Mertua, Anak Dan Menantu

Mertua, Anak Dan Menantu
Bukan Saya


__ADS_3

"Hiksss hiks hiks, saya tidak mencuri kalung Mama. Bukan saya."


Berliana menangis karena tuduhan yang diberikan oleh Juwita, padahal dia tidak pernah memasuki kamar mama mertunya.


"Ada apa?"


Tiba-tiba dari arah pintu masuk datang Kenzie yang melayangkan pertanyaan tersebut. Dia melihat bagaimana keadaan istrinya yang duduk sambil menangis, sedangkan mamanya berkacak pinggang. Di sampingnya ada Alice yang sok cantik, kemudian tersenyum senang saat melihat kedatangannya.


"Ini, Berliana. Dia mencuri kalung permata Mama!" Juwita menuding ke arah Berliana dengan wajah garang.


Di samping Juwita, Alice mengangguk-angguk sambil mengerucutkan bibirnya, menyetujui tuduhan Juwita pada Berliana.


Mendengar tuduhan yang disampaikan oleh mamanya, Kenzie tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Kenzie tidak pernah mempertanyakan kesetiaan Berliana dan merasa sangat mencintainya. Namun, ia merasa sedih karena ia tidak tahu harus berbuat apa untuk membantu Berliana.


"Maafkan Kenzie, Ma. Tapi Kenzie tidak bisa percaya bahwa Berliana mencuri kalung Mama. Dia bukan tipe orang yang suka mencuri barang orang lain, dan Kenzie yakin ini hanya salah paham. Mungkin Mama lupa menyimpan atau meletakkan kalung tersebut," ucap Kenzie dengan suara pelan dan tegas.


Juwita yang mendengar perkataan Kenzie langsung menyela dan memberikan bukti-bukti yang mendukung tuduhannya. "Aku sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Berliana selalu terpikat dengan perhiasan-perhiasan yang Mama miliki. Aku yakin dia mencuri kalungku," tegas Juwita.


Kenzie tidak percaya dengan bukti-bukti yang disampaikan oleh Juwita. "Ma. Kenzie tahu Berliana tidak pernah terpikat dengan perhiasan Mama, dan dia juga tidak membutuhkan itu untuk merasa bahagia. Kalau Mama masih tidak percaya, Kenzie akan membawa Berliana untuk menyelesaikan masalah ini bersama-sama," ucap Kenzie dengan nada tegas.


Juwita yang merasa dianggap tidak percaya pada Berliana merasa tersinggung dan marah. "Tidak perlu. Mama sudah punya bukti yang cukup untuk membuktikan bahwa Berliana mencuri kalungku. Tapi kalau kamu tidak ingin membantu, Mama mengerti," ucap Juwita dengan suara dingin.


"Bela saja istrimu yang miskin!" teriak Juwita kesal karena anaknya tidak percaya dengan apa yang dia katakan.


Kenzie merasa kecewa dengan Mamanya yang tidak percaya pada istrinya. Namun, ia merasa tidak bisa berbuat banyak karena mamanya tetap tidak mau mendengar pendapatnya. Kenzie merasa sedih dan berharap ada cara lain untuk membuktikan bahwa Berliana tidak bersalah.


Kenzie berpikir bahwa Berliana bukanlah perempuan matre sehingga silau dengan perhiasan. Tapi karena penasaran, Kenzie mencoba untuk bertanya pada Berliana.


Kenzie tidak percaya dengan tuduhan mamanya soal Berliana yang mencuri kalung tersebut. Tapi Juwita memberikan bukti-bukti bahwa Berliana pasti silau dengan semua perhiasannya, karena Berliana adalah orang yang miskin sehingga tidak pernah memiliki perhiasan yang mahal.


Dari kejadian ini justru membuat Kenzie sadar bahwa dia tidak pernah memberikan hadiah perhiasan pada Berliana selain cincin pernikahan yang dulu dia berikan pada saat ijab kabul.


Kenzie mendekat dan menyentuh pundak istrinya dengan lembut. "Liana, aku ingin tanya sesuatu. Apakah kamu pernah mencuri kalung milik mamaku?"

__ADS_1


Berliana terkejut mendengar pertanyaan tersebut. "Tentu saja tidak, Mas Kenzie. Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu?"


Ada rasa kecewa yang terlihat jelas dari raut wajah Berliana, bercampur dengan aliran air matanya karena suaminya meragukan kejujuran yang dua miliki.


Kenzie menghela nafas panjang kemudian kembali berkata. "Mamaku bilang kalung itu hilang dan dia mengira kamu yang mengambilnya. Tapi aku tidak percaya kalau kamu melakukan itu."


Berliana menatap wajah suaminya dengan perasaan yang campur aduk. "Liana benar-benar tidak mengambil kalung itu, Mas Kenzie. Liana tidak tahu apa yang terjadi, tapi Liana bersumpah tidak melakukan itu."


Juwita dan Alice mencibir perkataan Berliana yang mengatakan bahwa dia bukan pencurinya.


"Baiklah, aku percaya kamu. Tapi Mama memberikan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa kamu pasti silau dengan perhiasan."


