
Setelah menitipkan istrinya di pondok pesantren Abah kyai Jalil, Kenzie merasa terbebani oleh masalah keluarganya. Ia merasa sedih karena ibunya tidak menyukai istrinya, bahkan memintanya untuk bercerai. Maka, Abah kyai Jalil memberikan nasehat kepada Kenzie untuk mengatasi masalah ini.
Abah kyai Jalil merasa bertanggung jawab atas permasalahan mereka, karena dia ikut berperan dalam pernikahan antara Kenzie dengan Berliana.
..."Kenzie, permasalahan yang kamu hadapi saat ini memang cukup rumit dan sulit. Namun, sebagai seorang suami, kamu harus tegas dalam mempertahankan keluargamu."...
..."Apa yang harus saya lakukan, Abah?"...
..."Pertama, jangan pernah menyerah dan teruslah berdoa kepada Allah SWT. Berikan waktu kepada ibumu untuk mengenal Berliana lebih baik. Jangan lupa juga untuk selalu menunjukkan bahwa kamu tetap menghormati dan mencintai ibumu."...
..."Tapi, Abah, mama saya sangat keras kepala dan tidak mau mendengar alasan saya."...
..."Memang sulit, tetapi jangan pernah menyerah. Jangan pernah berhenti berusaha. Teruslah berbicara dan berdiskusi dengan ibumu. Jangan lupa juga untuk meminta bantuan orang yang lebih bijaksana dan lebih berpengalaman seperti kakek atau nenekmu jika mereka masih ada."...
..."Apa yang harus saya katakan pada Berliana, Abah? Dia merasa sedih karena mama saya tidak menyukainya."...
..."Katakan padanya bahwa kamu mencintainya dan akan selalu mempertahankan hubungan kalian. Ingat, pernikahan bukan hanya tentang kamu dan pasanganmu, tetapi juga tentang keluargamu. Kalian harus bekerja sama untuk menyelesaikan masalah ini."...
..."Terima kasih, Abah. Saya merasa lebih tenang setelah berbicara dengan Abah."...
..."Sama-sama, Kenzie. Ingatlah selalu bahwa Allah SWT akan membantu kita dalam menghadapi masalah. Tetaplah berdoa dan berusaha dengan ikhlas. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan dan petunjuk untukmu dalam mengatasi masalah ini."...
..."Terima kasih, Abah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."...
..."Waallaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh."...
Setelah mendapatkan nasehat dari Abah kyai Jalil, Kenzie memutuskan untuk pergi ke pondok pesantren untuk menemui istrinya esok hari. Dia merasa bahwa dia harus mengambil risiko untuk menemani istrinya. Dia merasa bahwa kehadirannya sangat penting bagi istrinya, setelah memastikan mamanya juga aman jika dia tinggal.
Tapi sedetik kemudian, Kenzie merasa khawatir tentang mamanya. Dia merasa bahwa ibunya akan sangat kesepian jika ditinggal sendirian di rumah. Kenzie tidak ingin membuat mamanya merasa sedih atau cemas.
Akhirnya, Kenzie memutuskan untuk membawa mamanya ke pondok pesantren bersamanya. Dia berharap bahwa mamanya akan mengerti keputusannya dan merestui pernikahannya dengan istrinya.
__ADS_1
"Aku akan mengajak mama ke ponpes, biar mana tahu bagaimana keadaan yang ada di ponpes. Tidak semua ponpes itu seperti yang ada di dalam pikiran mama."
Kenzie bertekad untuk mengajak mamanya supaya mengenal berliana dan lingkungan pondok pesantren lebih dekat.
***
Kenzie mencoba untuk membujuk mamanya, supaya mau ikut bersama dengannya. Tapi dia tidak bilang jika ingin pergi ke ponpes dan menemui Berliana, yaitu isterinya yang ada di sana karena jika dia bilang, maka mamanya akan menolak karena tidak suka dengan Berliana yang menjadi istrinya.
"Mama, besok Kenzie mau pergi ke suatu tempat nih. Apakah mama mau ikut denganku?" tanya Kenzie lembut. Dia tidak mau mamanya langsung merasa curiga.
Kenzie ingin membujuk mamanya untuk pergi ke sebuah tempat yang tidak disebutkan namanya. Kenzie berencana untuk bertemu dengan Berliana, istrinya yang ada di ponpes. Namun, Kenzie tidak ingin memberitahu mamanya bahwa Berliana akan hadir di sana karena dia tahu bahwa mamanya tidak suka dengan Berliana.
