Mertua, Anak Dan Menantu

Mertua, Anak Dan Menantu
Berliana's New Life Journey


__ADS_3

Berliana akhirnya memutuskan untuk hidup berdua dengan anaknya, Kenzo, di apartemen tempat tinggalnya dulu saat masih bersama dengan suaminya, Kenzie.


Dia ingin memulai kehidupan baru dengan bimbingan dari Hartanti, Tante dari almarhum suaminya, meskipun keluarga Hartanti memintanya untuk tetap tinggal di rumah mereka. Tapi Berliana tidak mau, sebab dia juga orang luar yang bukan siapa-siapa lagi tanpa ada ikatan apapun kecuali karena adanya Kenzo saja saat ini.


"Tante dan Om, Berliana ingin berbicara tentang sesuatu yang penting."


Burhan dan Hartanti, kerja saling pandang mendengar perkataan Berliana yang terlihat serius saat ini.


"Ada apa, Berliana?" tanya Hartanti dengan lembut.


"Saya telah memutuskan untuk hidup berdua dengan Kenzo dan memulai kehidupan baru. Saya merasa bahwa ini adalah langkah yang tepat bagi kami." Akhirnya Berliana menyampaikan maksudnya.


Hartanti menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Berliana, yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.


"Berliana, aku memahami bahwa kamu ingin memiliki kehidupan mandiri bersama Kenzo. Tetapi, kami ingin kamu tetap tinggal di rumah kami. Kami merasa bertanggung jawab terhadapmu setelah kepergian Kenzie."


Burhan buru-buru mengangguk mengiyakan perkataan istrinya, karena dia juga tidak ingin Berliana pergi dari rumahnya.


Berliana telah memutuskan untuk hidup sendiri dengan Kenzo dan ingin memulai kehidupan baru. Dia mencari bimbingan dari Hartanti, Tante dari almarhum suaminya, untuk membantu dalam proses tersebut. Namun, keluarga Hartanti menginginkan Berliana untuk tetap tinggal di rumah mereka.


"Berliana sangat menghargai perhatian dan perasaan baik dari keluarga, Om dan Tante. Tetapi saya juga perlu menemukan jalan sendiri. Berliana bukan lagi siapa-siapa di sini, kecuali karena Kenzo. Saya ingin belajar bagaimana menghadapi tantangan hidup ini dan menjadi lebih mandiri."


Hartanti tampak gusar mendengar perkataan Berliana. "Tapi, Berliana, kamu adalah bagian dari keluarga kami. Kami peduli padamu dan Kenzo. Aku takut kamu akan kesulitan menjalani kehidupan baru ini tanpa dukungan dan bimbingan yang kami bisa berikan."


Berliana tersenyum senang mendengar perkataan Hartanti. "Saya sangat menghargai perhatian, Tante Hartanti. Tetapi saya juga ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa saya mampu melakukan ini. Berliana ingin menciptakan lingkungan yang stabil dan bahagia untuk Kenzo, dan saya percaya saya bisa melakukannya dengan bimbingan dan bantuan dari tante serta om."


Hartanti segera menganggukkan kepalanya mengiyakan. Dia juga melihat ke arah suaminya dan sama-sama tersenyum.


"Baiklah, Berliana. Aku mengerti keinginanmu untuk membuktikan dirimu sendiri. Jika itu yang kamu inginkan, aku akan mendukungmu. Tetapi, ingatlah bahwa kami selalu di sini untukmu jika kamu membutuhkan bantuan atau dukungan apa pun itu."


Berliana akhirnya merasa lega. Dia tersenyum dan mengangguk mengiyakan.


"Terima kasih, Tante, Om. Saya sangat menghargai dukungan dari kalian berdua. Saya berharap kita tetap bisa menjaga hubungan baik dan mungkin bisa bertemu sesekali untuk berbagi pengalaman dan cerita."


"Tentu, Berliana. Kami akan selalu menjadi bagian dari hidupmu dan Kenzo. Jangan ragu untuk menghubungi kami jika kamu membutuhkan apa pun. Semoga kamu berhasil dalam memulai kehidupan baru ini."

