Mertua, Anak Dan Menantu

Mertua, Anak Dan Menantu
Terpengaruh


__ADS_3

Seiring dengan berjalannya waktu, Kenzie lama-lama mulai terpengaruh dengan semua omongan mamanya, tapi dia juga tidak mungkin menceraikan istrinya karena Berliana itu dijodohkan oleh pak kyai yang sudah menolongnya dari serangan dari arah "belakang" para pesaing bisnisnya.


"Ayolah Kenzie... kamu bisa mencari istri lebih cantik dan lebih dari segalanya dibandingkan Berliana." Juwita kembali mempengaruhi anaknya supaya berpisah dengan Berliana.


"Ma, Kenzie tidak tahu harus bagaimana. Kenzie sudah mulai memiliki perasaan pada Berliana, tapi Kenzie juga tidak ingin melawan keinginan Mama. Tolong jangan desak Kenzie terus, Ma." Kenzie memohon supaya bisa lebih tenang.


"Kenzie, aku tahu. Makanya itu harus secepatnya, sebelum perasaanmu bertambah dalam. Kamu juga harus melihat realitanya. Berliana bukanlah perempuan yang cocok untukmu. Dia tidak memiliki latar belakang yang memadai, dan keluarganya tidak sekelas dengan kita."


Lagi dan lagi, Juwita membahas status sosial menantunya. Dia tidak mau jika reputasi nya sebagai keluarga terpanjang akan jatuh karena memiliki menantu seperti Berliana.


Kenzie mengusap wajahnya dengan gelisah. "Tapi Ma, Berliana adalah jodoh dari Pak Kyai Jalil. Beliau mengatakan itu sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa menceraikannya?" terang Kenzie bingung.


Menurut Juwita, pak Kyai Jalil mungkin salah memberikan penjabaran atas ibadah yang dia lakukan sebelum memutuskan. Juwita hanya menginginkan kebaikan anaknya, jadi dia tetap bersikeras dengan memikirkan beberapa solusi. Dia bahkan memberikan saran pada Kenzie, supaya memberikan Berliana pada Abimana.


Abimana adalah seorang pria yang tampan dan sukses menjadi asisten dan sekretaris Kenzie.


Kenzie tentu saja terkejut mendengar usulan mamanya. "Tapi Ma, Kenzie tidak bisa melakukan itu. Bagaimana mungkin Kenzie menyerahkan istri Kenzie pada sekertaris Kenzie sendiri?"


Ide dan usulan mamanya dianggap sesuatu yang tidak mungkin oleh Kenzie. Bagaimanapun juga, Kenzie sudah memiliki perasaan yang kuat pada Berliana.


"Kenzie, kamu harus memikirkan masa depanmu dan juga garis keturunan keluarga kita Jangan terus mengikuti perasaanmu saja. Berliana bukanlah pilihan yang tepat untukmu. Dan jika kamu tidak bisa menceraikannya, maka berikanlah dia pada seseorang yang lebih cocok untuknya."


Kenzie mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak habis pikir dengan perkataan mamanya yang tidak masuk akal. "Tapi Ma, apakah itu benar solusi terbaik? Kenzie pikir tidak." Kenzie mengelengkan kepalanya.


Juwita menghirup udara terlebih dahulu, sebelum kembali berkata, "Kamu harus berpikir jauh ke depan. Berliana tidak akan bisa memberikanmu masa depan yang cerah. Kamu harus menikahi wanita yang bisa mendukungmu dalam karier dan kehidupanmu. Mumpung kalian belum punya anak, jadi lebih mudah dan ada alasan."


"Tapi Ma, Kenzie sudah merasa nyaman dengan Berliana. Kami telah bersama selama beberapa bulan ini, dan aku tahu jika dia adalah perempuan yang baik."


Juwita tersenyum miring mendengar perkataan anaknya. "Kenzie, baik itu tidak menjadi ukuran dari segalanya. Kamu harus berpikir dengan kepala dingin. Berliana bukanlah wanita yang bisa memberikanmu masa depan yang cerah. Kamu harus menikahi wanita yang bisa membantumu meraih kesuksesan, memberikan anak, stand bisa mengimbangi di pergaulan orang-orang sukses juga."


Juwita terus mencoba mempengaruhi Kenzie agar menceraikan Berliana dan menikahi wanita yang dianggapnya lebih pantas. Namun, Kenzie masih tetap saja mempertahankan Berliana sebagai istrinya, membuat Juwita kesal dan merasa usahanya sia-sia saja.

__ADS_1


Kenzie sendiri merasa ide dan usulan mamanya adalah sesuatu yang gila, pada saat mamanya memberikan saran supaya berliana diberikan saja pada asistennya, yaitu Abimana. Setelah itu kenzie bisa menikah dengan Alice atau siapa saja yang dirasa cukup bagus menurut Juwita.


