
"Hah?" Leo tambah heran.
...----------------...
"Hahah, Leo kau sudah latihan dari tadi kan?" Zen mengalihkan sambil memberi isyarat pada Rian.
"Oh, benar juga. Ayo istirahat!" Rian yang setuju membantu.
Saat ini Leo sedang istirahat latihan, suasana saat ini sangat menegangkan. Mereka memandang dengan sinis satu sama lain, Leo yang berada ditengah mereka merasa terancam.
'Apa-apaan, ini yang namanya istirahat?' Kesal Leo dalam hati.
'Udah ah gua mau pulang aja!' Lanjutnya dalam hati.
"Ah, sudah jam segini. Lebih baik kita sudahi, nanti jadwal latihan selanjutnya..." Ucapan Leo terpotong.
"Di istana, aku akan mempersiapkan tempat latihannya." Zen memotong ucapan Leo.
"Tapi rasanya kurang pas jika latihan di istana! Bukan begitu Leo?" Kata Rian.
"Tapi lebih enak di istana, lebih luas!" Balas Zen.
Mereka berdua terus-terusan mengeluarkan tatapan maut, Juga beradu mulut kembali. Leo berasa terkucilkan, dan dia sudah kesal karena adu mulut kedua orang itu.
__ADS_1
"BISAKAH KALIAN DIAM!!!" Teriak Leo kesal.
Zen dan Rian langsung terdiam sendirinya karena kaget, dan orang-orang yang ikut dengan putra mahkota, yang tadi hanya bisa melihat pertengkaran mereka juga ikut-ikutan kaget.
"Huft', kalian terlalu berisik tau gak!! Kalian lihat tuh banyak orang yang lihat, kalian gak malu hah?!!" Leo marah-marah kepada mereka berdua, mereka hanya menunduk seperti anak kecil yang dimarahi maknya.
"Untuk latihan tetap ditempat Rian, putra mahkota boleh datang dan melihat. Tapi kalian tak boleh bertengkar seperti ini, kalian itu kaya anak kecil tau!!!" Lanjut Leo kesal.
Kata-kata Leo seakan menggema di pikiran mereka.
(Kaya anak kecil)
(Kaya anak kecil)
(Kaya anak kecil)
"Huh, bukannya anda yang memulai!" Balas Rian.
"APA KATAMU!!!" Kata Zen tak terima.
"Bukannya itu kenyataannya!" Kata Rian sambil membuang muka.
Merekapun melanjutkan pertengkaran KAYA ANAK KECIL mereka sampai-sampai kuping Leo panas, dia benar-benar kesal sekarang.
__ADS_1
Leo berjalan dan berhenti dibelakang mereka berdua, Leo memasang muka seram dan juga mengintimidasi.
Mungkin mereka merasakan dingin dipunggung mereka, dan begitu mereka menengok kebelakang ada Leo dengan senyum kesal dan mengerikan menatap mereka.
Mereka bergidik ngeri dan tiba-tiba merinding, yang ada dipikiran mereka hanya (Jangan pernah membuat Leo marah lagi, bisa jadi nyawa mereka melayang karena ketakutan). Karena mereka memikirkan itu, mereka tak merasakan tangan Leo yang menancap di kuping mereka. Leo menarik kuping mereka sampai mereka memekik kesakitan, masih dengan senyum seram itu diwajahnya.
"Heh, dimana semangat berantem kalian tadi hah?!!" Kata Leo dengan geram masih menarik telinga mereka.
"AAAHHHHHH!!!... MAAFKAN KAMI, KAMI TAK AKAN MENGULANGI LAGI. TOLONG LEPASKAN KAMI MOHON!" Kata mereka serempak.
Leo melepaskan mereka, mereka diam sambil menundukkan kepala mereka kembali. Leo masih kesal dan hanya menatap mereka dengan mengerikan, walaupun Leo hanya diam tapi mereka yakin kalau Leo sekarang masih benar-benar marah. Kalau ada yang bersuara sedikit saja, mungkin dapat membangkitkan kemarahan yang lebih besar lagi dari Leo, makanya mereka lebih memilih diam.
"Sudah bisa diam sekarang?" Tanya Leo penuh penekanan.
Mereka masih takut bersuara, keduanya yang diam juga tetap membuat Leo kesal.
"KOK DIAM!!!... GAK BISA JAWAB?! KALIAN KETAKUTAN?! HAH!!!" Leo masih dengan kesal.
Mereka kaget dan refleks menjawab: "YA, SUDAH BISA."
"BARU JAWAB HUH?!!! KALIAN ITU MAUNYA DITERIAKIN BARU MAU DENGAR?!!!" Kesal Leo.
Mereka berdua diam dan menunduk.
__ADS_1
"Jangan ulangi lagi lain kali, KALIAN PAHAM!!!" Kata Leo dengan penekanan "kalian paham".
"BAIK, TIDAK AKAN LAGI!!!" Refleks mereka serempak.