
Di lain pihak, Juwita, mama mertunya Berliana marah-marah. Dia yang tidak suka dengan Berliana, semakin tidak suka karena merasa terabaikan. Dia tidak diundang ke dalam acara, padahal menurut Berliana, dia juga mengundang Mama mertuanya. Hal ini menimbulkan ketegangan dan konflik yang semakin panas diantara keduanya.
"Sudah jelas bahwa saya juga harus diundang, kenapa kamu tidak mengundang saya ke dalam acara? Apakah saya tidak berhak menghadiri acara yang seharusnya saya hadiri sebagai ibu dari suamimu yang sudah meninggal?" kata Juwita dengan nada yang tinggi.
Juwita merasa sangat kesal dan kecewa ketika mengetahui bahwa dia tidak diundang dalam acara syukuran dan aqiqah bayi Kenzo Zafran. Dia merasa diabaikan oleh Berliana dan merasa bahwa Berliana telah melanggar aturan sopan santun sebagai menantu yang baik.
Berliana mencoba menjelaskan alasan mengapa Juwita tidak diundang, namun Juwita tidak mau mendengar penjelasan tersebut. Dia semakin marah dan berusaha memaksakan diri untuk masuk ke dalam acara tersebut.
Keluarga paman dan tantenya Berliana berusaha menenangkan Juwita, tetapi tidak berhasil.
"Kamu tidak tahu betapa kesalnya saya saat mengetahui bahwa kamu tidak mengundang saya ke dalam acara. Ini bukan hanya masalah etika, tapi juga masalah hubungan antara kita. Kamu tidak bisa mengabaikan saya begitu saja," kata Juwita dengan nada yang semakin tinggi.
Berliana mencoba menjelaskan bahwa dia sebenarnya sudah mengundang Juwita, tetapi mungkin ada kesalahan komunikasi yang terjadi. Namun, Juwita tidak mau mendengar penjelasan tersebut dan semakin memperkeruh suasana.
"Kamu tidak perlu menipu saya, Berliana. Saya sudah bertanya kepada pembantu di rumah, dan mereka mengatakan bahwa saya tidak diundang ke dalam acara. Kamu jangan berbohong pada saya lagi," kata Juwita dengan nada yang semakin meninggi.
Berliana mencoba mengajak Juwita untuk duduk dan membicarakan masalah ini dengan tenang, tetapi Juwita menolak. Dia merasa bahwa Berliana tidak menghargai dirinya dan merasa bahwa dirinya diabaikan oleh keluarga Berliana.
"Ma, tenang ma. Mari duduk dulu, ma." Berliana masih berkata dengan suara rendah dan bersabar.
"Apa yang kamu lakukan ini sangat tidak sopan, Berliana. Saya sudah merasa cukup tidak dihargai olehmu, dan ini hanya menambah rasa tidak enak hati saya. Saya tidak akan tinggal diam, saya akan melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah ini," kata Juwita sambil meninggalkan acara tersebut.
__ADS_1
Setelah kejadian tersebut, suasana menjadi agak tegang dan beberapa tamu undangan merasa tidak nyaman dengan konflik yang terjadi. Berliana merasa sedih dan tidak tahu bagaimana cara menghadapi masalah ini. Dia merasa bahwa dirinya sudah berusaha untuk mengundang Juwita, tetapi mungkin ada kesalahan dalam proses komunikasi yang membuat Juwita merasa tidak dihargai.
Berliana mencoba menghubungi Juwita untuk membicarakan masalah ini, tetapi Juwita tidak mau menjawab telepon dan tidak merespon pesan yang dikirimkan. Berliana merasa sangat sedih karena masalah ini semakin memperburuk hubungan antara dirinya dan keluarga suaminya.
"Sudah Berliana. Juwita memang seperti itu. Mungkin dia masih bersedih dan belum bisa menerima kenyataan."
Burhan datang menenangkan pikiran Berliana, karena dia dan istrinya tidak bisa mencegah kemarahan mantan kakak iparnya itu.
"Tapi Om, saya takut dan malu. Semua orang pasti mengira bahwa saya tidak sopan dan membiarkan permasalahan di antara kami menjadi semakin lebar." Berliana menunduk sedih dengan air mata yang sudah menetes.
