
Suatu saat ketika Berliana sedang duduk di ruang tamu rumah Juwita, tiba-tiba saja Juwita keluar dari kamar dengan wajah merah padam dan terlihat sangat marah. Berliana langsung merasakan atmosfer yang tegang dan cemas.
"Kamu kemana aja, Berliana?!" tanya Juwita dengan suara yang meninggi.
Berliana terkejut dengan pertanyaan Juwita. "Maaf Ma, saya hanya duduk di sini saja sedari tadi," jawabnya dengan suara gemetar.
Juwita mendekati Berliana dengan tatapan tajam. "Aku tahu kamu yang mengambil kalungku! Kalung permata berlian yang hilang dari laci kamarku. Kamu pasti mengambilnya! Kamu pasti ingin memiliki barang-barang ku yang mewah. Sama seperti Alice yang punya banyak perhiasan!" bentak Juwita dengan tatapan mata tajam mengintimidasi.
Berliana kaget dan tidak tahu harus berkata apa. "Ma-af Ma, sa-ya tidak tahu apa-apa tentang kalung itu. Saya tidak mengambilnya," jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
"Apa?! Kamu masih berani berbohong padaku?!" tanya Juwita semakin marah.
Plak
Berliana mencoba mempertahankan dirinya, tapi tamparan keras pada pipinya membuatnya tidak bisa menahan diri untuk menangis. "Saya benar-benar tidak tahu Ma, mohon percayalah pada saya," ucapnya dengan nada lembut, sedangkan air matanya mulai mengalir.
Namun, Juwita tidak menghiraukan permintaan maaf dan penjelasan Berliana. "Cuihhh! Kamu pasti sudah mencuri kalung itu dan kemudian kamu jual untuk mendapatkan uang. Kamu pembohong dan pencuri!" teriak Juwita semakin keras.
Berliana merasa sangat sedih dan terpukul dengan tuduhan itu. Dia hanya bisa menangis dan memohon pada Juwita agar mempercayainya, tapi Juwita tetap memaki-maki dan menuduhnya dengan kata-kata kasar.
'Ya Allah... apa lagi ini?'
Berliana akhirnya menyerah dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia merasa tidak dihargai dan tidak dianggap oleh keluarga Kenzie. Dia hanya bisa berdoa agar semua masalah ini bisa segera terselesaikan dan dia bisa melanjutkan hidupnya dengan damai.
'Mas Kenzie, tolong berikan penjelasan pada Mama. Aku tidak pernah mencuri apapun. Hiks hiks hiks'
__ADS_1
Berliana juga tidak bisa berbicara dengan Kenzie, sedangkan Kenzie semakin sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Ini membuat Berliana merasa terabaikan dan tidak ada yang peduli dengannya.
Berliana merasa sangat terpukul dan kesepian, tapi dia tahu bahwa dia harus tetap kuat dan tidak menyerah. Dia mencintai suaminya dan dia tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan mereka, meskipun harus mendapatkan fitnahan yang tidak pernah dia lakukan. Dia akan terus berjuang untuk kebahagiaannya dan keluarganya, dengan harapan bahwa Tuhan akan memberikan kekuatan dan bantuan dalam menghadapi cobaan ini.
Saat Juwita marah-marah dan memfitnah Berliana dengan tuduhan mencuri kalungnya, suasana dan situasi di ruang tamu menjadi sangat tegang dan emosional. Juwita terlihat sangat marah dan tidak terkendali, dengan suara yang meninggi dan bahasa tubuh yang agresif. Ia mengulangi terus-menerus tuduhan tersebut dengan sangat keras dan tegas, bahkan menuduh Berliana, yang berstatus sebagai menantunya sendiri dengan kata-kata kasar yang tidak pantas.
"Kalungku hilang dan aku tahu kau mencurinya, Berliana! Jangan berpura-pura tidak tahu!" bentak Juwita lagi, mengulangi tujuannya.
Berliana mengelengkan kepalanya beberapa kali, menolak tuduhan tersebut. "Tidak Ma, aku tidak mencuri kalung Mama. Aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu."