__ADS_1


Kali ini Burhan yang berbicara, karena sedari tadi ia hanya diam menyimak pembicaraan istrinya dengan Berliana.


Tapi ternyata Hartanti tidak menyerah. Dia bahkan menawarkan supaya Berliana mau menikah dengan anaknya, yaitu Dylan, supaya Berliana masih berada di rumahnya.


Tapi Berliana belum siap untuk memulai kehidupan baru dengan seorang suami. Apalagi Dylan masih muda, dan tentunya juga bisa jadi sudah memiliki kekasih sendiri di luar sana. Berliana tidak mau menekan perasaan Dylan dan membiarkan semuanya akan berjalan sesuai dengan takdir dari Allah SWT, supaya semuanya tidak terburu-buru.


"Bagaimana, Berliana?" tanya Hartanti setelah memberikan usulan.


Burhan juga tampaknya menyetujui usulan tersebut karena kemungkinan besar mereka sudah membicarakan ini jauh-jauh hari.


"Tante, Om. Saya menghargai tawaran untuk menikah dengan Dylan. Tetapi saya merasa bahwa saya sendiri belum siap untuk memulai kehidupan baru dengan seorang ikatan pernikahan ataupun seorang suami. Dylan masih muda, dan saya ingin memberinya kebebasan untuk menemukan jalan hidupnya sendiri."


Berliana menolak dengan halus karena dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini melihat sebuah arti pernikahan.


"Berliana, aku mengerti kekhawatiran mu. Tetapi kamu harus tahu bahwa Dylan sangat menyukaimu dan ingin menjalin hubungan yang lebih serius denganmu. Kami pikir kamu akan menjadi pasangan yang baik untuknya."


Berliana tersenyum tipis mendengar jawaban yang diberikan oleh tantenya. "Berliana menghargai perasaan Dylan, tetapi saya juga harus memikirkan kebahagiaan dan kesiapan pribadiku. Saya ingin membangun kehidupan yang stabil dan bahagia untuk Kenzo, dan saat ini saya merasa bahwa menikah belum menjadi prioritas utamaku."


Hartanti menawarkan agar Berliana menikah dengan anaknya, Dylan. Namun, Berliana merasa bahwa dia belum siap untuk memulai kehidupan baru dengan seorang suami, terlebih lagi Dylan masih muda dan kemungkinan memiliki hubungan dengan orang lain di luar sana.


Berliana ingin menghormati perasaan Dylan dan mempercayakan segala sesuatu kepada takdir Tuhan. Dia tidak ingin mendorong atau memaksakan apapun kepada Dylan.


Hartanti masih berusaha meyakinkan Berliana, meskipun sebenarnya dia sendiri belum meminta pendapat pada Dylan. Tapi sebagai seseorang ibu, dia tahu bagaimana perasaan anaknya jika sedang bersama dengan Berliana dan juga anaknya, Kenzo.


Dylan akan terlihat bahagia dan menyayangi keduanya dengan baik.


"Terima kasih atas pengertian, Tante Hartanti. Saya tidak ingin mengecewakan Dylan atau menghalangi kebahagiannya. Tetapi saya harus mengikuti hati dan intuisiku. Saya yakin bahwa segalanya akan berjalan sesuai dengan takdir yang telah Allah SWT tetapkan untuk kita jalani nanti."


Hartanti tampak menyerah. "Baiklah, Berliana. Kami akan menghormati keputusanmu. Apapun yang kamu pilih, kami akan tetap mendukungmu dan Kenzo. Jangan ragu untuk meminta bantuan jika kamu membutuhkannya."


"Terima kasih, Tante Hartanti. Saya berharap kita tetap bisa menjaga hubungan baik dan saling mendukung dalam perjalanan hidup kita masing-masing. Saya berdoa agar semuanya berjalan dengan baik untuk kita semua."