***


Pernikahan merupakan salah satu momen penting dalam kehidupan manusia, dimana dua individu yang berbeda secara fisik, emosional, dan spiritual dipersatukan dalam sebuah ikatan yang dianggap suci. Namun, tidak selalu pernikahan berjalan dengan mulus, karena seringkali di dalamnya terdapat masalah-masalah yang membutuhkan penyelesaian.


Pernikahan Berliana dan Kenzie juga tidak luput dari permasalahan tersebut.


Masalahnya ini berasal dari eksternal, yaitu keluarga Kenzie. Mamanya Kenzie sangat tidak suka dengan Berliana, karena ia merasa bahwa Berliana tidak pantas menjadi istri Kenzie. Juwita, mamanya Kenzie menganggap Berliana tidak memiliki latar belakang yang memadai, dan bukanlah orang yang sekelas dengan Kenzie.


Sikap Juwita semakin memburuk ketika ia tahu bahwa Berliana dijodohkan oleh Pak Kyai, seorang tokoh agama yang tidak dua kenal, tapi cukup dekat dengan anaknya, karena pernah menolong.


"Aku harus mencari cara lain untuk memisahkan mereka berdua."


"Tapi, bagaimana ya?"


Juwita masih terus berpikir bagaimana caranya agar anaknya itu bisa menceraikan Berliana. Dia masih terobsesi untuk memiliki seorang menantu yang selama ini dia idamkan.


"Eh!"


Juwita yang sedang melamun memikirkan ide-ide yang akan dia gunakan untuk memisahkan Berliana dari Kenzie, terkejut dengan suara jatuhnya barang.


"Kamu!"


Ternyata yang jatuh bukan barang, melainkan Berliana yang bajunya tersangkut pada ujung kursi kayu ukiran. Bahkan sekarang baju Berliana juga sobek.


"Ck, dasar ceroboh!"


"Di mana matamu? Kursi sebesar itu tidak list!" Juwita bukannya menolong malah memarahi Berliana.


Berliana yang masih dalam keadaan terduduk di lantai, hanya meringis menahan rasa sakit. Lututnya terasa perih, mungkin juga lututnya lecet atau bahkan bisa saja berdarah. Tapi dia tidak mau terlihat lemah dan cengeng di depan mama mertuanya, jadi dua hanya menunduk saja.

__ADS_1


"Nyonya..."


Dari arah pintu ada Abimana yang tadinya mau menyapa Juwita. Tapi kalimatnya tidak dilanjutkan karena melihat Berliana yang duduk di lantai.


"Kamu datang Abi, pasti ada yang penting. Ada apa?" tanya Juwita, mengalihkan perhatiannya dari Berliana.


Abimana melihat sekilas ke arah Berliana, sehingga Juwita ikut melirik ke arah Berliana yang masih belum bergerak dari tempatnya duduk.


"Hai, kamu mau menguping? pergilah ke neraka sana!" Juwita jengkel karena berliana seakan-akan sengaja untuk tidak pergi dari tempat tersebut.


Juwita tidak tahu apa yang terjadi pada Berliana sekarang ini. Padahal Berliana sebenarnya sudah ingin berdiri, pergi dari hadapan mama mertuanya yang sedari tadi memaki dan berkata kasar padanya. Sayangnya kakinya tidak bisa digerakkan, bahkan perutnya kini terasa sangat sakit.


"Nyonya, itu... darah."


Juwita melihat ke arah pandang Abimana. Matanya melotot melihat bagaimana keadaan tempat duduknya Berliana yang banyak darah mengenang.


"Kamu..."


Abimana sigap membantu Berliana. Dengan gerakan cepat, Abimana membopong tubuh Berliana yang lemas dan tidak bisa bergerak di lantai meskipun dalam keadaan duduk.


Juwita bingung dengan keadaan ini. Dia tidak tahu harus bagaimana caranya untuk kejadian ini. Dia juga tidak tahu apa yang terjadi pada menantunya.


"Kenzie. Iya Kenzie!"


Akhirnya Juwita menghubungi nomor ponsel anaknya, memberitahu kejadian dan keadaan Berliana yang saat ini di bawa pergi Abimana.


..."Kenzie, apakah kamu tahu jika Abimana baru saja datang ke rumah dan membawa istrimu pergi?" ...


..."Apa maksud Mama?" ...


Akhirnya Juwita justru mengarang cerita yang berbeda dari kejadian yang sebenarnya tadi. Dia merasa perlu untuk memanfaatkan situasi yang terjadi saat ini, supaya Kenzie menuruti permintaannya.

__ADS_1


__ADS_2