Mertua, Anak Dan Menantu

Mertua, Anak Dan Menantu
Kabar Mengejutkan


__ADS_3

"Apa? Tidak, ini tidak mungkin."


Berliana mengelengkan kepalanya beberapa saat mendengar berita dari Abah kyai Jalil.


Situasi ini sangat menyedihkan Berliana, yang merasa sangat terkejut dan sedih ketika mendengar bahwa suaminya telah meninggal dunia dalam kecelakaan. Dia terlalu terpukul oleh berita tersebut sehingga histeris dan pingsan. Beberapa santriwati segera berusaha untuk menolongnya dan memberikan pertolongan pertama.


Abah kyai Jalil yang juga hadir di tempat memberikan bantuan dan menghibur Berliana. Dia mencoba untuk menenangkan dengan membisikkan doa-doa dan kata-kata penuh kasih sayang serta penghiburan ke telinganya.


Abah kyai Jalil mencoba untuk menenangkan Berliana dan memberikan dukungan padanya selama masa sulit ini.


"Tenanglah, Berliana. Engkau tidak sendirian. Allah selalu bersama kita dalam setiap keadaan. Kami akan membantumu dan mendukungmu sebisa kami. Suamimu telah kembali ke Rahmatullah dan sekarang berada di sisi Allah," kata Abah kyai Jalil dengan suara lembut.


Berliana masih dalam keadaan yang sangat terpukul dan sulit untuk tenang. Namun, hadirnya Abah kyai Jalil memberikan ketenangan dan kehangatan pada hatinya. Abah kyai Jalil tetap berada di sampingnya dan membantunya melalui masa sulit ini.


"Kita begitu rumah sakit, ya"


Akhirnya setelah Berliana sadar, dia diajak untuk pergi ke rumah sakit melihat jenazah suaminya. Tapi mama mertuanya, Juwita, yang juga kecelakaan bersama dengan suaminya, sudah sadar dan menyalahkan dirinya sebagai biang kerok dari semua yang terjadi saat ini.


Situasi penuh dengan kesedihan dan kebingungan. Berliana merasa sangat terpukul oleh kematian suaminya dan harus menghadapi kenyataan bahwa dia harus pergi ke rumah sakit untuk melihat jenazah suaminya.


Mama mertuanya, Juwita, yang juga terlibat dalam kecelakaan tersebut, merasa kesal dan marah sehingga menyalahkan dirinya atas semua kejadian ini.


Ketika Berliana tiba di rumah sakit, dia disambut dengan kemarahan dari mama mertuanya. Mama mertuanya menyalahkan Berliana atas kematian anaknya dan merasa bahwa kejadian ini terjadi karena Berliana tidak mampu menjaga suaminya dengan baik. Dia merasa bahwa Berliana tidak cukup peduli dan mencintai anaknya dengan baik.


"Ini semua salahmu, Berliana! kamu pembawa sial! Seharusnya Kenzie tidak menikah denganmu!"


"Hiksss, maaf Ma."

__ADS_1


Kemarahan mama mertuanya pada Berliana hanya menambah kesedihan dan penderitaan Berliana. Dia merasa sedih dan kesepian karena kehilangan suaminya, dan sekarang dia juga harus menghadapi kemarahan dari orang yang dia cintai dan hormati. Namun, Berliana tetap sabar dan mengerti bahwa mama mertuanya juga sedang berduka atas kehilangan anaknya.


"Sabar. Semua ini adalah musibah dan cobaan dari Allah SWT. Kita tidak bisa menolak segala bentuk takdir yang telah ditetapkan sebagai garis hidup kita semua sebagai hamba-Nya."


Abah kyai Jalil, yang juga hadir di rumah sakit, mencoba untuk menengahi dan mengatur situasi ini. Dia memberikan dukungan pada Berliana dan mama mertuanya, serta mencoba untuk menenangkan kedua belah pihak. Dia berbicara dengan lembut dan bijaksana, dan mencoba untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara yang damai dan terhormat bagi semua orang yang terlibat.


***


Berliana duduk sendirian di ruang keluarga, menangis tersedu-sedu sambil memegangi foto suaminya. Dia merasakan kesedihan yang mendalam dan kehilangan yang tak terperi.


"Maafkan aku, mas Kenzie. Aku tidak bisa bersamamu saat kecelakaan itu. Aku tidak bisa menyelamatkanmu. Aku terlalu lemah untuk itu," gumam Berliana di antara tangisnya.


Tiba-tiba, pintu ruang keluarga terbuka dan Abah kyai Jalil masuk. Dia merasa iba melihat Berliana menangis sendirian dan menasehatinya.