Berliana mengeleng beberapa kali. "Itu tidak benar, Mas Kenzie. Liana tidak pernah menginginkan apapun yang di miliki mama atau milik keluarga yang lain. Liana hanya ingin kita bahagia bersama, itu saja."


Liana adalah panggilan khusus dari Kenzie, karena biasanya orang-orang memangilnya Berliana atau Nur jika di pondok pesantren.


"Aku tahu, Liana. Aku tidak pernah meragukan mu. Tapi aku hanya ingin memastikan bahwa semuanya baik-baik saja." Kenzie berusaha untuk bijak.


"Huh! Mana ada pencuri mengaku?" sela Juwita kesal.


"Ya sudah, ayo kita ke kamar." Kenzie membantu Berliana untuk berdiri dan berjalan menuju ke arah kamar.


"Kenzie, mama bagaimana kalungnya?" teriak Juwita yang merasa terabaikan.


"Cari dulu yang benar, Ma. Jika tidak ada, Mama bisa pesan lagi, kan?" jawab Kenzie dengan enteng.


"Huhhh!"


"Ck, dasar mas Kenzie!"


Juwita memberengut kesal, sedangkan Alice hanya bisa diam dengan rasa kecewa dalam hati. Dia merasa jika sudah kesulitan untuk mendapatkan perhatian khusus dari Kenzie.


***

__ADS_1


Kenzie merasa bersalah karena telah mengabaikan perasaan Berliana selama ini. Dia ingin menghibur Berliana dan mengembalikan rasa kepercayaan dirinya yang hilang karena perlakuan Alice dan Juwita.


"Liana, maafkan aku karena telah membuatmu merasa terabaikan. Aku ingin membuatmu merasa istimewa dan membahagiakanmu," ujar Kenzie saat mereka berjalan di dalam mall.


Tadi, Kenzie meminta Berliana untuk bersiap-siap. Dia merasa bersalah karena tidak pernah mengajak Berliana jalan-jalan ke Mall agar hati Berliana sedikit terhibur.


Berliana tersenyum dan menjawab, "Tidak apa-apa, Mas Kenzie. Liana mengerti bahwa Mas sibuk dengan pekerjaan. Liana bahagia, Mas Kenzie mau percaya dengan Liana."


Kenzie membelikan beberapa pakaian dan aksesori untuk Berliana. Dia ingin memberikan hadiah-hadiah kecil untuk membuat Berliana merasa bahagia.


"Kita tidak berbelanja bersama seperti ini ya, Liana. Aku senang melihatmu bisa tersenyum senang," kata Kenzie sambil tersenyum.


Berliana merasa tersanjung dengan perlakuan Kenzie. Dia merasa dihargai dan dicintai oleh Kenzie. Meski masih ada masalah yang harus diselesaikan, Berliana berharap bahwa hubungannya dengan Kenzie bisa membaik dan semakin harmonis.


Meskipun akhirnya tidak ada bukti bahwa Berliana mengambil kalung permata Juwita, tapi Kenzie menyadari kesalahannya sendiri. Dia mulai memperhatikan istrinya dengan mengajaknya jalan-jalan dan berbelanja.


Tadi, Kenzie akhirnya menyadari kesalahannya setelah memeriksa kalung Mamanya, yang katanya hilang dan menemukannya di dalam lemari. Kenzie merasa sangat menyesal karena telah membiarkan dirinya hampir termakan fitnah yang dibuat oleh mamanya dan meragukan kesetiaan Berliana sebagai istrinya.


Kenzie merasa bersalah dan berusaha memperbaiki kesalahan tersebut dengan memberikan perhatian lebih pada Berliana.


Itulah sebabnya dia mengajak Berliana jalan-jalan ke mall dan berbelanja bersama, mencoba untuk memperlihatkan rasa cinta dan perhatiannya pada istrinya.


"Kita ke sana yuk!"


Berliana hanya menurut saja, saat tangannya di bawa ke arah toko perhiasan. Dia tidak tahu apa yang dilakukan oleh suaminya di toko perhiasan, yang tentu saja kebanyakan dari orang-orang yang datang adalah perempuan.


Berliana merasa senang dan terharu dengan perhatian yang diberikan oleh suaminya. Dia merasa bahwa Kenzie benar-benar mencintainya dan merasa bersalah karena sebelumnya ia membiarkan kecurigaan mamanya menghalangi hubungannya dengan Kenzie.


"Maaf, Mas Kenzie. Ada acara besar di pondok pesantren, dan Liana ingin sekali pulang untuk ikut merayakannya. Bolehkan, Liana pergi ke ponpes?" tanya Berliana saat mereka berada di dalam mobil menuju pulang ke rumah.


"Tentu saja. Kapan acaranya?" tanya Kenzie.


"Tiga, tapi Liana ingin datang g lebih awal agar bisa membantu mempersiapkan acara."

__ADS_1


Kenzie mengangguk paham. "Baiklah, aku akan ikut denganmu. Aku ingin melihat bagaimana acara di pondok pesantren mu."


__ADS_2