
Berliana merasa terpaksa pergi ke pondok pesantren sendiri tanpa suaminya. Ini adalah keputusan sulit yang harus dia buat, karena dia tahu akan ada konsekuensi yang harus dia hadapi. Namun, dia tidak tahan lagi dengan perlakuan jahat dari mama mertuanya yang sering membuatnya merasa tidak dihargai.
Sebagai seorang istri yang baik, Berliana selalu berusaha untuk mempertahankan hubungan baik dengan keluarga suaminya. Namun, mama mertuanya selalu mencari kesalahan dan menyalahkannya atas segala sesuatu yang terjadi di dalam keluarga.
Mama mertua juga sering merendahkan Berliana dan membuatnya merasa tidak berharga.
"Maaf, mas Kenzie. Liana terpaksa pergi sendiri, bahkan tidak pamit pada mas Kenzie."
Sebenarnya, setiap kali Berliana mencoba berbicara dengan suaminya tentang masalah ini, suaminya selalu mengambil sikap netral dan tidak berusaha membela istrinya. Sebagai hasilnya, Berliana merasa kesepian dan terisolasi dalam keluarga suaminya. Dia merasa tidak memiliki tempat yang aman untuk berbicara tentang perasaannya, dan tidak ada yang mengerti situasinya.
"Hiks hiks hiks, aku merasa hanya pondok pesantren yang bisa menerimaku apa adanya." Berliana bergumam lagi, saat berada di perjalanan.
Pondok pesantren adalah tempat yang sudah lama menjadi tempat tinggal Berliana. Dia menghabiskan waktu bersama orang-orang yang memiliki tujuan yang sama dengannya pondok pesantren. Dia menemukan ketenangan batin dan mengembangkan spiritualitasnya. Namun, Berliana tidak pernah membayangkan bahwa dia akan pergi ke sana lagi tanpa suaminya setelah menikah.
"Huhuhu..."
Tangisan Berliana menemaninya dalam perjalanan menuju ke pondok pesantren dengan mengunakan bus umum.
Berliana tahu bahwa keputusan ini akan menimbulkan konflik dengan keluarga suaminya, terutama mama mertuanya dan suaminya sendiri. Namun, dia merasa bahwa dia harus mengambil risiko dan mengambil tanggung jawab atas hidupnya sendiri. Dia ingin menunjukkan kepada keluarganya bahwa dia memiliki hak untuk memutuskan nasibnya sendiri dan mengejar kebahagiaannya sendiri.
Ketika Berliana tiba di pondok pesantren, dia merasa sedikit canggung dan untuk bertemu dengan Abah kyai Jalil. Namun, dia segera merasa nyaman dengan suasana dan sambutan teman-temannya.
Berliana tiba di pintu pondok pesantren yang menghubungkan dengan rumah pribadi Abah kyai Jalil. Dengan rasa gugup dan sedikit takut. Namun, dia tetap memberanikan diri untuk bertemu Abah Kyai Jalil, yang terlihat ramah dan penuh kasih sayang. Sama seperti seorang ayah pada anaknya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
Abah kyai Jalil justru mengucapkan salam terlebih dahulu, karena Berliana terlalu takut untuk masuk dan bicara dengan guru ngajinya sedari kecil.
"Waallaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh, Abah Kyai. Saya datang ke pondok pesantren ini..."
__ADS_1
Berliana tidak sanggup untuk meneruskan kalimatnya. Dia justru menangis karena ingat dengan suaminya yang tidak bisa ikut serta datang ke pondok pesantren.
"Tentu saja, Nak. Abah berterima kasih atas kunjunganmu ini, tapi di mana Kenzie Zafran, suamimu?" tanya Abah kyai Jalil penasaran.
"Ma-af, Abah Kyai, suami sa-ya ti-dak bisa ikut serta ka-rena dia sibuk dengan pekerjaannya. Sa-ya, datang sendiri."
Abah Kyai Jalil menganggukkan kepalanya paham dengan perkataan yang diucapkan oleh Berliana. Dia mengenal Kenzie Zafran sebagai seorang pengusaha sukses, jadi sangat dimaklumi jika dalam keadaan sibuk.
"Oh, begitu. Tapi jangan khawatir, Nak. Kami akan mempermasalahkan hal tersebut. Anggap saja seperti biasanya dulu, kamu sudah ada di sini lebih dari dua puluh tahun. Anggap seperti di rumah sendiri."
Berliana mengangguk dengan takzim. "Terima kasih, Abah Kyai. Saya akan sangat berterima kasih atas semuanya."
"Tidak perlu berterima kasih, Nak. Kita adalah keluarga di sini. Mari, ikuti saja acara sebagaimana biasanya."