"Tenanglah, Berliana. Engkau tidak sendirian. Allah selalu bersama kita dalam setiap keadaan," kata Abah kyai Jalil dengan suara lembut.


"Kenapa ini terjadi, Abah? Kenapa mas Kenzie harus pergi meninggalkanku? Aku merasa begitu bersalah dan menyesal. Mungkin aku tidak mencintainya dengan baik atau tidak peduli padanya dengan cukup. Sekarang, aku merasa begitu menyesal dan terluka," ujar Berliana sambil menangis.


Abah kyai Jalil mengangguk paham dan memberikan nasihatnya dengan bijak.


"Berliana, kita semua tidak bisa mengubah takdir Allah SWT. Ini adalah ujian yang diberikan-Nya untukmu. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita menghadapinya. Kita harus bersabar dan berusaha untuk menerima kejadian ini dengan lapang dada. Ingatlah bahwa Allah selalu memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang sabar dan beriman."


Berliana merasa lebih tenang dan terhibur mendengar nasehat dari Abah kyai Jalil. Dia mulai mengerti bahwa semua yang terjadi adalah takdir Allah SWT dan dia harus menerima kejadian itu dengan ikhlas.


"Terima kasih, Abah. Aku akan berusaha untuk sabar dan menghadapi ujian ini dengan lapang dada," ujar Berliana.


Abah kyai Jalil tersenyum. "Itu dia. Kita semua bersama-sama di sini untukmu. Kita akan membantumu melalui masa sulit ini. Jangan pernah merasa sendirian atau terlalu lemah untuk menghadapi ujian hidup."

__ADS_1


Berliana merasa sedikit lega dan terhibur mendengar kata-kata dari Abah kyai Jalil. Dia merasa bahwa dia memiliki seseorang yang bisa dia andalkan dan percayai dalam menghadapi kejadian sulit ini. Apalagi ada beberapa temannya, santriwati yang menemaninya saat ini.


"Dengan doa dan dukungan dari sahabat-sahabatku serta Abah kyai Jalil, aku yakin aku akan bisa melewati masa sulit ini. Terima kasih, Abah," gumam Berliana.


Abah kyai Jalil dan teman-temannya tersenyum, kemudian Abah berjalan keluar dari ruangan. Dia tahu bahwa Berliana masih harus menghadapi kesedihannya.


Pemakaman Kenzie diadakan di pemakaman umum yang terletak di pinggiran kota. Sejumlah orang telah berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir pada almarhum, termasuk kerabat, semua karyawan perusahaan dan teman-teman serta keluarganya.


Mereka berkumpul di sekitar liang lahat yang telah digali dan dipersiapkan oleh petugas pemakaman. Suasana pemakaman terasa sangat suram dan sedih. Beberapa orang menangis sambil memeluk keluarga yang ditinggalkan, sedangkan yang lain hanya diam dan merenung.


Berliana, yang sekarang terlihat lebih tenang dan sabar, duduk di dekat liang lahat. Sedangkan Juwita dan Calista menangis tersedu-sedu. Mereka merasa kehilangan yang sangat besar dan tak terperi.


Abah kyai Jalil berdiri di samping mereka dengan wajah serius. Dia memberikan doa dan nasihat singkat untuk menghibur mereka.


"Ya Allah, ampunilah dosa-dosa almarhum Kenzie Zafran dan tempatkanlah dia di sisi-Mu yang terbaik. Berikanlah kekuatan dan kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkan," ucap Abah kyai Jalil dalam doanya.


Setelah doa selesai, para tamu mulai membubarkan diri satu per satu. Mereka memberikan penghormatan terakhir pada almarhum dengan memberikan doa dan ucapan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.


Berliana dan keluarganya masih duduk di samping liang lahat, menangis dan merenung. Mereka terlihat sangat hancur dan tak bisa ditenangkan.


Abah kyai Jalil memutuskan untuk menghampiri mereka dan memberikan nasehatnya yang bijak. Dia berdiri di depan mereka dengan tenang.


"Berliana, Nyonya Juwita dan kalian semua. Kita semua tahu bahwa kepergian Kenzie adalah sebuah pukulan yang sangat berat bagi kalian. Namun, kita harus ingat bahwa dia sekarang telah kembali kepada Allah SWT. Kita harus menerima takdir-Nya dengan lapang dada dan menghadapinya dengan keimanan dan kesabaran," ujar Abah kyai Jalil dengan suara lembut.


Berliana mengangguk perlahan-lahan, menunjukkan bahwa dia mengerti akan nasehat dari Abah kyai Jalil.


Tapi tentunya tidak untuk Juwita yang kini terlihat sangat marah.

__ADS_1


__ADS_2