Mertua, Anak Dan Menantu

Mertua, Anak Dan Menantu
Rencana Yang Gagal


__ADS_3

Rencana Kenzie yang akan menemani Berliana ke pondok pesantren justru digagalkan oleh Juwita.


Dia merencanakan sesuatu, pura-pura sakit, yang akan membuat kenzi tidak bisa pergi bersama dengan Berliana. Tapi sayangnya dia tidak berhasil sehingga marah-marah dan berkata kasar dalam hatinya sendiri.


'Br3ngs3k! kenapa Berliana setuju saja, yang justru membuat Kenzie curiga!'


Tadi, setelah Berliana menganggukan kepalanya setuju untuk menunda perjalanan mereka ke pondok pesantren, Kenzie justru menghubungi dokter keluarga agar datang dan memeriksa kondisi Juwita.


Akhirnya setelah selesai diperiksa oleh dokter, Kenzie tahu jika mamanya hanya pura-pura saja.


Juwita merasa frustasi dan kecewa karena rencananya untuk menghalangi Kenzie menemani Berliana ke pondok pesantren gagal. Hal ini membuatnya semakin kesal dan marah pada dirinya sendiri karena merasa tidak mampu mengendalikan anaknya. Selain itu, dia juga merasa bahwa Kenzie tidak lagi memperhatikannya dan hanya fokus pada Berliana, membuatnya semakin kesal.


Hatinya penuh dengan amarah dan kekesalan, dan dia merasa bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk menunjukkan bahwa dia juga penting dalam hidup Kenzie.


Dia menghubungi Alice untuk menemani dirinya agar tidak bad mood lagi.


Juwita mengambil ponselnya dan menelpon Alice. Suaranya terdengar gugup dan terbata-bata ketika Alice mengangkat telepon.


"Alice, bisa tolong datang ke rumahku sekarang?" ujarnya dengan nada yang sedikit memelas.


"Apa terjadi sesuatu, Tante?" tanya Alice khawatir.


"Ya, aku sedang tidak mood. Aku butuh teman bicara. Bisa tolong datang sekarang?" pintanya.


Alice mengerti bahwa Juwita sedang membutuhkan dukungan, jadi dia setuju untuk segera pulang ke rumah Juwita. "Baiklah, Alice akan segera pulang ke rumah. Tapi Alice sedang di tempat kerja sekarang, jadi butuh waktu sekitar 30 menit," jawabnya.


Juwita mengucapkan terima kasih dan menutup telepon. Dia merasa lega setelah mendapatkan teman bicara yang dapat dia andalkan. Meskipun dia tidak senang dengan situasinya, setidaknya dia tidak perlu merasa kesepian lagi setelah Kenzie pergi bersama Berliana beberapa menit yang lalu.


Akhirnya mereka, Juwita dan Alice berbicara tentang banyak hal dan menemukan beberapa solusi untuk mendapatkan Kenzie tanpa harus bersinggungan dengan Berliana secara langsung. Ini merupakan rencana agar Kenzie lebih peduli dengan mamanya tanpa curiga jika apa yang dilakukan adalah sebuah konspirasi yang mereka lakukan.


Juwita dan Alice duduk di ruang keluarga rumah Juwita. Juwita masih dalam suasana hati yang kurang baik setelah kepergian Kenzie dengan istrinya.


Alice merasa ada yang salah dengan Juwita dan bertanya, "Apa yang terjadi, Tante Juwita? Ada yang mengganggu pikiranmu?"

__ADS_1


Juwita menghela napas dan menjawab, "Aku lelah dengan sikap Kenzie yang terus memperhatikan Berliana saja dan melupakan aku sebagai mamanya."


Alice mengerti perasaan Juwita dan mengajukan saran, "Mungkin Tante bisa mencari cara untuk mendapatkan perhatian Kenzie tanpa bersaing dengan Berliana secara langsung."


Juwita tertarik dengan saran Alice dan bertanya, "Bagaimana caranya?"


Alice menjelaskan, "Misalnya Tante bisa mencoba membuat Kenzie merasa lebih nyaman di dekat Tante. Memberinya suasana yang menyenangkan dan nyaman. Atau mungkin Tante bisa memberinya makanan kesukaannya dan membuat waktu bersama menjadi lebih menyenangkan seperti dulu, waktu kecil dan belum ada Berliana."


Juwita merasa ide Alice cukup bagus dan dia tersenyum, "Terima kasih, Alice. Aku akan mencoba melakukan itu. Tapi, kenapa kamu tidak mau ikut ambil bagian?"


Alice menjawab, "Tentu saja, Tante Juwita. Tapi Alice sedang banyak pekerjaan dan sepertinya mencari perhatian dari Kenzie dengan cara seperti biasanya tidak akan mempan." Alice sepertinya menyerah.


Juwita berpikir sejenak dan mengajukan saran lagi, "Mungkin kamu juga bisa membantu aku dalam merencanakan sesuatu yang membuat Kenzie lebih peduli padaku tanpa mencurigainya bahwa itu adalah sebuah rencana?"


