
"Alice?"
Kenzie terkejut pada saat masuk ke dalam rumah dan mendapati bahwa ada Alice di ruang keluarga. Jika Berliana, Kenzie sangat tahu jika istrinya pasti ada di dalam kamar.
Berliana memang tidak pernah ikut bergabung bersama dengan mamanya di ruang keluarga, karena mamanya sendiri yang tidak pernah bersedia untuk duduk santai bersama dengan istrinya.
"Kenzie, kamu masih sangat istimewa bagiku. Aku tidak pernah melupakanmu." Tatapan Alice tampak memuja dan mendamba.
"Alice, maaf. Aku sudah menikah dengan Berliana. Aku mencintainya dan tidak ingin menyakitinya." Kenzie mundur saat Alice datang mendekatinya.
Tapi bukan Alice namanya, jika mudah menyerah pada keadaan. "Kenzie, kamu tahu bahwa aku masih mencintaimu. Aku tahu bahwa kamu juga masih memiliki perasaan yang sama terhadapku," ujarnya dengan penuh percaya diri.
"Tidak, Alice. Aku mencintai Berliana dan aku tidak ingin menyakiti hatinya. Kamu harus menghormati perasaanku dan juga keputusanku ini." Tegas Kenzie memberikan peringatan.
Alice tersenyum manis, sebagaimana biasanya. "Tapi, Kenzie, aku masih mencintaimu. Apa kamu tidak merindukan bagaimana dulu kita bersama-sama?" Alice mencoba untuk mengingatkan Kenzie dengan kenangan lama bersama dengannya.
Kenzie mengeleng cepat. "Tentu saja aku merindukannya, tapi itu sudah berakhir sejak kamu memutuskan sendiri untuk pergi dariku. Untuk yang sekarang, aku mencintai Berliana dan aku harus setia padanya "
Tapi Alice justru terkekeh geli mendengar perkataan Kenzie yang tampak seperti orang lain yang tidak pernah dikenalnya. "Hehehe... Kenzie, kamu harus tahu bahwa Berliana tidak menyayangimu seperti aku. Dia tidak cocok untukmu. Kamu pasti tahu itu."
"Aku tidak peduli dengan apa yang kamu katakan, Alice. Berliana adalah orang yang baik dan mencintai aku apa adanya." Kenzie tetap pada pendiriannya.
Alice masih mencoba mengeluarkan jurus-jurus jitu untuk merayu Kenzie agar kembali jatuh cinta padanya dan meninggalkan Berliana. Namun, Kenzie menolak dan tetap setia pada istrinya. Situasi ini semakin menambah tekanan pada Berliana, seandainya dia melihatnya dan membuatnya semakin cemas dan tidak tenang dengan kehadiran Alice.
"Aku tahu kamu masih mencintai aku, Kenzie. Dan aku juga masih mencintaimu. Mari kita kembali bersama-sama, sama seperti dulu."
Di tempat duduknya, Juwita tersenyum senang melihat bagaimana Alice yang tampak cantik sedang merayu anaknya. Ini adakah keinginan dan rencannya sendiri, jadi tentu saja dia diem saja membiarkan Alice melakukan perannya.
__ADS_1
Alice tidak putus asa dan meminta bantuan pada Juwita, mamanya Kenzie supaya bisa mendapatkan waktu bersama Kenzie lebih banyak. Dan tentunya Juwita sangat senang mendengar permintaan Alice. Dia bahkan memiliki rencana untuk memberikan banyak pekerjaan rumah pada Berliana supaya tidak memiliki banyak waktu untuk bersama-sama dengan Kenzie.
"Tidak, Alice. Aku tidak bisa melakukan itu. Aku harus setia pada Berliana. Maaf, tapi aku harus pergi sekarang."
Setelah berkata demikian, Kenzie langsung pergi menuju ke arah kamarnya. Dia tidak mau jika istrinya akan melihat adegan ini. Bisa jadi Berliana akan semakin sedih dan kecewa, yang membuatnya semakin merasa bersalah karena belum bisa mengambil tindakan yang tegas.
***
Berliana sedang menyapu di ruang tamu, tapi secara tidak sengaja mendengar perbincangan mama mertunya dengan Alice.
Percakapan antara Alice dan Juwita berlangsung di ruang keluarga saat Berliana sedang sibuk dengan pekerjaan rumahnya. Alice dengan senyum lebar meminta bantuan pada Juwita untuk bisa lebih dekat dengan Kenzie. Juwita tentu saja menjawab dengan senang hati bahwa dia akan membantunya untuk memikat kembali Kenzie.
"Aku ingin memikat Kenzie lagi, Bu. Aku merasa kita perlu mengambil langkah ekstra untuk membuat Berliana merasa terusir dari keluarga ini," kata Alice dengan senyum lebar.