Abah Kyai Jalil membawa Berliana keliling pondok pesantren dan memperkenalkan dia kepada santri-santri baru yang lain. Berliana merasa nyaman dengan lingkungan yang hangat dan penuh kasih sayang. Dia merasa seperti menemukan tempat yang aman di mana dia bisa mengembangkan dirinya dan mengejar impian hidupnya selama ini.
Abah Kyai Jalil terdiam mendengar perkataan Berliana yang dia cerna dengan baik. "Sama-sama, Nak. Kami senang bisa membantumu. Jangan ragu untuk berbicara dan menghubungi kami jika kamu membutuhkan bantuan apa pun. Selamat datang kembali di pondok pesantren Abah, dan semoga Allah selalu memberikan keberkahan padamu."
"Aamiin..."
Di pondok pesantren, Berliana merasa bebas untuk mengekspresikan dirinya dan mengejar minat dan tujuan hidupnya selama ini. Dia merasa tidak lagi terikat oleh ekspektasi keluarga suaminya dan merasa bahagia dan tenang dalam hatinya. Berliana juga mulai merenungkan kembali tentang hidupnya dan menemukan bahwa dia memiliki banyak potensi yang masih bisa dikembangkan di pondok pesantren ini.
Namun, keputusan Berliana untuk pergi ke pondok pesantren sendiri tidak datang tanpa konsekuensi. Keluarga suaminya menjadi marah dan kesal dengan keputusan tersebut. Terutama mama mertua, yang sudah merasa tidak senang dengan Berliana sejak awal, mulai memperburuk situasi dengan mengumpulkan dukungan dari keluarga suaminya.
..."Liana, kamu ada di mana sayang?" ...
..."Assalamualaikum, Mas Kenzie. Maaf, Liana ada di pondok pesantren." ...
..."Pondok pesantren? Bagaimana kamu bisa ke sana sendirian? Apa itu baik?!" ...
__ADS_1
..."Maaf, Mas Kenzie." ...
..."Sebaiknya kamu pulang, Liana. Besok, saat ada acara lainnya, aku pasti mengantarmu." ...
..."Maaf, Mas Kenzie." ...
Berliana menerima telepon dari suaminya, yang bertanya tentang keberadaan dirinya, bahkan meminta dia untuk pulang ke rumah atau apartemen mereka. Namun, dia tetap teguh pada keputusannya yang ingin tetap berada di pondok pesantren saja.
***
Juwita dan Kenzie duduk di ruang tamu mereka, sambil menikmati secangkir kopi dan kue. Kenzie terlihat sedih dan sedikit murung.
"Apa yang sedang mengganggu pikiranmu, Sayang?" tanya Juwita pada Kenzie.
Kenzie menghela nafas panjang terlebih dahulu. "Hhh... Aku khawatir tentang Berliana, Ma. Dia pergi ke pondok pesantren sendiri tanpa menungguku. Aku tidak bisa menemaninya karena..."
"Huhh! Aku tahu itu bukan kesalahan kamu, Kenzie. Dia saja yang tidak sabaran! Katanya santriwati, tapi ternyata tidak punya kesabaran lebih."
Juwita justru mengolok-ngolok menantunya sendiri, dengan mengatakan beberapa hal yang buruk tentang Berliana pada Kenzie.
"Tapi, Ma. Bagaimana jika dia kesulitan atau merasa kesepian di sana?" Kenzie khawatir dengan keadaan istrinya.
Juwita tersenyum sinis mendengar perkataan Kenzie yang sedang khawatir. "Dia tidak akan merasa kesepian di sana, Sayang. Pondok pesantren adalah tempat yang penuh dengan kasih sayang dan perhatian yang layak untuknya. Dia kan memiliki banyak teman di sana, yang selevel tentunya! Jadi kamu tidak perlu khawatir."
Kenzie menghela nafas panjang kemudian mengelengkan kepalanya. "Hemmm... Ta-pi Kenzie merasa bersalah karena tidak bisa menemaninya ke sana." Wajah Kenzie tampak gusar dan tidak tenang.
"Jangan merasa bersalah, Sayang. Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri dan untuk pernikahanmu. Kamu harus memprioritaskan kesehatanmu terlebih dahulu sebelum bisa memikirkan orang lain. Berliana sudah dewasa dan dapat memikirkan keadaan dirinya sendiri!"
Kenzie mencoba untuk menenangkan diri dan pikirannya, agar tidak terlalu banyak merasa bersalah. Dia jadi berpikir jika istrinya itu ternyata juga egois dan tidak bisa mengamalkan ajaran agama yang dianut dan dipelajari Berliana selama ini.
__ADS_1