Menjadi Putra Duke? (Novel BL)

Menjadi Putra Duke? (Novel BL)
Latihan


__ADS_3

"tu kan gua jadi sawan ngomong sendiri, ntar jadi gila lagi gua hahaha!" Lanjutku, sambil tertawa geli.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi akhirnya datang, Rian menepati janjinya untuk mengajariku bela diri. Dia datang ke rumah ini, dan aku merasa capek. Ternyata belajar bela diri tidak gampang ya!


"huft, bisa berhenti sebentar! Aku sangat lelah sekarang." Kataku sambil ngos-ngosan


"Begini saja kau sudah lelah?" Katanya dengan nada yang menyindir


"Kau begini menyindirku?" Tanyaku jengkel


"Aku tidak menyindirmu! Aku hanya ingin memberitahumu kalau kau cepat sekali menyerah, kau tidak akan bisa berkembang!" Balasnya dengan penekanan di setiap katanya


"Sudahlah, aku tau." Kataku dengan tatapan yang seperti orang tidak peduli


"Ya sudah, lebih baik kita latihan kembali sekarang!" Katanya dengan penekanan kembali


"iya-iya!" Kataku dengan sedikit ngegas


'Rian benar-benar tidak main-main mengajariku, aku sampai kewalahan begini karenanya.' Rutukku dalam hati


Akhirnya latihan pun selesai, aku duduk sambil mengipas-ngipas kan wajahku dengan tangan.


"hah, capek sekali!... huft panas!" Kataku sambil mengeluh


"Kau itu, aku kan sudah bilang bahwa tidak akan main-main dan akan serius tentang latihan ini. Jangan hanya mengeluh, kalau kau seperti itu nanti akan tambah sulit!" Katanya dengan kesal

__ADS_1


"huh bawel banget sih!" Kesalku


Tiba-tiba, ada sesuatu yang menempel di pipiku.


"Apa ini?" Tanyaku dengan memiringkan kepalaku sedikit.


"Minuman, masa gitu aja gak tau!" Jawabnya sambil menekankan masa gitu aja gak tau.


'Membuatku kesal saja, ya aku tau lah itu minuman!' Gumamku dalam hati


"Maksudku ada motif apa kau memberikan ini?" Tanyaku


"Gak ada, udah minum aja deh!" Jawabnya


"Oh, ya baiklah ku minum. Terimakasih ya!" Kataku dengan penekanan kata terimakasih.


"Baiklah besok, latihan lagi kan?" Tanyaku


"Iya, kalau begitu latihan hari ini disudahi!" Katanya, lalu dia berdiri dari duduknya dan berjalan. Namun langkahnya terhenti, tetapi ia tidak membalikan tubuhnya dan berbicara memunggungiku "dan jangan lupa, lebih semangat lagi besok!" Katanya.


"Ah tentu, aku akan!" Kataku berjalan ke arahnya.


Saat tepat berada dibelakang nya, ia refleks memutar tubuhnya menghadap ku. Mungkin sisa 5cm bibirnya dan bibirku hampir menempel, aku jadi teringat ciuman yang waktu itu. Wajahku memerah dengan sendirinya, dan aku pun memalingkan tubuhku membelakangi Rian.


"Ada apa dengan mu?" Tanyanya


"huh uh memangnya aku kenapa?" Jawabku yang malah bertanya balik

__ADS_1


"Mukamu merah, kau sakit kah?" Tanyanya lagi


"Aa..aku tidak apa-apa kok!" Jawabku agak sedikit gugup


"Benarkah? Biarkan aku melihatmu sebentar" Katanya dengan nada yang sedikit khawatir


"Benar tidak apa!" Jawabku, setelah mengatur perasaanku, ku balikkan tubuhku menghadapnya.


"Lihat aku baikkan!" Kataku, dia langsung menyentuh dahi ku dengan punggung tangannya.


"Ya, Kau tidak sakit. Tapi kenapa tadi mukamu sepertinya memerah?" Tanyanya heran.


"hem, apa maksudmu? Mungkinkah itu hanya perasaanmu saja, bukan?" Kataku meyakinkannya.


"heh, mungkin?" Jawabnya ragu.


"hahaha!" Tawaku secara paksa


"Ya sudahlah aku akan pulang, besok kita lanjutkan berlatih lagi!" Katanya


"Baiklah!" Seruku.


Rian pun beranjak pergi meninggalkanku, setelah dia tak terlihat lagi, ku dudukan diriku di kursi taman belakang sambil memainkan jariku.


'Apa sih yang ku pikirkan!' Kataku dalam hati,


'Kenapa kalau aku mengingat itu pasti muka ku memerah?' Kataku lagi.

__ADS_1


Next ☞ ̄ᴥ ̄☞


__ADS_2