Mertua, Anak Dan Menantu

Mertua, Anak Dan Menantu
Disalahkan


__ADS_3

"Jangan pernah merasa sendirian atau terlalu lemah untuk menghadapi ujian hidup. Kita semua bersama-sama dalam perjalanan ini dan saling mendukung satu sama lain," kata Abah kyai Jalil memberikan nasehat.


Berliana dan Juwita, serta Calista tersenyum tipis meskipun masih dalam keadaan menangis. Mereka merasa terhibur mendengar kata-kata Abah kyai Jalil. Mereka merasa bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi ujian ini.


Pemakaman Kenzie kemudian selesai dengan suasana yang kelabu dan penuh kesedihan. Berliana belum beranjak dari tempatnya duduk, sedangkan Juwita, di tuntun Calista pulang dengan hati yang berat, tetapi mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian dan mereka akan terus menghadapi masa sulit ini bersama-sama.


Setelah para pelayat pergi, suasana di pemakaman terasa lebih sepi dan sunyi. Tidak ada lagi suara tangis atau kata-kata penghiburan yang terdengar. Hanya ada suara angin yang berdesir dan suara daun yang bergerak.


Berliana, sebagai istri almarhum Kenzie, merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Dia masih duduk di dekat pusara suaminya, terus memandangi nisan dengan tatapan kosong. Dia menangis dalam diam, teringat kenangan indah bersama suaminya selama beberapa bulan menjadi seorang istri bagi Kenzie Zafran.


Pemandangan di sekitar juga bisa menambah kesan sepi. Pohon-pohon yang tumbuh di sekitar pemakaman bergerak ditiup angin secara pelan-pelan, membuat suara yang agak menyeramkan. Burung-burung terkadang terdengar merengek, memberikan kesan yang semakin membuat hati Berliana bersedih.


"Mas Kenzie. Mas..."


Namun, di saat yang sama, suasana tersebut juga memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi Berliana. Dia merasakan kehadiran suaminya yang masih terasa di sekitarnya, memberikannya ketenangan batin. Seakan-akan ada keindahan yang terpancar dari pemandangan sekitarnya, dengan pemandangan matahari terbenam atau keindahan langit saat malam akan tiba.


"Mas Kenzie. Liana tahu, jika menangisi kepergian mu adalah suatu kesalahan. Tapi Liana tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Hiksss hiks hiks..."


Suasana di pemakaman setelah para pelayat pergi terasa sedih dan sunyi, namun juga bisa memberikan ketenangan dan keindahan bagi Berliana yang merindukan Kenzie. Suaminya yang telah pergi untuk selamanya.


***


Di rumah duka, Juwita marah-marah karena kehilangan anaknya. Dia marah pada Berliana yang menurutnya menjadi penyebab kecelakaan maut dan kematian Kenzie Zafran, anaknya yang dia banggakan.


Situasi di rumah sangat tegang dan penuh dengan emosi yang mendidih.

__ADS_1


Juwita, yang baru saja kehilangan anaknya, merasa sangat marah dan sedih, sehingga mencari seseorang untuk disalahkan atas kematian anaknya. Dia tidak menyadari kesalahannya sendiri.


Di saat seperti ini, ia memilih untuk mengkambing hitamkan menantunya. Menyalahkan Berliana, istri almarhum yang saat ini masih ada di pemakaman.


Juwita terlihat sangat marah dan mulai berbicara dengan nada tinggi dan penuh emosi. Dia meminta Calista, adiknya Kenzie untuk segera meminta Berliana kembali ke rumah. Dia ingin bicara dengan menantunya.


"Callista. Coba kamu jemput Berliana sialan itu!" perintahnya dengan nada tinggi.


"Ck! Bikin susah."


Dengan kesal dan jengkel, Calista pergi lagi ke pemakaman untuk menjemput kakak iparnya. Dia mengerutu sepanjang jalan.


Setelah beberapa saat kemudian, Calista sudah kembali bersama dengan Berliana.


Melihat kedatangan Berliana, Juwita langsung naik pitam lagi. Seakan-akan melihat wajah Berliana adakah sebuah kebencian yang mendalam.