Sebenarnya Kenzie merasa kesulitan untuk menjaga hubungan antara mamanya dan istrinya. Dia takut jika mamanya mengetahui tentang keinginannya untuk pergi menemui Berliana di ponpes, sehingga mamanya marah dan membuat hubungan antara mereka bisa menjadi renggang atau bahkan bisa memperburuk hubungan di antara mereka. Oleh karena itu, Kenzie memilih untuk tidak mengatakan kebenaran pada mamanya agar dia mau pergi ke tempat yang diinginkannya.
"Ke mana kamu mau pergi, Kenzie?" Juwita bertanya dengan curiga.
Bukannya memberikan jawaban, Juwita justru bertanya balik pada anaknya. Dia curiga jika Kenzie akan menemui istrinya di ponpes.
"Tapi kenapa kok tiba-tiba ingin pergi?" Juwita kembali bertanya dengan cepat.
"Ya, ingin sedikit mengambil udara segar dan ingin pergi ke tempat yang baru. Jadi, apakah mama mau ikut?" tanya Kenzie sekali lagi, berharap agar mamanya setuju.
Dengan meminta mamanya untuk menikmati perjalanan saja tanpa memberikan penjelasan yang jelas, Kenzie berharap dapat menghindari pertanyaan-pertanyaan yang terlalu kritis atau menunjukkan ketidaknyamanannya. Namun, hal ini justru membuat mamanya semakin penasaran dan merasa tidak nyaman karena tidak tahu ke mana mereka sebenarnya akan pergi.
"Bilang dulu, memangnya kemana dan dalam rangka apa?" Ternyata juwita tidak mudah untuk diberikan alasan.
"Mama, besok ada acara di luar kota. Aku ingin pergi, apakah mama mau ikut?"
Akhirnya Kenzie mencoba untuk mengalihkan alasan yang sekiranya logis, agar mamanya tidak banyak memberikan pertanyaan lagi.
Kenzie masih mencoba untuk merayu mamanya agar mau ikut pergi tanpa memberitahu kebenaran tentang tujuan perjalanannya. Namun, mamanya masih merasa curiga dan bertanya lebih lanjut tentang tujuan perjalanan Kenzie.
__ADS_1
Kenzie merasa tidak nyaman atau cemas untuk memberitahu ibunya tentang tujuan sebenarnya perjalanan mereka, yaitu untuk bertemu dengan Berliana yang saat ini berada di pondok pesantren. Kenzie khawatir bahwa mamanya akan menolak untuk pergi ke sana atau bahkan merasa marah jika mengetahui tujuannya yang ingin bertemu dengan Berliana di sana.
"Acara apa yang kamu maksud? Kok tiba-tiba ingin pergi?"
Kenzie menghela nafas mendengar pertanyaan mamanya putar-putar. Jadi dia hanya melihat mamanya saja, dan tidak mau menjawab lagi.
"Mama ikut!"
Akhirnya Juwita mengalah dan memberikan jawaban bawa dia akan ikut ke mana anaknya akan pergi. Dia tidak mau jika ditinggal sendiri di rumah, takut seandainya Kenzie justru pergi menemui Berliana tanpa sepengetahuannya.
"Ok, ma. Kita siap-siap ya."
Kenzie meminta mamanya untuk bersiap siap, karena mereka akan segera melakukan perjalanan seperti yang tadi dikatakannya.
'Kemana sih sebenarnya?'
Juwita sendiri merasa penasaran kemana sebenarnya anaknya akan membawanya pergi. Tapi karena Kenzie sudah mengatakan bahwa mereka hanya akan pergi jalan-jalan saja, jadi dia tidak lagi memperdulikan rasa penasarannya dan segera mempersiapkan segala sesuatunya.
"Eh, tapi bawa baju ganti juga gak?" gumam Juwita bertanya.
Tadi, Kenzie hanya memintanya untuk bersiap siap tanpa memberitahu apakah harus membawa pakaian ganti atau tidak. Juwita akhirnya bingung sendiri, apakah harus mempersiapkan pakaian ganti atau hanya pakaian yang dikenakannya saja.
"Apakah aku harus bertanya?"
"Ma."
Tiba-tiba Kenzie Kenzie datang dari arah pintu, mencari keberadaannya.
"Eh, kebetulan. Apakah mama juga harus mempersiapkan pakaian ganti?"
Kenzie menggaruk belakang lehernya yang tidak terasa gatal, karena tidak tahu bagaimana harus memberikan jawaban atas pertanyaan mamanya.
__ADS_1