Alice mengangguk, "Tentu saja. Kita bisa mencari tahu apa yang disukai oleh Kenzie sekarang dan mencoba melakukan itu bersama-sama."


Juwita tersenyum, "Baiklah, itu cukup bagus. Terima kasih, Alice. Kamu benar-benar membantuku. Menantu idaman banget, sih!"


Mereka melanjutkan diskusi mereka tentang rencana Juwita dan mencari ide-ide yang bisa membantu Juwita mendapatkan perhatian Kenzie tanpa harus bersaing dengan Berliana secara langsung. Setelah diskusi yang cukup lama, mereka akhirnya menemukan beberapa ide yang mereka pikir akan berhasil.


***


"Ehh, i-ini apa-apaan?" Juwita gugup saat mengerem laju mobilnya, tapi dia tidak bisa mengendalikan kemudinya.


Tak lama kemudian.


Ceiittttt...


"Arghhh..."


Brakkk brukkk


Ninu ninu ninu

__ADS_1


Guing guing guing


Jalanan ramai dengan mobil polisi dan ambulans yang sedang bekerja sesuai dengan tugas masing-masing.


Kecelakaan yang terjadi pada Juwita, karena rencananya sendiri, yang berencana untuk mendapatkan perhatian anaknya. Tapi sayang sekali, semua yang terjadi ini justru membuatnya harus berbaring di rumah sakit sendirian.


Anaknya, Calista, sibuk dengan urusannya sendiri dan belum bisa kembali ke Indonesia. Begitu juga dengan Alice, perempuan yang dia inginkan untuk menjadi menantunya, sibuk mengurus pekerjaan karena sudah terlanjur tanda tangan kontrak dengan agenci.


Mereka berdua tidak ada yang peduli dengan keadaannya.


Juwita merasa sangat kesepian di rumah sakit. Dia merasa sangat sedih dan kesal pada dirinya sendiri. Ia mengingat kembali rencananya untuk mendapatkan perhatian Kenzie, tapi justru dia terluka parah dalam kecelakaan mobil. Dia menyesal karena keputusannya yang bodoh dan egois membuatnya menjadi terluka dan kesepian seperti ini.


"Sri, kamu sangat baik padaku. Terima kasih," ucap Juwita pada Sri.


"Sama-sama Bu Juwita, itu tugas saya sebagai perawat. Saya senang bisa membantu," balas Sri dengan senyumnya yang ramah.


Selama beberapa hari di rumah sakit, Juwita tidak mendapat banyak kunjungan. Anaknya, Calista, tidak datang sekalipun untuk melihatnya. Sedangkan Alice juga hanya mengirim pesan singkat untuk menanyakan kabar Juwita, tetapi tidak pernah benar-benar datang untuk menjenguknya. Juwita merasa sangat kesepian dan terisolasi di ruang perawatan.


Namun, ada seorang perawat di rumah sakit yang membuat Juwita merasa lebih baik. Perawat tersebut bernama Sri dan dia sangat perhatian terhadap Juwita. Sri selalu tersenyum dan membantu Juwita dalam segala hal, mulai dari membantunya makan hingga membersihkan ruangan perawatan. Juwita merasa terhibur dengan kehadiran Sri dan mulai terbuka pada perawat tersebut.


Juwita merasa bahwa dia perlu berbicara dengan seseorang tentang perasaannya. Dia tidak ingin menumpahkan semua beban itu pada Sri, yang sebenarnya adalah seorang perawat yang hanya melakukan pekerjaannya. Akhirnya, dia memutuskan untuk menelepon Alice dan memintanya datang ke rumah sakit.


"Alice, bisakah kamu datang ke rumah sakit? Aku merasa sangat kesepian dan butuh seseorang untuk diajak bicara," kata Juwita dengan suara lembut melalui telepon.


"Maaf, Tante Juwita. Alice sedang sibuk dengan pekerjaan. Tapi aku akan coba datang jika memungkinkan," jawab Alice dengan suara agak tergesa-gesa.


Juwita merasa kecewa. Dia merasa bahwa Alice tidak benar-benar peduli padanya, bahkan di saat dia berada di rumah sakit dan butuh bantuan. Dia merasa bahwa Alice hanya peduli pada dirinya sendiri dan tidak peduli pada orang lain. Juwita merasa semakin kesepian dan terisolasi.


Beberapa saat kemudian, Sri kembali masuk ke dalam ruangan perawatan Juwita dengan membawa beberapa buku dan majalah.


"Bu Juwita, saya bawa buku dan majalah untuk Ibu. Mungkin Bu Juwita bisa membacanya untuk mengisi waktu," kata Sri sambil tersenyum.


Juwita merasa terharu dengan perhatian Sri. Dia merasa bahwa ada seseorang yang benar-benar peduli padanya. Dia teringat dengan Berliana.

__ADS_1


__ADS_2