
"Tante Juwita?"
Juwita menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Dia juga terkejut melihat ada seorang gadis yang memanggil namanya dengan begitu lembut dan merdu.
Saat menoleh, Juwita semakin terkejut dengan keberadaan Alice. Mantan kekasihnya Kenzie itu sedang mengembangkan kedua tangan untuk memeluknya.
"Alice? Tante sangat suprise dengan kedatangan mu ini. Dan ternyata telinga Tante tidak salah mendeteksi, karena hanya kamu yang bisa memanggil nama Tante selembut tadi. Ummm... sayang."
Keduanya saling berpelukan erat, layaknya ibu dan anak yang telah lama tidak bertemu. Senyuman keduanya sama-sama terlihat jelas jika sedang berbahagia.
"Alice, bagaimana kabarmu? Kamu terlihat cantik sekali hari ini." Juwita memuji mantan kekasih anaknya, dengan memutar-mutar badannya Alice.
"Hehehe... Terima kasih, tante Juwita. Tante yang selalu cantik dan anggun. Alice selalu baik-baik saja, Tante. Bagaimana kabarnya Tante dan keluarga tante?" Alice bertanya setelah menjawab pertanyaan Juwita dengan tersenyum, memamerkan deretan gigi putihnya.
"Keluarga kami baik-baik saja. Tapi... Tante punya rencana yang ingin kusampaikan padamu, dan Tante butuh bantuan mu, sayang." Juwita berkata dengan suara lirih.
Alice mengerutkan keningnya mendengar jawaban yang diberikan oleh Juwita. Dia tentu saja penasaran dengan permintaan wanita paruh baya ini.
"Apa yang bisa Alice bantu untuk Tante?"
"Tante ingin kamu mendekati Kenzie lagi. Apakah kamu bisa bantu, Tante?" pertanyaan ini seperti sebuah permohonan yang tidak bisa ditolak oleh Alice.
Kedatangan Alice ke Indonesia, mantan kekasihnya Kenzie ini ternyata dimanfaatkan oleh Juwita untuk kembali mendekatkan anaknya dengan model dunia tersebut. Dia ingin Kenzie menikah dengan Alice, yang memang sudah lama diinginkan oleh Juwita menjadi menantu di keluarganya.
Juwita bahkan meminta Alice supaya tinggal di rumahnya selama berada di Indonesia untuk memanas-manasi Berliana.
"Oh, begitu. Aku tak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk mendekatkan diri dengannya." Alice pura-pura memasang wajah sedih.
Juwita tersenyum tipis mendengar jawaban yang diberikan oleh Alice. "Kamu bisa mulai dengan tinggal di rumah kami selama di Indonesia. Aku yakin kalian berdua akan sering bertemu, dan itu bisa membuat dirinya menyadari kesalahannya selama ini." mengunjungi kami dan kamu bisa lebih sering bertemu dengannya."
__ADS_1
Alice tampak tersenyum canggung saat mendengar perkataan Juwita, tapi di dalam hatinya sedang bersorak-sorak senang. "Baiklah, jika tante mengizinkan aku tinggal di rumah tante, aku akan sangat bersyukur."
"Tentu saja, Alice. Aku senang kamu mau membantu Tante untuk membuat Kenzie dan kamu lebih dekat. Siapa tahu, mungkin kalian akan menemukan kembali cinta di antara kalian." Juwita berharap lebih.
"Hmm, saya tak tahu apa yang harus dikatakan, tante. Saya hanya ingin membantu. Tapi jujurly, Alice senang." Juwita memeluk Alice cepat, karena hatinya sedang berbahagia dengan jawaban Alice yang setuju dengan rencannya.
"Tidak apa-apa, Alice. Tante yakin kamu akan melakukan yang terbaik. Dan siapa tahu, mungkin kamu akan menjadi menantu Tante setelah ini. Hehehe..." Juwita benar-benar merasa bahagia karena menemukan rencana yang sangat bagus ini.
"Terima kasih, tante. Alice akan mencoba yang terbaik untuk membantu Tante." Sebuah senyuman penuh misteri terbentuk di sudut bibirnya Alice.
Juwita memiliki rencana untuk mendekatkan Kenzie dan Alice. Dia mengajak Alice untuk tinggal di rumahnya selama di Indonesia agar bisa lebih sering bertemu dengan Kenzie. Hal ini tentunya membuat Berliana merasa terancam dan cemas dengan kehadiran Alice, serta rencana yang dimiliki oleh mertuanya. Dengan demikian, Juwita berharap agar Berliana menyerah kalah dan pergi dari kehidupannya Kenzie.
