Mertua, Anak Dan Menantu

Mertua, Anak Dan Menantu
Keputusan Besar


__ADS_3

Juwita beranggapan bahwa diamnya Berliana karena takut diceraikan oleh Kenzie dan tidak bisa hidup dengan nyaman lagi.


Berliana masih duduk diam di samping tempat tidur rumah sakit, sementara Juwita terbaring di atas tempat tidur itu. Sudah beberapa menit mereka berdua hanya duduk diam dan tidak berbicara apa-apa. Juwita akhirnya bertanya, "Ada apa, Berliana? Kenapa kamu diam saja?"


"Ti-dak, tidak ada apa-apa."


Jawaban Berliana gugup karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh mama mertuanya ini.


Juwita menatap Berliana dengan tatapan tajam dan berkata, "Aku tahu alasannya kamu begitu penurut adalah karena takut diceraikan oleh Kenzie, kan?"


"Mak-sud Mama?" tanya Berliana bingung.


"Kamu takut ditinggal anakku!"


Berliana merasa terkejut dan tersinggung oleh perkataan Juwita. "Apa maksud, Ma? Kenapa Mama bilang begitu? Sa-ya tidak takut diceraikan oleh Mas Kenzie! Dan saya tidak suka Mama bicara seperti itu."


Juwita tersenyum sinis dan berkata, "Oh, benarkah? Jangan berpura-pura, Berliana. Aku bisa melihatnya. Kamu hanya menemaniku karena takut kehilangan segalanya."


Berliana marah dan kesal dengan perkataan Juwita, tapi tetap berusaha keras untuk tenang dan sabar. "Mama salah besar! Saya tidak menemani karena takut diceraikan oleh mas Kenzie. Saya melakukan itu karena ingin membantu. Dan saya tidak mengirim pesan apapun kepada mas Kenzie!"


"Cuihhh! memangnya kamu pikir aku tidak tahu?!" Juwita tetap ngotot.


"Maaf, Ma. Saya pergi dari sini karena tidak tahan dengan sikap kasar Mama!"


Berliana tidak terima dikatakan seperti itu sehingga dia berniat pergi meninggalkan Juwita di rumah sakit, kemudian mengirim pesan kepada suaminya, Kenzie.


"Hehhh! Dasar tidak tahu diri. Sekarang kamu berpikir dengan mengirim pesan kepada Kenzie dan pergi meninggalkanku di sini, itu lebih penting?"


Berliana menatap Juwita dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, kemudian berkata, "Sudahlah, Mama Juwita. Saya tidak ingin mendengar alasan, Mama. Saya hanya ingin pergi dari sini dan menjauh dari sikap Mama yang kasar."

__ADS_1


Juwita seharusnya tidak asal mengambil kesimpulan dan mengatakan hal-hal yang bisa menyakiti perasaan Berliana. Namun, dengan perkataan kasarnya, Juwita telah membuat Berliana merasa tidak nyaman dan tersinggung sehingga mengambil keputusan yang sebenarnya sulit baginya.


Berliana kesal dan terkejut dengan perkataan Juwita yang kasar dan tidak sopan. Ia merasa tersinggung dan tidak suka dengan perlakuan Juwita yang membuatnya tidak nyaman. Namun, selain itu, Berliana juga bisa merasakan bahwa Juwita sebenarnya merasa khawatir dan terancam dengan keberadaannya di sana.


Berliana merasa sedih dan kecewa karena ia menemani Juwita dengan tulus dan ingin membantu, namun justru menerima perlakuan yang tidak baik dari Juwita. Selain itu, ia juga merasa frustasi karena Juwita tidak mau mendengarkan penjelasannya dan membuat kesimpulan yang salah tentang dirinya, mengenai hubungannya dengan suaminya sendiri, yaitu Kenzie.


Sambil berjalan dengan air mata yang tidak bisa dia tahan, Berliana mengirim pesan pada Kenzie. Memberitahu jika dia pergi.


"Assalamualaikum, Mas Kenzie. Liana sebenarnya ingin berbicara secara langsung denganmu tentang sesuatu yang penting. Aku mengalami situasi yang tidak nyaman saat menemani mama di rumah sakit. Ia seringkali marah-marah dan berkata kasar padaku, bahkan sampai membuatku merasa tidak nyaman. Tapi kali ini Liana tidak suka dengan perlakuan mama, dan saya merasa perlu mengungkapkan hal ini kepada mas Kenzie sebagai suamiku dan saya ingin mas Kenzie tahu segalanya. Saya berharap kita bisa membicarakan ini lebih lanjut dan mencari solusi yang tepat bersama-sama. Terima kasih, Kenzie."


