Mertua, Anak Dan Menantu

Mertua, Anak Dan Menantu
Rasa Penasaran


__ADS_3

Asal-usul seseorang sangatlah penting, terutama dalam masyarakat yang masih memegang erat tradisi dan nilai-nilai keluarga. Oleh karena itu, saat seorang individu tidak memiliki kejelasan asal-usulnya, maka akan timbul pertanyaan-pertanyaan dan prasangka dari masyarakat. Hal ini juga dialami oleh Berliana, seorang anak yatim-piatu yang tidak memiliki kejelasan dari keluarga mana, karena kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan.


Sayangnya, Juwita, merasa bahwa Berliana, yang sekarang ini sudah menjadi menantunya hanyalah anak haram. Semua itu karena Berliana tidak pernah memperkenalkan saudaranya ataupun membicarakan tentang asal-usulnya.


Berliana sendiri juga tidak tahu, di mana keluarganya yang lain. Dia adalah seorang anak yatim-piatu yang tidak memiliki kejelasan asal-usul. Orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan saat pulang dari pondok pesantren setelah menyerahkan Berliana pada usia , tujuh tahun.


Setelah kecelakaan tersebut, Berliana menjadi yatim-piatu tanpa keluarga yang merawatnya. Tapi pihak ponpes menerimanya dengan baik, merawatnya, memperlakukan sebagaimana mestinya seorang anak yatim-piatu diperlakukan, meskipun tidak pernah bisa membayar biaya untuk pendidikannya karena pihak yayasan ponpes memberikan kemudahan dan keistimewaan dalam hal ini. Yaitu membebaskan biaya untuk Berliana, bahkan hingga dia menjadi ditubuh dewasa tetap berada di ponpes tersebut.


Namun, nasib baik kembali menghampiri Berliana, karena menjadi menuntunnya Juwita, setelah menikah dengan anak laki-lakinya Juwita. Yaitu Kenzie Zafran yang datang dengan sendirinya ke ponpes dan meminta untuk dijodohkan dengan salah satu santriwati melalui Abah kyai Jalil.


Namun, meski telah memiliki keluarga baru, Berliana masih sering merasa tidak dihargai oleh Juwita. Ibu mertuanya itu merasa bahwa Berliana hanyalah anak haram karena tidak memiliki kejelasan asal-usul. Hal ini membuat Berliana sering tidak dihargai dan dicap sebagai anak yang tidak memiliki nilai.


Meski demikian, Berliana terus berusaha untuk membuktikan bahwa ia memiliki nilai dan mampu membawa manfaat bagi keluarga barunya, tanpa banyak mengeluh.


"Selamat pagi. Saya ingin meminta bantuan Anda dalam menyelidiki asal-usul menantu saya, Berliana. Dia adalah seorang anak yatim-piatu tanpa kejelasan dari keluarga mana."


Siang ini Juwita pergi menemui seseorang yang akan dimintai bantuannya. Juwita mempercayakan penyelidikan ini pada seseorang, setelah mendapatkan rekomendasi dari salah satu kenalannya.


"Selamat pagi, Nyonya Juwita. Tentu saja, saya siap membantu Anda. Namun, saya perlu mengetahui lebih lanjut tentang kasus ini. Apa yang sebenarnya ingin Anda ketahui?" tanya orang tersebut, yang diketahui bernama Barata.


"Saya ingin mengetahui asal-usul Berliana. Kami tidak tahu siapa orang tua asli Berliana, dan kami tidak ingin ada kejadian yang tidak diinginkan di kemudian hari. Jika Anda berhasil menemukan informasi yang kami cari, saya siap memberikan imbalan yang besar." Juwita menyodorkan selembar foto bersama dengan amplop coklat dengan isi yang penuh.

__ADS_1


Bara menganggukkan kepalanya, paham dengan maksud perkataan Juwita. Dia sudah terbiasa menangani masalah seperti ini.


"Baik, Nyonya Juwita. Saya akan segera memulai penyelidikan. Namun, sebelum itu, saya perlu mengetahui lebih lanjut tentang Berliana dan orang-orang yang mungkin terkait dengan kasus ini. Apakah Anda memiliki informasi lain yang bisa membantu saya dalam penyelidikan ini?" tanyanya untuk informasi pelengkap.


"Berliana adalah seorang gadis yang dijadikan istri anak saya, tapi dari ponpes."


