Mertua, Anak Dan Menantu

Mertua, Anak Dan Menantu
Rumah Keluarga Berliana


__ADS_3

Berliana masih berduka atas kematian suaminya, yaitu Kenzie Zafran. Tapi mama mertuanya, Juwita, justru mengusirnya dari rumah karena tidak mau melihat wajahnya yang selalu mengingatkan pada almarhum anaknya. Namun, beberapa anggota keluarga lainnya, keluarga besar Kenzie dari pihak papanya merasa kasian dengan nasibnya Berliana yang sedari awal memang tidak disukai oleh mama mertuanya. Akhirnya mereka berinisiatif untuk membawa Berliana pulang ke rumah keluarga mereka dan meminta izin kepada Abah kyai Jalil sebagai wakil orang tuanya Berliana.


Abah Kyai Jalil duduk di ruang tamu sambil menunggu kedatangan Berliana. Dia tahu bahwa Berliana akan segera datang untuk bertemu dengannya. Karena saat ini, Berliana sedang berada di dalam kamar untuk membereskan beberapa barangnya yang masih ada di kamar yang ada di rumah.


Beberapa saat kemudian, Berliana datang ke ruang tamu menemui Abah kyai Jalil. Dia duduk di depan Abah Kyai Jalil dan menundukkan wajahnya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, Berliana. Bagaimana kabarmu?" tanya Abah kyai Jalil dengan memberikan salam.


"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, Abah. Saya baik-baik saja, terima kasih. Apakah ada yang ingin Abah bicarakan dengan, saya?" tanya Berliana.


Abah Kyai Jalil menganggukkan kepalanya mengiyakan. "Saya punya kabar baik untukmu, Berliana. Keluarga Kenzie dari pihak ayahnya, ingin membantumu dan memberikanmu tempat tinggal sementara."


Berliana terdiam sesaat, lalu menatap Abah Kyai Jalil dengan ekspresi yang bingung.


"Tempat tinggal sementara? Apa maksudnya, Abah?" tanyanya kemudian.


Berliana yang masih berduka atas kematian suaminya, Kenzie. Namun, ibu mertuanya berusaha untuk mengusirnya dari rumah karena dia tidak tahan melihat wajahnya, yang mengingatkannya pada mendiang putranya.


Jadi, beberapa anggota keluarga Kenzie yang lain, keluarga besarnya dari pihak ayahnya, merasa kasihan dengan keadaan Berliana yang sejak awal tidak pernah disukai oleh Juwita. Mereka memutuskan membawa Berliana ke rumah keluarganya dan meminta izin kepada Abah Kyai Jalil yang bertindak sebagai perwakilan Berliana.


Keluarga ayah Kenzie adalah keluarga yang dihormati di masyarakat, dikenal karena kebijaksanaan dan kasih sayang mereka. Mereka juga dikenal memiliki banyak usaha, yang bergabung dengan perusahaan keluarga, termasuk perusahaan yang dipimpin oleh Kenzie semasa hidupnya.

__ADS_1


Keluarga ayah Kenzie mengatur pertemuan dengan Abah Kyai Jalil, dan mereka menjelaskan situasinya kepadanya. Mereka memberi tahu dia bagaimana Berliana dianiaya oleh ibu mertuanya dan bagaimana mereka ingin menerima dan merawatnya. Abah Kyai Jalil mendengarkan dengan seksama dan menanyakan lebih detail tentang keadaan Berliana.


"Mereka ingin membawamu ke rumah mereka dan memberikanmu tempat tinggal selama kamu membutuhkannya. Keluarga Kenzie sangat prihatin dengan keadaanmu, dan mereka ingin membantumu."


Berliana diam mendengarkan semua penjelasan yang diberikan oleh Abah kyai Jalil. Dia paham dengan maksud keluarga almarhum suaminya itu. Tapi, dia sendiri memiliki apartemen yang dulunya ditempati bersama dengan Kenzie, meskipun belum lama. Tapi apartemen itu atas nama Berliana, hadiah dari Kenzie sendiri.


"Tapi... Mama Juwita... dia tidak ingin melihatku lagi setelah mas Kenzie meninggal." Berliana bingung dengan keadaan dirinya.


Abah Kyai Jalil menganggukkan kepalanya paham dengan maksud perkataan anak muridnya itu. "Saya tahu, Berliana. Tapi kamu harus mengambil keputusan yang terbaik untukmu dan bayi yang kamu kandung. Keluarga Kenzie dari pihak ayahmu sangat peduli denganmu dan mereka ingin membantumu. Mereka juga merasa bersalah karena tidak bisa membantumu sebelumnya."