Di luar rumah, Juwita merasa senang karena bisa membuat kekacauan acara aqiqah cucunya yang telah membuatnya hancur. Dia memang diundang oleh mantan menantunya, tapi dia masih marah dan kecewa dengan meninggalnya Kenzie, sehingga dia pura-pura lupa dan menyalahkan Berliana.
Sebenarnya dia ingin sekali meminta maaf pada Berliana dan juga cucunya yang baru saja lahir. Tapi rasa gengsi dan kekecewaannya tidak bisa dia gambarkan dalam tindakannya saat itu. Dia pulang ke rumah dalam keadaan menangis.
Sebenarnya, Juwita sangat ingin meminta maaf dan memeluk Berliana dan juga cucunya yang baru lahir atas perlakuannya yang kurang sopan di acara aqiqah tersebut. Namun, rasa gengsi dan kekecewaannya terhadap meninggalnya Kenzie, anaknya yang juga merupakan suaminya Berliana, membuatnya sulit untuk mengungkapkan perasaannya dengan tulus.
Juwita merenung sejenak di dalam mobilnya ketika sedang dalam perjalanan pulang. Air mata mulai membasahi pipinya saat dia teringat akan Kenzie. Hatinya hancur ketika memikirkan betapa besar kehilangan yang dia alami. Kenzie adalah anak kesayangannya, yang selalu membuatnya tersenyum dan merasa bahagia.
"Huhuhu... maafkan mama, Kenzie. Ma-afkan mama, huhuhu..."
Namun, saat ini Kenzie telah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Juwita tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa kehadiran Kenzie. Dia merasa seperti dunia telah runtuh di atas kepalanya.
__ADS_1
Tiba-tiba, suara telepon mengalihkan perhatian Juwita dari pikiran-pikirannya yang suram. Dia mengambil telepon dan melihat bahwa itu adalah Berliana yang meneleponnya.
"Ma, tolong maafkan Berliana, ma." kata Berliana dengan nada lembut.
"Kamu tidak perlu meminta maaf padaku," jawab Juwita dengan suara yang masih terdengar terguncang.
"Liana tahu betapa sulitnya momen ini bagi mama. Liana juga merasa sedih atas kehilangan mas Kenzie. Tapi, Liana berharap kita bisa saling mendukung dan memperbaiki hubungan kita sebagai keluarga," kata Berliana dengan suara yang penuh dengan kebaikan hati.
Juwita merasa tersentuh oleh kata-kata Berliana. Dia merasa seperti ada harapan baru yang muncul di dalam hidupnya. Namun, rasa bersalah yang dalam dan kekecewaannya terhadap dirinya sendiri masih menghantuinya.
"Aku sungguh minta maaf, Berliana. Aku tahu aku sudah membuat kekacauan dalam acara aqiqah mu. Aku merasa sangat menyesal," kata Juwita dengan suara yang terdengar penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, ma. Yang terpenting adalah kita sudah saling memaafkan dan mencoba memperbaiki hubungan kita sebagai keluarga," kata Berliana dengan suara yang lembut.
Juwita merasa lega mendengar kata-kata Berliana. Dia merasa seperti beban yang selama ini dia pikul telah berkurang sedikit demi sedikit. Namun, dia tahu bahwa dia masih harus melakukan banyak hal untuk memperbaiki hubungan mereka sebagai keluarga.
Setelah berbicara dengan Berliana, Juwita mulai merenungkan kembali tentang hidupnya. Dia merasa seperti dia harus berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Juwita ingin mengajak Berliana dan anaknya pulang ke rumahnya. Dia ingin rumahnya terasa hidup lagi, karena saat ini rumahnya seperti tempat pemakaman yang sepi dan sunyi.
"Ahhh..."
__ADS_1
Juwita duduk di kursi yang ada di dalam kamarnya. Dia menghela nafas panjang kemudian membuangnya kasar. Ternyata dia hanya sedang melamun berbicara dengan berliana melalui panggilan telpon. Karena pada kenyataannya, panggilan teleponnya yang berdering sedari tadi tidak pernah diangkat.
Juwita ingin menghubungi Berliana dan mengajaknya serta cucunya untuk berkunjung ke rumahnya. Berliana terdengar sedikit ragu, tapi setelah Juwita meminta maaf dan memberikan alasan yang tepat, akhirnya dia setuju.