Berliana tidak ingin memaksakan kehendaknya pada Dylan dan memilih untuk mengikuti kehendak Allah SWT serta menghormati kehidupan pribadi Dylan. Meskipun ada perbedaan pandangan, mereka tetap saling mendukung dalam perjalanan hidup mereka masing-masing.


***

__ADS_1


Di tempat lain, Juwita masih dalam keadaan seperti biasanya. Masih beranggapan bahwa anaknya masih hidup, berbahagia dengannya. Rasa bersalah atas apa yang dilakukannya justru menekannya hingga depresi. Apalagi dia tidak mau minta maaf pada Berliana, mantan menantunya yang tidak pernah dia sukai sejak dibawa ke rumahnya meskipun yang membawanya adalah Kenzie sendiri.


"Anakku pasti sedang bermain di kamarnya sekarang. Aku bisa mendengar tawanya yang riang."


"Aku yakin dia sedang menyusun mainannya di ruang tamu. Aku akan pergi dan bermain bersamanya sebentar lagi."


"Lihatlah, makanan kesukaannya sudah habis. Anakku pasti makan semuanya. Dia benar-benar berada di sini."


Juwita, yang masih mempertahankan keyakinan bahwa Kenzie masih hidup dan hidup bahagia bersamanya. Dia merasa sangat bersalah atas tindakan atau keputusan yang telah dia ambil, dan perasaan bersalah ini menekannya hingga ia mengalami depresi tanpa mendapatkan penanganan yang baik karena dia selalu menolak untuk dibawa ke medis.


"Setiap malam, aku menggandeng tangannya saat tidur. Anakku selalu merasa aman bersamaku di sini."


"Aku mendengar suara anakku membaca cerita di kamar tidur. Dia begitu berbakat dan cerdas."


Juwita terus hidup dalam keyakinan yang kuat bahwa anaknya masih hidup dan baik-baik saja. Dia mencoba melupakan kejadian yang menyakitkan yang telah terjadi dan berusaha untuk tetap mempertahankan harapan serta kebahagiaannya.


Namun, di balik keyakinan itu, Juwita merasa sangat bersalah atas tindakan atau keputusan yang telah dia ambil. Ada penyesalan yang mendalam dan rasa bersalah yang terus menghantuinya. Perasaan ini, bersama dengan keyakinannya yang bertentangan dengan kenyataan, menghasilkan tekanan emosional yang berat, dan Juwita terperangkap dalam lingkaran depresi.


Selain itu, Juwita juga memiliki perasaan negatif terhadap Berliana, mantan menantunya. Ketidakcocokan dan ketidaksetujuan di antara mereka sejak awal, yang berdampak pada hubungan yang tidak harmonis. Karena alasan ini, Juwita tidak mau meminta maaf kepada Berliana, meskipun dia menyadari bahwa tindakannya telah menyebabkan rasa sakit dan kesedihan bagi Berliana dan juga cucunya.


"Ketika aku berbicara dengan anakku, dia selalu menjawab dengan lucu dan menggemaskan. Tidak ada yang bisa menggantikannya."


"Anakku sering berlari di halaman belakang rumah ini. Dia suka bermain dengan anjing kesayangannya di sana."


"Dia benar-benar ada di sini, aku merasa kehangatan pelukannya setiap kali dia memelukku. Tidak ada yang bisa meyakinkanku sebaliknya."


"Lihatlah gambar-gambar seni yang dia buat. Anakku pasti menghabiskan waktu lama untuk menciptakannya."


"Aku selalu menyediakan tempat tidur yang nyaman untuk anakku di kamarnya. Dia tidur nyenyak setiap malam."


Perkataan-perkataan ini mencerminkan keyakinan Juwita yang melampaui kenyataan bahwa Kenzie masih hidup dan berada di rumah bersamanya. Juwita menggambarkan interaksi dan keberadaan anaknya dengan detail yang sangat spesifik, meskipun Kenzie sebenarnya telah meninggal dan tidak lagi tinggal bersamanya.


***


Hai... novel TK ini tamat ya gaesss.

__ADS_1


Ambil poin positif dan buang yang negatif.


Tetap semangat dan sehat-sehat semuanya...


__ADS_2