Juwita menyebutkan nama ponpes tersebut, dengan sedikit penjelasan yang dia ketahui mengenai yayasan ponpes tersebut.


"Baik, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan informasi yang Anda butuhkan."


"Anda tenang saja. Saya siap memberikan imbalan sebesar 20 juta rupiah setelah semuanya selesai, dan itu di luar jumlah uang yang saat ini ada di dalam amplop. Itu adalah imbalan yang besar, namun saya ingin memastikan bahwa kami tidak memiliki masalah hukum di kemudian hari." Juwita tegas memberikan peringatan.


Juwita mengangguk. "Ya, silahkan hubungi saya melalui nomor telepon ini. Saya akan selalu siap menjawab panggilan dari Anda. Terima kasih atas bantuannya."


Layar ponsel Juwita menampakan nomor yang bisa dihubungi oleh Barata, karena nomor ponsel tersebut adalah nomor ponselnya sendiri.


"Sama-sama, Nyonya Juwita. Saya akan segera memulai penyelidikan dan memberikan informasi kepada Anda secepatnya."


Juwita melakukan semua ini demi melindungi anak cucunya nanti. Apalagi sejak awal dia tidak setuju dengan Kenzie yang tiba-tiba pulang dengan membawa istrinya, yang tidak pernah dia kenal.


Anak yatim-piatu dan anak haram seringkali menjadi korban prasangka masyarakat. Mereka dianggap sebagai individu yang tidak memiliki nilai, tidak berharga, dan bahkan dianggap membawa malapetaka. Pandangan ini seringkali didasarkan pada anggapan bahwa orang tua yang tidak bertanggung jawab telah melahirkan anak tanpa memikirkan masa depannya.

__ADS_1


Dan itulah yang membuat Juwita khawatir.


Padahal pandangan tersebut sangat tidak adil bagi anak yatim-piatu dan anak haram. Keduanya tidak memilih untuk dilahirkan dalam keadaan tersebut, dan tidak bisa mengubah nasib mereka sendiri. Mereka harus hidup dengan keadaan yang tidak mereka pilih, dan seringkali harus berjuang lebih keras untuk membuktikan nilai dan keberadaan mereka di masyarakat.


Sejak awal, Juwita tidak menyukai Berliana dan tidak setuju untuk menerimanya sebagai menantu, karena tidak tahu asal-usulnya.


Juwita tidak ingin cucunya kehilangan hak-haknya karena masalah hukum yang muncul di kemudian hari akibat tidak diketahuinya asal-usul Berliana. Oleh karena itu, Juwita merasa bahwa penyelidikan asal-usul Berliana merupakan tindakan yang perlu dilakukan untuk melindungi anak cucunya nanti.


Juwita tidak takut dan khawatir, jika penyelidikan ini bisa memicu konflik atau masalah lain yang muncul jika diketahui oleh Kenzie. Dia bertekad untuk bisa mengetahui tentang asal-usul Berliana, agar bisa mendesak anaknya untuk membuat sebuah keputusan yang dia inginkan, seandainya kecurigaannya selama ini ternyata memang benar bahwa Berliana tidaklah sama seperti yang diceritakan oleh kyai Jalil.


"Bisa saja, kyai Jalil sengaja membuang Berliana agar tidak menjadi beban untuk ponpes. Berliana sudah terlalu lama berada di sana tanpa membayar biaya apapun. Jadi wajar, jika kyai Jalil membuangnya dengan cara halus."


"Atau jangan-jangan, setelah menikahkan Berliana dengan Kenzie, kyai Jalil meminta uang kepada Kenzie untuk melunasi semua biaya Berliana yang dulu-dulu?"


Praduga-praduga yang tidak seharusnya, kini muncul dan menjadi pemikiran Juwita. Dia masih terus berusaha untuk mengungkapkan misteri yang ada pada menantunya. Apalagi Berliana tidak pernah mengatakan apapun, atau melawannya, sehingga dia berpikir bahwa Berliana memang sengaja melawan dalam diamnya.


"Hai! Bukan begitu caranya!"


"Pergilah dari sini! Kamu bisa merusak barang-barang mahal di rumah ini. Dasar miskin, jadi tidak tahu alat-alat canggih dan mahal!"


Juwita berteriak keras memperingatkan Berliana, saat melihat menantunya itu menekan tombol biru untuk mengaktifkan mesin pencuci piring yang ada di dapur.

__ADS_1


__ADS_2