
"BAIK, TIDAK AKAN LAGI!!!" Refleks mereka menjawab serempak.
...----------------...
Leo benar-benar capek hari ke hari selalu ada yang ngintilin dia kemana-mana, tadinya cuma Zen tapi, Rian malah ikut-ikutan.
Hari ini, Angelina ngajak Leo jalan-jalan bersama. Tadinya mereka hanya mau berdua tapi, Zen maksa mau ikut, setelah Zen ngerengek dan terdengar oleh Rian, Rian malah ingin ikut juga. Dan terjadilah pertengkaran antara anak kecil lagi :v
Leo pusing banget, tapi dengan cepat ia berpikir.
"Kalau misalnya mereka ikut, mungkin saja perhatian mereka akan teralihkan ke Angel. Leo lu cerdas banget deh (muka serius). Terakhir kali gua gagal, kalo misalnya gua balik ke dunia nyata nama gua tetep Leo. Eh ga lah, orang gua janjinya sama diri gua, jadi ga papah ga ditepati." Ini rencana brilian banget, pasti berhasil! Gua pinter banget ya, padahal gua dapet rangking disekolah, rangking 12 terbawah dari 48 siswa (****Bodoh, jangan ditiru ya****!) tapi, GUA PINTER BAT YA!" Leo bergumam dibelakang mereka berdua, lalu tiba-tiba berteriak.
Mereka langsung menoleh lalu saling memandang seakan mengatakan "Leo kenapa?", setelah Leo teriak begitu dia dia tertawa dengan wajah yang aneh.
Zen memasang wajah khawatir, dia perlahan memegang kepala Leo dengan tangannya.
"Kau tidak sakit?" Kata Zen.
"Siapa yang sakit, kau pikir aku gila!" Kata Leo.
Zen belakangan ini sangat senang, Leo yang sekarang lebih baik dari yang dulu. Dia lebih terus terang dan juga blak-blakan, menurut Zen, Leo adalah orang yang lucu.
~Author: "Bucin tros!"
__ADS_1
"Baiklah, dengan penuh pertimbangan." Leo diam sesaat, membuat dua orang itu menunggu penasaran.
"Kalian boleh ikut." Kata Leo, kali ini dia tak akan kabur seperti hari itu.
'Karena Angelina bak dewi pemikat lelaki pasti mereka menjadi berebutan untuk mendekati si Dewi' Leo dalam hati.
Berakhirlah Leo dengan ketenangan yang seharusnya ia miliki, dia akan memiliki kebebasan untuk dirinya hari ini.
Sekali lagi dia tersenyum dengan aneh, kedua orang ini berpikir Leo benar-benar aneh saat ini.
"Apa kita harus memanggil dokter?" Bisik Rian kepada Zen.
"Saya rasa itu memang diharuskan, kau pergilah. Saya akan menunggu disini sambil menemani Leo." Bisik Zen kepada Rian.
"Apa? Bukankah lebih cepat anda yang memanggilnya? Kalau anda, dokter tak akan menunda pekerjaannya bukan? Karena anda putra mahkota!" Kata Rian, kali ini tidak berbisik saking kesalnya.
"Tidak bisa begitu dong! Siapa tau anda akan mengambil kesempatan dalam kesempitan!" Kata Rian.
"Apa? Memangnya saya kelihatan seperti orang yang seperti itu?!" Kata Zen.
"Bukannya memang begitu! Lagi pula bukannya sekarang Leo yang harus diprioritaskan?!" Kata Rian dengan muka kesal.
"Tentu, karena itu saya yang akan menjaganya disini dan kau pergilah panggil dokter!" Kata Zen juga tak kalah kesal.
__ADS_1
"Juga, JANGAN MEMANGGILNYA LANGSUNG DENGAN NAMA!!! SAYA KAN SUDAH BILANG BEBERAPA KALI!" Lanjut Zen dengan teriak.
"Kenapa memangnya, Leo nya saja tak mempersalahkan hal ini!" Jawab Rian dengan ketus.
Leo yang sadar namanya dipanggil langsung bertanya.
"Kalian kenapa sih? Maksudnya panggil dokter apa tuh?!! " Tanya Leo.
Mereka berdua saling melirik dan melihat kembali ke Leo.
"Leo, kami rasa kau sakit! Jadi lebih baik tak usah pergi hari ini! Saya akan meminta orang untuk memberitahu Angelina Salfadh De Filbern." Kata Zen.
"Dan juga, jangan biarkan orang menyebalkan ini memanggilmu dengan nama!" Lanjut Zen dengan geram.
"Hah? Saya tak apa kok! Apa jangan-jangan anda pikir saya GILA?!!" Tanya Leo kesal, tatapannya langsung berubah menjadi menakutkan.
Mereka yang melihat itu langsung bergidik ngeri.
"Tentu saja, tidak!" Jawab mereka barengan.
"Huh, Bagus kalau begitu!.... Kita akan tetap pergi." Kata Leo masih dengan kesal.
"Tapi ...." Rian yang ingin mengatakan sesuatu menjadi terhenti karena tatapan Leo.
__ADS_1
"Apa?" Tanya Leo.
"Tidak jadi, tidak jadi Leo!" Jawab Rian menciut dan menegaskan kata tidak jadinya lagi.