Juwita tersenyum dan mengangguk setuju. "Tentu saja, sayang. Aku siap membantumu. Kita bisa memberikan banyak pekerjaan rumah pada Berliana sehingga dia tidak punya banyak waktu untuk bersama-sama dengan Kenzie," jawab Juwita dengan senang hati, memberikan usulannya.
Juwita terdengar gembira. "Tentu saja, sayang. Tante selalu siap membantumu dalam keadaan apa pun yang kau butuhkan," kata Juwita dengan senyum penuh arti.
Sementara itu, Berliana yang sedang sibuk dengan pekerjaan rumah merasa semakin tertekan dan terpuruk dengan perlakuan mertuanya dan Alice. Dia merasa semakin terasing dan tidak dihargai oleh keluarga suaminya. Dia merasa sedih dan kesepian, dan berdoa agar dia bisa kuat dalam menghadapi situasi ini.
Sebenarnya Alice sendiri masih mencintai Kenzie, jadi Alice dengan senang hati menerima tawaran Juwita untuk tinggal di rumah mereka. Selainnya bisa menumpang gratis, dia tidak perlu memikirkan keperluan makan dan sebagainya karena Juwita pasti akan memenuhi kebutuhannya selama berada di rumahnya ini. Dia hanya perlu berpura-pura menuruti semua keinginan mamanya Kenzie.
Itulah sebabnya Alice merasa sangat senang ketika Juwita menawarkannya untuk tinggal di rumah mereka selama berada di Indonesia. Dia tidak perlu membayar sewa atau memikirkan keperluan sehari-hari karena Juwita akan memenuhi semua kebutuhannya. Namun, Alice tidak menyadari bahwa Juwita juga hanya memanfaatkannya untuk mendekatkan Kenzie dan Alice agar Berliana menyerah kalah dan pergi meninggalkan putranya.
Alice hanya memanfaatkan Juwita saja, tapi Juwita tidak menyadarinya, bahkan dia juga penutup mata untuk hal itu. Padahal Berliana sempat memergoki Alice yang sedang VC dengan kekasihnya yang orang bule dan ada di luar negeri.
Saat itu Alice memasang kamera laptop-nya dan muncul wajah pacarnya di layar.
__ADS_1
"Hi sayang, apa kabar?" Pacarnya Alice menyapa Alice saat gambarnya muncul.
"Hai, aku baik-baik saja. Bagaimana kabarmu di sana, sayang?"
"Baik-baik saja. Aku rindu kamu, sayang. Kapan kamu bisa ke sini lagi?"
"Aku tidak tahu. Sekarang aku sedang di Indonesia, tinggal di rumah mantan pacarku. Aku sedang memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan Kenzie kembali."
"Apa? Kamu sedang tinggal di rumah mantan pacarmu? Dan mengapa kamu ingin kembali dengan Kenzie? Bukankah kalian sudah putus? lalu bagaimana dengan aku, honey?"
"Iya, tapi aku masih mencintainya. Dan mamanya Kenzie membantuku untuk mendapatkan waktu bersama dengannya. Kami berencana merayu Kenzie lagi dan membuat istrinya semakin tidak betah, hingga dia meminta cerai dari Kenzie."
"Tapi apakah kamu yakin ini adalah hal yang benar? Kamu tidak boleh memanfaatkan orang lain untuk kepentinganmu sendiri. Berliana adalah manusia juga dan mempunyai perasaan."
"Tidak ada yang salah dengan itu. Aku hanya ingin mendapatkan Kenzie kembali. Mamanya Kenzie juga sangat senang membantuku dan memberikan banyak pekerjaan rumah pada istrinya Kenzie supaya dia tidak memiliki banyak waktu untuk Kenzie."
"Aku tidak tahu apa rencanamu. Sepertinya ini tidak etis dan tidak baik. Kamu seharusnya tidak memanfaatkan situasi ini untuk kepentinganmu sendiri. Apalagi, kamu tidak boleh membuat orang lain menderita hanya untuk mendapatkan yang kamu inginkan."
Sepertinya pacarnya Alice adalah seorang pria yang baik dan tikus mencintai Alice.
"Kamu tidak mengerti. Aku mencintai Kenzie dan aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya kembali."
"Tapi apakah kamu bahagia jika harus mendapatkan Kenzie dengan cara seperti ini? Apa yang kamu lakukan sekarang sama sekali tidak baik. Kamu harus memikirkan konsekuensi dari tindakanmu ini."
"Aku tahu apa yang aku inginkan dan aku akan melakukannya. Aku rasa kita tidak bisa melanjutkan percakapan ini lagi."
Klik
__ADS_1
"Huhhh, membosankan." Alice mengeluh tentang pacarnya.