Mertua, Anak Dan Menantu

Mertua, Anak Dan Menantu
Meminta Ijin


__ADS_3

Berliana berdiri di hadapan Abah Kyai Jalil di ruang tamu pondok pesantren. Dia memegang selembar kertas yang berisi surat permohonan untuk tinggal di pondok pesantren.


Berliana ingin meminta ijin pada Abah kyai Jalil untuk bisa tinggal di pondok pesantren lagi. Dia meminta maaf karena tidak bisa menjadi seorang istri yang baik dan bertahan hidup di dalam keluarga Kenzie yang merupakan keluarga kaya.


"Assalamu'alaikum, Abah Kyai. Maaf mengganggu waktunya, Abah."


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Apa yang bisa Abah bantu, Berliana?"


"Saya ingin memohon ijin untuk tinggal di pondok pesantren ini lagi, Abah Kyai. Saya tahu bahwa saya sudah tidak punya pilihan tinggal di sini setelah menikah, tapi saya tidak bisa lagi bertahan hidup di keluarganya mas Kenzie, Abah."


Air mata Berliana mengalir tanpa bisa dicegah. Padahal sebelumnya dia sudah mencoba untuk mempertahankan diri agar tidak menangis di depan Abah kyai Jalil.


"Mengapa begitu, Berliana? Apa yang terjadi?"


Abah kyai Jalil tentu saja sangat terkejut mendengar perkataan Berliana yang dalam keadaan menangis seperti ini. Dia tidak tega melihat anak yatim yang dia didik dan rawat sejak kecil merasakan sakit hati. Abah kyai Jalil merasa bahwa dirinya juga merasa sakit, sama sekali tidak dirasakan oleh Berliana.


Berliana diam saja dan tidak menjawab pertanyaan dari Abah kyai Jalil dengan cepat. Dia berpikir banyak hal ketika harus membuka aib suami dan keluarganya sendiri.


"Bicara saja, Berliana. Mungkin ada yang bisa Abah bantu, atau setidaknya apa yang kamu rasakan selama ini bisa kamu keluarkan."


Mendengar nasehat dari Abah kyai Jalil Berliana menghela nafas panjang. Dia ragu untuk menceritakan tentang keadaannya sejak pertama masuk ke dalam keluarga Kenzie Zafran, suami yang diberikan oleh Abah kyai Jalil sendiri.


"Sa-ya, saya tidak bisa menjadi seorang istri yang baik, Abah Kyai. Sa-ya, saya tidak bisa menyesuaikan diri dengan gaya hidup keluarga mas Kenzie yang kaya dan mewah."

__ADS_1


Berliana terdiam sejenak untuk menghela nafas panjang, dan menghapus air matanya.


"Sa-ya, saya merasa terlalu banyak tekanan dan beban yang harus saya pikul. Saya merasa tidak nyaman dan tidak bahagia di sana, hiks hiks hiks..."


Tangis Berliana tidak bisa di tahan lagi. Dia menangis sesenggukan menahan diri untuk tidak menangis lebih kencang. Tidak hanya merasa bahwa dirinya salah, sebab pergi dari rumah dan ke pondok pesantren tanpa ijin dari suaminya.


"Sa-ya, saya pergi kemarin tidak izin sama mas Kenzie." Berliana menunduk setelah selesai mengatakan apa yang terjadi.


Abah Kyai Jalil terdiam dan hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan yang diberikan oleh muridnya, Berliana.


"Abah mengerti perasaanmu, Berliana. Tapi apakah kamu lupa, jika tidak ijin atau berbicara dengan suamimu tentang masalah ini? Itu adalah sebuah kesalahan," ujar Abah kyai Jalil memberikan peringatan.


Berliana semakin menunjukkan kepalanya tidak berani menjawab. Dia tahu jika dia salah dalam hal ini. Tapi perasaannya yang tertekan dengan semua keadaan dan pikirannya tidak bisa diimbangi dengan apa yang dilakukan saat ini.


Berliana menghentikan perkataannya terlebih dahulu untuk mengatur pernafasannya yang memburu karena rasa bersalah, takut dan tertekan yang berkumpul menjadi satu di dalam dada dan pikirannya.


