
Zen kebetulan baru masuk ke ruangan kaisar, dan menyimak hal tentang Gua. Zen bilang pada kaisar akan mencari tahu tentang Gua, dan kaisar hanya menanggapinya dengan anggukan saja tanda ia setuju.
...----------------...
Tok-tok (suara pintu diketuk)
"Siapa?" Tanya duke.
"Ini saya Leo, boleh saya masuk?" Jawab Leo, terus nanya lagi.
"Ya, masuk saja!" Jawab Duke.
sret (pintu dibuka)
"Ayah hari ini saya ingin meminta izin untuk pergi ke istana" Kata Leo.
Setelah pintu dibuka tak banyak basa-basi Leo langsung saja berbicara to the point.
"Ya, saya juga sudah mendengar kau ingin menolak permintaan dari Kaisar" Kata Duke
"oh, ayah mendengar dari mana itu? Saya rasa saya belum menceritakan hal ini!" Kata Leo, aslinya Leo dah tau tapi kagak ditunjukin kalo dia tau.
'Jangan-jangan Arkan yang bilang? Sudah ku duga dia pasti mata-mata, buktinya saja Zen bisa tau gua ada ditempatnya Rian. Tapi emang ini yang gua mau, kalo ada satu yang menyelidiki gua itu artinya bisa dimanfaatin. Pinter bat emang gua!' "Hahahaha!!!" Dalam hati Leo+tertawa jahat.
"Kenapa kamu tertawa? Ada yang lucu?" Tanya duke.
"He'em, tidak ada. Hanya terbayang sesuatu yang lucu saja, omong-omong, yang memberitahu ayah Arkan kan?" Jelas Leo.
"Ya, kemarin dia berbicara kepada saya." Kata Duke dengan wajah datar.
__ADS_1
'Eh? reaksinya biasa aja ya?' Dalam hati Leo.
"Oh, jadi benar dugaan saya? Ayah tak menyuruh Arkan memata-matai saya bukan?" Tanya Leo.
"Apa maksudmu? Untuk apa saya memata-matai kamu, seperti saya kurang kerjaan saja" Kata Duke acuh tak acuh.
'Berarti lu orang kurang kerjaan itu?' dalam hati Leo sambil mengernyitkan dahinya.
"Ah, saya baru ingat. Kemarin Arkan berkata bahwa kamu agak aneh?" Kata Duke sambil memiringkan kepala dengan tetap pada wajah datarnya.
"Ya? Aneh bagaimana?" Tanya Leo.
'Emang kemaren gua aneh ya? Perasaan penyakit gila gua kagak parah-parah amat kan ya?' Dalam hati. [Author: Kamu mah emang gak parah-parah amat tapi parah banget :'v]
"Katanya kamu menyebutkan nama Gua? Siapa dia?" Tanya duke.
"Ya?" Leo balik nanya dengan muka yang kaya orang **** gitu.
"Gua?" Tanya Leo lagi memastikannya.
"Ya!" Kata Duke jelas dan tegas.
"Emang itu nama orang?" Tanya Leo, mukanya lebih **** lagi dah kaya orang yang kehilangan otaknya. :v
"Kok kamu balik tanya, memangnya saya tau? Kebetulan Arkan khawatir dengan kamu, dan meminta saya mencari tahunya!" Kata Duke. [Author: Halah alasan, padahal situ juga mau tau kan?]
"Oh, yang gua keceplosan itu ya?" Gumam Leo.
"Hah?" Heran Duke.
__ADS_1
Leo tiba-tiba berbalik badan.
'Jir, gua malah keceplosan lagi. ***** bat sih gua!'
"He'em!" Dehem Duke.
Begitu mendengar deheman duke, Leo langsung berbalik lagi.
"Em, saya rasa disini ada kesalahpahaman, Gua itu bukan nama orang!" Kata Leo.
"Lalu?" Tanya duke, saat ini raut wajah duke berubah menjadi seperti tertarik.
"Bisa tidak kita lupakan hal ini?" Kata Leo.
"Kenapa? Kau tidak bisa jawab atau kau menyembunyikan sesuatu?" Tanya duke.
"Tidak mungkin lah" Jawab Leo.
"Hanya saja hal ini itu sangat tidak penting dan gak berfaedah, gak guna! `brak' Cuman buat gua gedek aja tau gak!" Kata Leo dengan kesal sambil mengebrak meja duke.
"..." Duke kaget dengan tingkahnya Leo sampai tak bisa berbicara selama beberapa waktu.
"Tadi kalau tak salah, kamu menggunakan kata atau nama? Gua?" Taya Duke selang beberapa waktu terdiam.
'Ni orang masih dilanjutin aja, ei, pusing gua!' Dalam hati Leo.
"Udahlah, saya jadi lupakan mau ke istana. Malah banyak bacot disini!" Kata Leo kesal sambil meninggalkan ruangan Duke.
"Bacot? Apa itu kata?" Gumam Duke heran, Leo sudah pergi dari ruangan jadi dia tak mendengarkan gumaman sang ayah.
__ADS_1
≧▽≦