
"Iya, memangnya kenapa? Apa jangan-jangan tidak bisa ditolak permintaan ini? Itu gak adil dong!" Seru Leo, setelah melihat Arkan yang kaget, Leo pun menyimpulkan opininya sendiri.
...----------------...
"Bukan begitu, hanya saja... Apa anda benar akan menolaknya?" Tanya Arkan.
"Tentu, saya tak tertarik soal tawaran ini. Jadi, apa saya boleh menolaknya atau tidak?" Tanya lagi Leo.
Dia agak takut jikalau ia menolak mungkin akan ada hukuman yang menantinya, mungkin hukuman mati? Tapi jika ia menerimanya, mungkin ia akan menimbulkan permasalahan dan menjadikannya kemungkinan matinya lebih besar bukan?
"Bisa saja, tapi lebih baik anda pikirkan kembali dulu. Ini mungkin merupakan kesempatan anda menjadi orang kepercayaan kaisar, saya agak bingung kenapa anda menolaknya?" Kata Arkan.
Leo hanya diam tak menjawab dengan spesifik pertanyaan Arkan, tapi ia bertanya sekali lagi.
"Hanya tidak ingin, jadi saya bisa menolaknya? Tidak ada konsekuensi kan jika saya menolaknya?" Tanya Leo memastikan apa yang dibayangkannya tak akan terjadi.
__ADS_1
"Entahlah, jika anda memiliki alasan yang kuat untuk tidak melakukannya, anda mungkin akan dibiarkan." Jawab Arkan.
'Ya ampun, apa ini? Gua harus mikir alasan lagi, ternyata hidup disini lebih susah dari hidup di dunia nyata ya' Dalam hati Leo.
"Apa gua bisa balik ke dunia nyata lagi ya?" Gumam Leo, masih sambil melamun.
"Tuan muda?" Kata Arkan yang melihat Leo bengong dan bergumam. Didalam pikirannya dia berpikir : 'Siapa Gua? dan dunia nyata maksudnya apa?'
Leo kembali tersadar dari pikirannya.
'Tuan muda panik? Apa ada sesuatu? Atau tentang Gua? Ah benar juga, saya akan memberitahukan hal ini pada duke, dan menanyakannya. Mungkin dia tau sesuatu, baru melaporkannya ke istana.' Kata Arkan dalam hati. Si Arkan disini mengira 'Gua' itu orang :v
"Baiklah, apa hanya itu yang anda tanyakan?" Kata Arkan.
"Ah, iya!" Seru Leo.
__ADS_1
"Kalau begitu saya masih harus mengerjakan pekerjaan saya, bisakah saya pergi?" Tanya Arkan.
"Tentu, kamu bisa!" Seru Leo.
'Gua udah ngalangin orang mau kerja, untung dia ngingetin gua, kalo gak gua bisa-bisa masih nahan dia disini.' Kata Leo dalam hati.
"Kalau begitu, saya permisi dulu" Kata Arkan sambil membungkuk dan pergi dari ruangan.
Saat Arkan pergi yang dilakukan Leo hanya menghela nafas, terus seperti itu sampai dia bosan.
Akhirnya terbesit dipikirannya : 'Kalo gua mau nolak, gua harus ketemu secara langsung dengan Baginda Kaisar! Kalau begitu gua harus siap-siap ke istana. Eh besok aja deh, gua males!' Kata Leo sambil melemparkan tubuhnya ke kasur.
Dia memainkan mainan yang ia buat dari kayu, dan juga kertas. Mainan itu seperti lintasan mobil-mobilan dari kayu dan karena gak ada mobil-mobilannya dia pakai kertas yang dia bundel-in (dibulatkan/diremas-remas jadi bola). Disaat gak ada yang gangguin Leo, dia merasa sepi dan membuat mainan itu.
Tak ada yang mengganggunya selama beberapa minggu berlalu, dia juga mendengar gosip dari beberapa orang. Kalau sebenarnya Zen dan Angelina menjadi sepasang kekasih, jadi sebuah pemikiran yang terpikirkan oleh Leo hanya tentang 'mereka berdua sedang masa-masa nya jatuh cinta, jadi tak punya waktu bermain-main dengannya'. Hanya itu yang dia pikirkan, ya memang dia sudah tau tentang perjodohan itu, tapi dia hanya berpikir 'itu mungkin saja, toh putra mahkota mencintai Angelina dan Angelina juga menerima perjodohan itu' dan Leo tak terlalu menanggapinya.
__ADS_1