"Mengapa kamu tidak menjaga anakku dengan baik? Apa yang terjadi?!"


"Aku tahu ini semua salahmu! Kamu harus bertanggung jawab atas kematian anakku!" Juwita menunjuk ke arah menantunya yang terisak dengan menunduk.


"Kamu tidak pantas hidup setelah apa yang terjadi pada anakku!"


Juwita terus marah dan menyalahkan Berliana, dan sulit untuk ditenangkan


dalam situasi seperti ini. Namun, Berliana paham dan juga memahami rasa sakit dan kesedihan yang dialami oleh mama mertuanya, Juwita, sebab dia juga merasakan hal yang sama.

__ADS_1


Berliana sendiri merasa bersalah karena kecelakaan suaminya terjadi saat berada di perjalanan untuk menyusulnya di ponpes. Jadi apa yang dikatakan oleh Juwita tadi ada benarnya. Berliana tidak berani menyahuti perkataan demi perkataan mama mertuanya yang sedang marah-marah.


Sebenarnya tadi, di saat Berliana duduk sendirian di dekat pusara suaminya, ia merenung tentang kejadian yang mengakibatkan kecelakaan yang merenggut nyawa suaminya. Berliana merasa bersalah dan merenung tentang keputusannya untuk pergi lebih dulu ke ponpes daripada menunggu suaminya, dan bagaimana keputusan itu akhirnya membawa akibat yang sangat buruk untuk Kenzie sendiri.


Namun, yang tidak diketahui Berliana adalah bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar yang beroperasi dalam latar belakang tragedi ini. Ada orang lain yang telah memainkan peran besar dalam memicu serangkaian kejadian yang mengarah pada kecelakaan fatal tersebut - Juwita, mama dari Kenzie sendiri hingga dia meninggal.


Juwita merasa sangat marah dan sedih atas kehilangan anaknya, dan mencari seseorang untuk disalahkan atas kematian anaknya. Pada awalnya, dia menyalahkan Berliana, istri dari almarhum Kenzie. Juwita merasa bahwa Berliana tidak menjaga suaminya dengan baik dan menjadi penyebab kematian anaknya.


"Mengapa kamu tidak menjaga anakku dengan baik? Apa yang terjadi?!" ucap Juwita dengan suara tinggi dan terdengar marah.


Namun, ketika waktu berlalu, Juwita mulai merenungkan kembali serangkaian kejadian yang terjadi sebelum kecelakaan itu terjadi. Dia mulai menyadari bahwa dia sendiri telah memainkan peran dalam kejadian ini, dan bahwa dia juga harus bertanggung jawab atas kematian anaknya.


"Hiks hiks hiks... maafkan mama, Kenzie..."


Juwita mulai merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya. Dia merencanakan sesuatu yang membuat Berliana dan suaminya gagal pergi ke ponpes bersama-sama. Ini adalah keegoisannya sendiri yang tidak ingin melihat Berliana bahagia bersama anaknya.


Sejujurnya Juwita merasa cemburu!


Tapi Juwita masih terus menyalahkan Berliana, seolah-olah hal itu akan membuatnya merasa lebih baik tentang apa yang telah terjadi.


"Aku tahu ini semua salahmu! Kamu harus bertanggung jawab atas kematian anakku!" ucap Juwita dengan suara keras dan penuh emosi.


Berliana tidak tahu bahwa Juwita telah merencanakan semuanya. Dia merasa bersalah karena kecelakaan itu terjadi saat dia pergi lebih dulu ke ponpes. Dia tidak tahu bahwa ada kekuatan lain yang memainkan peran dalam kecelakaan itu.


Berliana masih duduk di sofa, merenungkan kehilangan suaminya dan merasakan sakit yang ada di dalam hatinya. Dia merasa kesepian dan terluka oleh kata-kata Juwita yang terus menyalahkannya atas kematian suaminya.

__ADS_1


'Aku tahu aku salah. Tapi aku juga merasa sedih dan tertekan dengan semua yang sudah terjadi.'


Berliana hanya bisa berkata dalam hati, mencoba membela dirinya sendiri. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan setelah semua ini terjadi, apalagi Kenzie juga sudah pergi dan tidak ada bersama dengannya.


__ADS_2