Abah kyai Jalil juga diam saja menyimak dengan apa yang dikatakan oleh Berliana padanya.


"Ta-pi, tapi mas Kenzie tidak bisa membantu saya. Dia juga diam saja dan tidak menegur mama Juwita." Akhirnya selesai juga apa yang ingin disampaikan oleh Berliana.


"Mana, Abah mau melihat surat permohonan yang kamu bawa. Sudahkah kamu membuat dan membacanya sekali lagi?" tanyanya kemudian, saat berliana memberikan selembar kertas surat permohonan.


"Sudah, Abah Kyai. Saya menulis bahwa saya ingin tinggal di sini untuk menemukan kembali jati diri saya dan belajar lebih banyak tentang agama."

__ADS_1


Abah Kyai Jalil menganggukkan kepalanya paham dengan apa yang dikatakan oleh Berliana. Dia tahu ini berat, tapi dia juga berkewajiban untuk memberikan nasehat yang baik dan benar pada Berliana.


"Baiklah, Abah akan mempertimbangkan permohonan mu, Berliana. Tapi kamu harus memahami bahwa tinggal di pondok pesantren bukanlah hal yang mudah. Kamu akan dihadapkan pada berbagai tantangan dan ujian dalam perjalanan hidup Anda di sini, sama seperti yang kamu ketahui selama ini."


"Dan yang paling penting adalah, kamu mendapatkan izin dari suamimu. Bukannya apa-apa, tapi kamu sudah memiliki suami jadi ijinnya itu adalah sebuah restu."


Berliana semakin menunduk mendengar nasihat yang diberikan oleh Abah kyai Jalil. Dua sadar jika dia bersalah karena pergi dari rumah tanpa izin suaminya. Dan apapun yang dia lakukan tidak mendapatkan berkah apapun karena tidak adanya izin dari Kenzie.


"Maaf, Abah. Sa-ya, saya siap menghadapi tantangan itu, Abah Kyai. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk belajar dan berkembang di sini. Saya juga akan meminta izin kepada mas Kenzie melalui pesan maupun telepon."


Akhirnya Abah kyai Jalil menghela nafas panjang saat mendengar perkataan Berliana. Dia sebenarnya tidak tega melihat keadaan muridnya, karena secara tidak langsung Abah kyai Jalil merasa bersalahnya atas semua yang terjadi pada Berliana, sebab dirinya ikut terlibat dalam kesengsaraan yang dirasakan oleh Berliana atas perjodohan yang dia lakukan untuk Berliana dengan Kenzie Zafran.


"Baiklah, Bu Berliana. Abah akan memberikan kamu ijin untuk tinggal di pondok pesantren, tapi banyak untuk sementara waktu ini. Tapi kamu harus mengikuti aturan dan tata tertib yang berlaku di sini."


"Abah akan meminta para ustaz dan ustadzah untuk membantumu dalam proses belajar dan pengembangan diri di sini. Dan yang paling penting, setelah kamu mendapatkan izin. Jika belum, Abah juga tidak akan memberikan izin kamu untuk tinggal di pondok pesantren Abah."


Berliana mengangguk dengan takzim saat mendengar keputusan yang diambil oleh Abah Kyai Jalil.


"Saya sangat berterima kasih atas kesempatan ini. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakan Abah dan pondok pesantren ini." Berliana merasa mendapatkan angin segar setelah semua yang menimpanya.


Abah Kyai Jalil mengangguk. "Baiklah, Berliana. Kamu bisa mulai mencari kamar kosong yang tersedia dan mengatur kehidupan mu di sini. Abah doakan semoga kamu mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan di sini, setelah keputusan yang diberikan oleh Kenzie."


"Aamiin, terima kasih Abah. Terima kasih."

__ADS_1


Berliana mengucapkan terima kasih berkali-kali atas semua nasihat dan peringatan yang diberikan oleh Abah kyai Jalil. Dia akan segera menghubungi nomor ponsel suaminya, untuk meminta izin terlebih dahulu sebelum mencari kamar sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Abah kyai Jalil tadi.


__ADS_2