
Berliana harus mencari cara untuk mengatasi situasi ini dengan kekuatan dan ketabahan. Dia perlu mengambil langkah-langkah untuk melindungi dirinya sendiri, seperti mencari tempat tinggal yang aman jika diperlukan, dan menemukan cara untuk menjaga dirinya dari ancaman Juwita dan kehadiran Alice yang sekarang ini menempati rumah mertuanya.
Setelah beberapa kali bertemu, Alice dan Kenzie mulai berbicara lebih sering. Mereka menghabiskan waktu bersama dan Alice mulai merayu Kenzie lagi. Kenzie sendiri mulai merasa bimbang dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Kamu pasti akan merasa nyaman bersamaku, Kenzie." Alice mulai mengeluarkan jurus maafnya saat merayu.
Alice tidak pernah berhenti bermain-main dengan perasaan Kenzie. Dia terus memancing Kenzie dengan kata-kata dan godaan, berharap dia akan kembali jatuh cinta padanya. Kenzie memang masih memiliki perasaan untuk Alice, tetapi dia juga sudah mulai mencintai Berliana sebagai istrinya.
Hal ini terjadi karena setiap kali Berliana berusaha untuk menghabiskan waktu bersama Kenzie, Juwita dan Alice selalu memperalat Berliana untuk membantu pekerjaan rumah tangga yang membuatnya sibuk sehingga tidak memiliki waktu luang bersama suaminya. Berliana merasa sangat lelah dan kelelahan, tetapi ia tetap kuat dan tabah karena ia mencintai suaminya.
"Huhfff... pekerjaan rumah tidak ada habisnya." Berliana merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa pegal-pegal.
"Tapi jika tidak selesai, mama akan marah-marah." Ingat dengan kemarahan Juwita, Berliana kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tapi sekarang Berliana justru teringat dengan kejadian yang dia lihat secara tidak sengaja, saat Alice sedang melakukan panggilan video call dengan kekasihnya yang orang bule dan tinggal di luar negeri.
"Bagaimana bisa dia melakukan semua ini?" tanya Berliana bergumam.
"Sepertinya aku harus bicara dengan mama, atau sama mas Kenzie?" Berliana bingung juga dengan pilihan yang harus dipilih.
Jika dia bicara dengan Juwita, mama mertunya itu tidak mungkin percaya padanya. Sedangkan jika dia bicara dengan Kenzie, suaminya itu bisa saja menuduhnya cemburu sehingga membuat tuduhan yang tidak benar.
Situasi ini memperburuk hubungan antara Berliana dengan suami dan juga mertuanya. Berliana merasa semakin tersingkir dan tidak dihargai sebagai istri Kenzie. Dia merasa sangat terbebani dengan banyaknya pekerjaan rumah yang diberikan oleh Juwita dan Alice padanya.
Namun, Berliana tetap berusaha untuk tegar dan tabah meskipun keadaannya sangat sulit. Dia tahu bahwa dia tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi di sekitarnya, tetapi dia bisa mengendalikan perasaannya dan bagaimana dia merespons situasi tersebut. Berliana mulai berdoa dengan lebih tekun dan meminta kekuatan dari Tuhan untuk menghadapi cobaan ini.
__ADS_1
Berliana memang berencana untuk memberanikan diri memberitahu semuanya pada Juwita maupun Kenzie, tapi dia tidak bisa mengucapkannya. Dia justru takut jika dia dituduh cemburu buta dan memfitnah Alice, hingga akhirnya Berliana hanya bisa diam saja dan menyembunyikan kesedihannya.
"Hai, itu belum bersih! Kenapa kamu malah melamun Berliana?" tanya Juwita dengan suara keras.
"Apa dengan melamun pekerjaan akan selesai dengan cepat?" tanyanya lagi, sebelum Berliana mengatakan sepatah katapun.
Suara keras Juwita membuat Berliana terjengkit kaget. Dia gugup saat mata Juwita melotot dengan tajam kearahnya.
"Ma-af, Ma."
Gugup dan terbata-bata, Berliana kembali melanjutkan pekerjaannya setelah meminta maaf pada Juwita.
"Ck, dasar tidak berguna!"