Berliana merenung sejenak, lalu mengangguk perlahan. "Saya mengerti, Abah. Terima kasih atas bantuanmu dan keluarga mas Kenzie. Saya akan menerima tawaran mereka."


"Baiklah, Berliana. Saya akan mengatur semuanya untukmu. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja."


Berliana tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada Abah Kyai Jalil. Dia merasa lega bahwa ada keluarga Kenzie yang peduli dengannya dan siap membantunya di saat-saat sulit seperti ini. Meskipun dia masih merasa sedih karena kehilangan suaminya, Kenzie, dia merasa lebih kuat dan siap untuk menghadapi masa depan yang baru.


***


Sebelum Abah kyai Jalil menemui Berliana.


Juwita yang tidak peduli dengan keadaan menantunya, karena masih merasakan kesedihan dan duka yang mendalam atas kehilangan anaknya, Kenzie. Hal ini membuatnya merasa sangat sulit untuk melihat Berliana sebagai anggota keluarga dan merasa kesulitan untuk merasakan empati terhadap situasinya.

__ADS_1


Juwita juga memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang pernikahan Kenzie dengan Berliana, sejak Kenzie membawa pulang Berliana dan memperkenalkannya sebagai seorang istri. Dia memang tidak menyukai Berliana sejak awal.


Kini, Juwita bahkan tidak mau jika Berliana menginjakkan kakinya di rumah karena menganggap bahwa Berliana adalah pembawa sial, sehingga Kenzie meninggal dunia di usia muda.


"Ma, saya tahu bahwa mama tidak menyukai saya. Tapi tolong, ma, jangan salahkan saya atas kematian mas Kenzie. Saya mencintai mas Kenzie dan tidak akan pernah membiarkan semua ini terjadi padanya, jika bisa. Hiks hiks hiks..."


"Tidak! Kamu yang membawa sial ke dalam keluarga kami! Kenzie tidak akan meninggal jika kamu tidak ada!" Juwita marah pada Berliana saat datang meminta maaf.


"Tapi, ma, kecelakaan bisa terjadi pada siapa saja. Mas Kenzie pergi karena takdir Allah SWT. Bukan karena saya."


Mama Kenzie tersenyum sinis mendengar perkataan menantunya itu. "Tidak! Kamu yang membawa nasib buruk ke dalam keluarga kami! Saya tidak ingin melihatmu lagi. Segera pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi!" Juwita bahkan mengusir Berliana.


Berliana merasa sedih dan kecewa atas sikap Mama Kenzie yang keras kepala dan tidak mau mendengarkan alasannya. Dia merasa bahwa dia tidak bersalah atas kematian Kenzie dan tidak pantas diperlakukan seperti itu. Namun, dia juga merasa tidak memiliki tempat untuk pergi dan tidak tahu harus berbuat apa.


Sementara itu, keluarga Kenzie dari pihak ayahnya merasa prihatin dengan keadaan Berliana dan siap membantunya. Mereka tahu bahwa Mamanya Kenzie tidak mau menerima kehadiran Berliana, tapi mereka juga tidak bisa membiarkan Berliana sendirian dalam kondisi seperti ini.


Keluarga Kenzie dari pihak ayahnya memutuskan untuk membawa Berliana ke rumah mereka dan memberikannya tempat tinggal sementara. Mereka juga meminta izin kepada Abah Kyai Jalil sebagai wakil orang tua Berliana.


Meskipun situasi ini sangat sulit dan penuh dengan ketegangan, Berliana merasa lega bahwa masih ada keluarga Kenzie yang peduli dengannya dan siap membantunya.


Keluarga ayah Kenzie setuju untuk menuruti nasihat Abah Kyai Jalil dan berjanji akan merawat Berliana seperti anak mereka sendiri. Mereka berterima kasih atas bimbingannya dan pergi, bertekad untuk membuat Berliana merasa dicintai dan didukung.

__ADS_1


Sebenarnya, situasi Juwita juga sangat sulit dan penuh dengan kesedihan dan keputusasaan. Dia belum bisa menerima kenyataan bahwa putranya telah meninggal dan menganggap Berliana sebagai penyebab kematian tersebut.


Berliana benar-benar merasa sedih dan kecewa atas sikap yang ditunjukkan oleh Mamanya Kenzie. Dia merasa bahwa dia tidak bersalah atas kematian Kenzie dan bahwa Mama Kenzie harus mengerti bahwa kecelakaan bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja. Namun, Mama Kenzie sangat keras kepala dan sulit untuk diajak bicara.


__ADS_2