Dalam pesan ini, Berliana mengungkapkan kekhawatirannya kepada suaminya tentang perlakuan Juwita yang tidak baik kepadanya di rumah sakit. Ia juga menekankan bahwa ia ingin berbicara dengan Kenzie dan mencari solusi yang tepat bersama-sama. Dengan cara ini, Berliana berusaha untuk menjaga komunikasi yang terbuka dan jujur dengan suaminya tentang apa yang terjadi dalam kehidupan mereka.


***


Pagi harinya.


Juwita menyambut kedatangan anak perempuannya yang baru saja datang dari Australia untuk menjenguknya.


Calista merentangkan kedua tangannya untuk memeluk mamanya. "Tentu saja, Mama. Aku dengar kabar Mama kecelakaan dan merasa sangat khawatir. Maaf, kemarin aku masih sangat sibuk."


Juwita tersenyum saat mereka berpelukan. "Mama baik-baik saja sekarang. Tapi sayangnya, Mama harus ditemani si Berliana di sini kemarin, dan dia membuatku kesal."


"Berliana? Apa yang terjadi?" tanya Calista.


"Aku tidak suka dengannya, dia selalu mengikuti Kenzie ke mana saja dan dia seperti mencoba mengambil perhatian terus. Mama terpaksa menerima keberadaannya karena Alice sibuk dan tidak bisa datang ke sini. Tapi semalam dia juga pergi."


"Mama ditemani Berliana? ohhh, aku pikir dus sudah tidak ada lagi di rumah."


Mereka berdua memang tidak menyukai Berliana sejak awal, jadi lebih kompak saat tahu jika Berliana tidak betah berada di samping mereka.

__ADS_1


"Oh, kamu sudah datang dan itu bisa menghiburku dan menemani Mama selama beberapa hari di sini. Mama merasa sangat kesepian dan butuh teman bicara."


Calista mengangguk mengiyakan permintaan mamanya. "Tentu saja, Ma. Aku akan selalu di sampingmu dan membantumu melewati masa sulit ini. Dan tentang Berliana, biarkan saja. Tidak perlu dipikirkan."


Juwita tersenyum mendengar perkataan anak gadisnya. "Hmm, mungkin kamu benar. Mama akan mencoba untuk tidak memikirkan lagi, apalagi jika dia benar-benar pergi dari rumah."


Mereka berdua tidak sadar, jika yang mereka bicarakan dan benci adalah istri dari Kenzie. Bagian dari keluarga mereka yang telah dipilih Kenzie untuk menemaninya dalam ikatan pernikahan yang sakral.


***


"Apakah kamu suka?" tanya Kenzie pada Berliana.


Sekarang ini mereka sedang berada di sebuah apartemen yang tidak terlalu besar, sesuai dengan keinginan Berliana sendiri. Istrinya itu tidak mau tempat tinggal yang mewah, cukup untuk mereka berdua saja, yang penting nyaman.


"Ini masih terlalu besar dan mewah, Mas."


Berliana yang terbiasa dengan kesederhanaan, menganggap apartemen yang disediakan oleh suaminya ini mewah. Padahal untuk ukuran orang seperti Kenzie, apartemen ini tentu saja biasa saja.


Ada dua kamar tidur, dengan kamar mandi di dalam kamar tersebut. Tapi ada kabar kecil di sebelah ruangan dapur juga, sedangkan jendela yang ada balkonnya menghadap ke arah keramaian kota besar sehingga tampak indah dengan kerlap-kerlip lampu yang tampak seperti bintang jika malam hari.


"Tapi, bagaimana dengan mama?" tanya Berliana saat memikirkan bagaimana pendapat mama mertuanya nanti, jika tahu bahwa sekarang ini mereka berdua akan tinggal di apartemen.


Cup


"Tidak apa-apa. Biarkan mama berpikir untuk menyadarkan pikirannya sendiri."


Kenzie mengecup kening istrinya untuk menenangkan, supaya tidak terlalu memikirkan pendapat mamanya jika sampai tahu jika mereka berdua sudah keluar dari rumah dan akan tinggal di apartemen ini.


Kenzie perlu mengambil keputusan untuk membuat mamanya sadar dan mengerti keadaannya yang sekarang ini, karena sudah memiliki tanggung jawab pada istrinya juga. Bukan hanya pada mama dan adiknya saja.

__ADS_1


__ADS_2