***
Kenzie sedang mengamati istrinya, Berliana, yang sedang melakukan ibadah. Dia menyadari jika merasa kagum dengan sosok istrinya yang dianggapnya seperti seorang bidadari, yang dapat menenangkan dirinya. Namun, di sisi lain, dia juga merasa bersalah karena hampir saja tergoda oleh mantan kekasihnya, Alice, yang saat ini berada di rumahnya atas permintaan ibunya.
Perasaan Kenzie bercampur aduk. Di satu sisi, ia merasa kagum dan terkesan dengan istrinya yang sedang beribadah, sementara di sisi lain, ia merasa bersalah karena hampir saja tergoda oleh mantan kekasihnya. Perasaan Kenzie juga penuh kebingungan dengan adanya konflik di dalam hatinya, karena ia merasa memiliki kewajiban untuk setia pada istrinya, namun juga masih memiliki dan menyimpan sedikit perasaan terhadap mantan kekasihnya.
"Sayang, tadi aku melihatmu sholat, kau sungguh cantik dan membuatku merasa tenang." Kenzie berbicara setelah Berliana selesai melihat alat sholatnya.
Berliana tersenyum mendengar perkataan suaminya. "Terima kasih, Mas Kenzie. Aku senang bisa memberikan ketenangan padamu melalui ibadahku."
Kenzie menarik tangan istrinya, memintanya untuk ikut duduk bersama dengannya di pinggir tempat tidur. "Jujur, tadi aku hampir saja tergoda dengan Alice. Aku merasa sangat bersalah dan aku minta maaf untuk itu." Kenzie mengucapkan permintaan maaf.
__ADS_1
Berliana tersenyum tipis mendengar permintaan maaf suaminya. Dia senang Kenzie jujur dengan apa yang dia lakukan.
"Jangan khawatir, Mas Kenzie. Aku percaya padamu dan aku tahu bahwa kau mencintaiku. Jika kau merasa ada godaan, selalu ingatlah mengapa kau memilih untuk bersama denganku."
"Terima kasih, sayang. Aku sangat bersyukur memiliki istri yang bijaksana seperti kamu." Kenzie menarik tubuh istrinya untuk dipeluknya erat-erat dari arah samping.
"Sama-sama, Mas Kenzie. Kita saling mendukung dan saling menguatkan, ya?" Kenzie mengangguk mengiyakan.
Kenzie memeluk tubuh istrinya dengan penuh perasaan. Dia berjanji untuk menjaga dan melindungi isterinya. "Sayang, aku ingin memelukmu dan memberikanmu dukungan untuk menghadapi masalah ini bersama-sama, selalu."
Berliana tersenyum di dalam pelukan suaminya. "Terima kasih, Mas Kenzie. Aku merasa sangat terbebani dengan tekanan dari orang-orang sekitar."
Kenzie menghela nafas berat. Dia tahu siapa yang dimaksud oleh Berliana barusan.
"Jangan khawatir, kita akan menghadapi ini bersama-sama. Aku berjanji akan menjaga dan melindungi mu, dan kita akan berdoa bersama agar kita bisa mendapatkan anak yang kita impikan."
"Terima kasih, Mas Kenzie. Aku percaya dan yakin jika Allah SWT akan memberikan yang terbaik untuk kita."
"Mari kita lakukan ibadah khusus bersama-sama untuk memohon rahmat dan karunia dari Tuhan agar kita bisa segera dikaruniai seorang anak."
Akhirnya mereka berdua melakukan ibadah khusus untuk bisa mendapatkan anak lagi, supaya mamanya tidak lagi mencibir karena mereka belum memiliki anak. Ibadah yang hanya bisa dilakukan oleh sepasang suami istri yang sebenarnya dan sah.
"Aku setuju, Mas Kenzie. Kita harus terus berusaha dan percaya bahwa Allah SWT pasti mendengarkan doa-doa dan usaha yang kita lakukan."
Berliana mengalami kesulitan dalam memperoleh anak pasca keguguran kemarin. Hal ini menjadi masalah bagi mereka karena mamanya Kenzie mencibir mereka karena belum memiliki anak. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk sering melakukan hubungan suami istri, agar mereka dapat dikaruniai seorang anak. Meskipun sebenarnya dokter memberitahu jika mereka sama-sama sehat dan tidak perlu khawatir.
__ADS_1