Secara kebetulan Alice setuju dengan rencananya Juwita untuk merayu Kenzie lagi agar Berliana semakin tidak betah dan minta cerai dari Kenzie.
Sekarang mereka berdua berjalan beriringan menuju ke tempat parkir Mall, karena tadi Juwita memang sedang ada pertemuan dengan temannya di Mall ini. Sedangkan Alice sendiri baru saja datang dan mampir ke Mall sebelum pergi ke hotel mencari penginapan.
Sebagai mantan kekasihnya Kenzie, Alice memang masih memendam perasaan pada Kenzie. Kehadirannya di Indonesia yang dimanfaatkan oleh Juwita untuk mendekatkannya kembali dengan Kenzie dan merayunya agar kembali jatuh cinta, tentu di sambut dengan cara yang elegan oleh Alice.
Situasi yang dihadapi Berliana tentu saja semakin rumit ketika mantan kekasih suaminya, Alice, datang ke Indonesia dan dimanfaatkan oleh ibu mertuanya untuk mendekatkan Kenzie dengan Alice, kemudian membuat Alice menjadi menantu di keluarganya.
Juwita tidak menyukai Berliana dan ingin memanfaatkan kedatangan Alice untuk menunjukkan bahwa Alice lebih cocok untuk menjadi istri Kenzie daripada Berliana. Juwita bahkan meminta Alice untuk tinggal di rumahnya selama berada di Indonesia, yang akan semakin memanas-manasi Berliana.
"Selamat datang di rumah Tante, Alice."
Juwita membukakan pintu rumahnya lebar-lebar agar Alice terkesan sangat diharapkan di rumah ini.
"Terima kasih, Tante Juwita yang cantik dan baik hati." Alice mengucapkan pujiannya setelah berterima kasih.
"Kamu bisa saja bikin Tante melayang, Alice." wajah Juwita tampak tersenyum dan merona merah karena tersipu malu-malu atas pujian dari Alice tadi.
__ADS_1
Alice tentu saja sangat tahu bagaimana caranya agar bisa mengambil hati seorang wanita paruh baya seperti Juwita ini. Apalagi dia sudah cukup lama mengenalnya sebagai seorang wanita berkelas dan bersosialisasi dengan para wanita dari kalangan atas.
"Ayo masuk!"
"Mama... "
Langkah Juwita terhenti saat ada Berliana yang menegurnya. Panggilan dari menantunya itu membuat mood-nya jadi rusak seketika.
"Kamu, Berliana. Siapkan satu kamar khusus untuk Alice. Dia akan tinggal di rumah ini selama berada di Jakarta."
Berliana langsung merasa cemas dan takut dalam situasi ini. Dia sudah merasa sedih dan tertekan karena perlakuan kasar mama mertuanya, dan sekarang situasinya semakin sulit dengan hadirnya Alice yang merupakan mantan kekasih suaminya. Berliana merasa khawatir jika Kenzie akan kembali jatuh cinta pada Alice dan meninggalkannya.
"Ka-kamar tamu maksud Mama?" tanya Berliana gugup.
"Bukan. Sembarang saja di kamar tamu. Kamar sebelahnya Calista!"
Deg
Berliana terkejut karena kamar yang disebutkan oleh mama mertuanya itu adalah kamar yang bersebelahan dengan ruang kerja suaminya. Dia merasa tidak aman dan tidak nyaman dengan kehadiran Alice di rumah mertuanya, merasa terancam oleh niat Juwita untuk membuat Alice menjadi menantu di keluarganya. Berliana merasa sedih karena merasa tidak dihargai dan tidak diakui sebagai istri Kenzie oleh keluarga suaminya.
"Ma-mama tidak salah?" tanya Berliana takut.
"Ck, siapkan saja sana! Banyak tanya kamu!"
Berliana merasa sangat tertekan dan stres, dan ini bisa mempengaruhi kesehatannya secara keseluruhan. Apalagi dia juga baru saja keguguran, yang selalu menjadi alasan Juwita untuk marah-marah. Dia merasa terisolasi dan tidak memiliki dukungan dari keluarga suaminya, yang membuatnya merasa kesepian dan terlantar.
'Bagaimana ini?'
'Ya Allah, aku berserah diri hanya kepada-Mu.'
__ADS_1
Berliana hanya bisa memanjatkan doa agar diberikan kesabaran dan kekuatan.