"Jangan berbohong! Aku tahu kau mencurinya dan kau harus mengembalikannya sekarang juga!" Juwita sudah sangat emosi.
Sementara itu, Berliana sangat terpukul dan merasa sangat tidak adil. Ia terus mencoba untuk membela diri atau mengungkapkan bahwa ia tidak bersalah, namun Mama mertuanya tidak memberinya kesempatan untuk berbicara, membuat Berliana merasa putus asa dan hanya bisa menangis. Dia merasa tidak dihargai.
"Tapi saya tidak mencuri kalung mu, Ma. Saya tidak tahu bagaimana bisa memberikan penjelasan, hiks hiks hiks"
"Halahhh... Aku tidak percaya! Kau pasti mencuri dan kau tidak akan pergi dari sini sampai kau mengembalikan kalung itu! Jangan sok suci, hanya bisa menangis saja jika sudah ketahuan seperti ini." Juwita terus menyerang menantunya.
"Hiks hiks hiks, tapi saya benar-benar tidak tahu di mana kalung itu, Ma. Berliana tidak mencurinya."
"Huh! Jangan berani-berani berbicara kepadaku lagi! Kau adalah pencuri dan kau akan membayar mahal atas perbuatan mu!" bentak Juwita dengan mendengus dingin.
Juwita terus-menerus menuduh dan memfitnah Berliana tanpa memberinya kesempatan untuk membela diri atau menjelaskan situasinya. Juwita berkata-kata dengan bahasa yang agresif dan memaksakan kepercayaannya pada Berliana tanpa adanya bukti yang jelas, membuat Berliana merasa sangat tidak nyaman dan tidak adil.
***
__ADS_1
Alice baru saja datang dari luar dan melihat kejadian ini. Dia justru menambahi tuduhan tersebut, menyebutkan bahwa Berliana itu orang miskin, jadi pastinya silau melihat perhiasan yang mahal.
"Ada apa, Tante?" tahta Alice ingin tahu.
"Berliana mencuri kalungku, Alice! Kau harus tahu ini!" terang Juwita mencari sekutu.
Alice tersenyum mengejek Berliana. "Tentu saja, Tante Juwita. Aku yakin dia mencuri kalung mu. Orang seperti dia pasti silau melihat perhiasan yang mahal."
Situasi ini menjadi semakin buruk. Alice tiba-tiba muncul dan memberikan tuduhan baru tentang Berliana yang dianggap sebagai orang miskin dan silau melihat perhiasan yang mahal, sehingga membuat Juwita semakin yakin bahwa Berliana adalah pencuri kalungnya. Atmosfer di ruang tamu menjadi semakin tegang dan sulit untuk ditangani dengan baik.
Berliana cepat mengelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak mencuri kalung Mama Juwita meskipun saya adalah orang miskin!"
Juwita kembali marah. "Jangan berani-berani membela diri, Berliana! Kau jelas mencuri kalungku dan kau harus mengembalikannya dengan segera!"
"Iya, dan kau harus membayar untuk apa yang sudah kau lakukan. Kau mencuri kalung mahal Tante Juwita, dan kau tidak bisa lari dari kenyataan itu!" Alice berkata dengan sinis.
"Tapi saya benar-benar tidak mencuri kalung Mama, saya juga tidak tahu di mana kalung itu berada." Berliana berkata dengan memastikan, bahwa dia bukanlah pencuri.
"Kamu jangan berbohong, Berliana! Aku tahu kamu mencurinya. Siapa lagi yang mencuri, karena di rumah ini tidak ada orang lain selain kamu saja sejak tadi."
Alice mengerutkan keningnya mendengar perkataan Juwita. "Iya, kita harus menyerahkan Berliana ke polisi dan meminta dia untuk bertanggung jawab." Akhirnya dia memberikan ide supaya Berliana dibawa ke kantor polisi saja.
Alice ikut memberikan tuduhan dan menambahkan situasi yang lebih buruk Sera keruh, membuat situasi semakin sulit dan membuat Berliana merasa tidak dihargai dan dituduh tanpa bukti.
"Tidak. Saya tidak mencurinya."
__ADS_1