan keseimbangan. Akan tetapi, dia berhasil berpegangan pada terali tangga.


Merasa apa yang dilakukannya gagal, Riana tidak berhenti begitu saja. Dia mendekati Yuan yang berusaha mengembalikan keseimbangan. Tanpa rasa kasihan sedikit pun dia melepaskan tangan Yuan dari terali secara paksa.


"Riana! Kamu jahat banget!" seru Yuan ketika tangannya terlepas dari terali.


Tuan terus menggerakkan tangan berharap mendapat benda lain yang bisa diandalkan untuk menopang berat tubuhnya. Ternyata usahanya berhasil. Yuan dapat meraih kemeja Riana.


Namun, sialnya sekarang Riana yang kehilangan keseimbangan. Dua perempuan tersebut akhirnya berguling pada tangga dan berakhir di atas lantai. Yuan masih sadar, tetapi Riana memejamkan mata.


Yuan bergegas bangkit dengan tubuh yang terasa remuk redam. Dia mendekati Riana sambil menggoyangkan tubuh sang adik ipar. Akan tetapi, Riana tidak merespons.


"Mas Andri, tolong!" teriak Yuan dengan wajah panik dan mata berkaca-kaca.


Mendengar teriakan keras dari Yuan, Andri pun bergegas keluar dari kamar. Bukan hanya Andri, tetapi Anton, Drini, serta Sumi pun berlari ke arah Yuan dan Riana.


"Apa yang terjadi?" tanya Anton sambil mengecek kondisi putrinya secara hati-hati.


"Kami terjatuh dari tangga, Pak." Suara Yuan bergetar karena masih terkejut dengan apa yang baru saja dia alami.


"Kok bisa, gimana ceritanya?" tanya Drini panik.


"Ta-tadi, Riana ...." Ucapan Yuan menggantung di udara karena Riana mulai bergerak dan membuat fokus semua orang beralih kepadanya.


"Liana, bagian mana yang sakit?" tanya Anton begitu melihat Riana tersadar.


Riana melirik Yuan dan perlahan air matanya langsung mengalir deras. Drini mendekati sang putri, kemudian memeluknya erat. Dia berusaha menenangkan Riana.

__ADS_1


__ADS_2