
Berliana selalu merasa bersyukur atas kehangatan dan penerimaan keluarga suaminya. Namun, dia sekarang hidup dalam kesedihan dan kesepian karena suaminya, Kenzie, meninggal dunia dalam kecelakaan tragis bersama ibu mertuanya. Wanita muda itu ditinggalkan sendirian dan hamil, dan suaminya tidak tahu tentang kondisinya.
Alih-alih memberikan dukungan, ibu mertuanya malah mengusirnya, menyalahkannya atas kematian putranya.
Berliana sangat terpukul oleh kehilangannya dan sering mendapati dirinya menangis sendirian di kamarnya atau berdoa setelah sholatnya. Dia tidak punya siapa-siapa untuk berpaling, tidak ada orang untuk curhat, dan tidak ada orang untuk berbagi rasa sakitnya.
Kehidupannya yang tadinya bahagia telah terbalik, dan dia berjuang untuk menerima kesedihannya dan kesepian yang menyertainya.
"Ya Allah, tolong berikan aku kekuatan untuk menghadapi ujian-Mu yang berat ini. Berikan aku ketabahan dan keikhlasan untuk menerima takdir-Mu."
"Ya Allah, berikanlah kesembuhan dan kesehatan yang baik bagi bayiku. Lindungi dia selalu dalam rahimmu yang maha luas."
"Ya Allah, terima kasih atas semua yang Engkau berikan kepada aku. Terima kasih untuk waktu yang aku habiskan bersama suamiku dan mama mertuaku. Aku mohon ampun dan kasih-Mu untuk mereka."
Begitulah doa-doa yang dipanjatkan oleh Berliana sepanjang waktu, agar bisa menjalani hari-harinya dengan tegar dan kuat.
"Berliana. Bagaimana kabarmu, nak?" Adik dari almarhum papanya Kenzie, bertanya penuh perhatian.
Dia adalah kepala keluarga di rumah ini. Namanya Burhanuddin Zafran. Jadi, nama Zafran itu adalah nama keluarga untuk anak laki-laki dari pihak laki-laki.
"Alhamdulillah baik-baik saja, Om. Saya masih merasa sedih karena mas Kenzie meninggalkan saya dalam keadaan seperti ini. Tapi saya berusaha untuk kuat dan fokus pada bayi saya, untuk saat ini agar dia tumbuh tanpa ada sesuatu yang terjadi."
Berliana menjawab pertanyaan dari Burhan, dengan wajah sedih dan hampir menitikkan air mata lagi. Sama seperti biasanya.
"Ya, saya bisa bayangkan rasanya. Tapi kamu tidak sendirian, kami akan selalu ada untukmu. Bagaimana perkembangan bayimu?" tanya Burhan kemudian.
"Alhamdulillah, Om. Semuanya baik-baik saja. Dokter mengatakan bahwa bayi saya sehat dan normal."
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. Bagus sekali. Kamu tahu, anakmu akan menjadi pewaris Kenzie dan keluarga kami juga. Kami akan selalu menyayangi dan merawatmu berdua."
Berliana tersenyum tipis mendengar perkataan om Burhan. Di sisi lainnya, ada istrinya Burhan yang mengelus-elus punggung tangan Berliana.
"Terima kasih banyak, Om. Saya sangat berterima kasih atas bantuan dan dukungan keluarga, Om dan Tante."
"Sama-sama, sayang. Jangan sungkan-sungkan jika membutuhkan sesuatu." Sekarang, yang bicara adalah istrinya Burhan, yaitu Hartanti.
Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan, tapi rasa sakit Berliana tetap sama. Dia berjuang untuk melanjutkan kehamilannya sendirian, dan ketidakhadiran suami tercinta membuatnya semakin sulit. Dia menemukan pelipur lara dalam imannya dan dukungan dari saudara dekatnya, yang berdiri di sisinya selama saat-saat masa sedihnya.
Cinta Berliana untuk Kenzie tidak pernah berakhir, dan selalu berdoa untuk almarhum. Dia memikirkan tentang anak mereka, yang sering membuatnya kembali bersedih hati.
Akhirnya Berliana memutuskan untuk menulis surat cinta, meskipun tidak pernah dikirimkan pada siapapun, mencurahkan isi hati dan jiwanya ke halaman-halaman itu. Dalam suratnya, dia berbagi ketakutan, harapan, dan impiannya untuk anak mereka. Dia tahu bahwa Kenzie tidak akan pernah membacanya, tetapi menuliskan apa yang ada di dalam hatinya memberikan kenyamanan dan rasa kedekatan dengan mendiang suaminya.
"Ya Allah, jangan biarkan aku merasa sendirian dalam kesedihanku. Tunjukkanlah jalan kebahagiaan dan berikan aku keluarga dan teman-teman yang selalu mendukung dan menguatkan aku."
"Ya Allah, berikanlah aku petunjuk dalam mengasuh bayiku. Berikan aku kebijaksanaan dan kekuatan untuk menjadi ibu yang baik dan mengajarkan anakku tentang-Mu."
"Ya Allah, aku memohon perlindungan-Mu dari pikiran-pikiran yang negatif dan rasa sedih yang terus-menerus. Berikan aku kekuatan untuk menjalani hidup ini dengan sukacita dan damai."
Berliana selalu berdoa setelah selesai menulis surat kepada suaminya, yang hanya dia simpan di laci almari dalam kamarnya.
***
"Eh, terima kasih kak."
"Berliana. Tidak perlu terima kasih, saya senang bisa menemanimu. Apa yang bisa saya lakukan untuk membantumu?" Dylan, anak dari Burhan dan Hartanti, sedang membantunya mengambil botol yang ada di almari penyimpanan dapur.
__ADS_1
"Sebenarnya, saya hanya ingin sedikit memasak." Berliana bermaksud mengambil bumbu yang beredar di atas almari, karena dia ingin memasak sesuatu tanpa harus merepotkan pembantu rumah tangga mereka.
"Kenapa tidak minta tolong sama bibi? Atau sama mama?" tanya Dylan mengerutkan keningnya.
"Saya merasa sedih karena suami saya meninggal dan saya belum siap untuk menjadi seorang ibu tunggal. Jadi, mulai sekarang saya harus belajar mandiri, kak."
Berliana berkata dengan menundukkan wajahnya. Setiap mengingat kembali semuanya, dia selalu merasa sedih.
"Jangan bersedih, Berliana. Kamu bisa berbicara dengan saya kapan saja. Kami semua di sini untukmu. Kamu tidak sendirian."
Dylan sudah menganggap Berliana sebagai saudaranya, jadi dia berusaha untuk memberikan perlindungan untuk istri dari almarhum sepupunya.
"Terima kasih, kakak. Saya benar-benar menghargai dukungan mu. Saya sering kali berharap agar suami saya masih ada untuk melihat bayi kami." Berliana tersenyum getir.
"Saya yakin Kenzie akan selalu melihatmu dan bayimu dari surga. Dia pasti merasa sangat bangga dan senang melihatmu berjuang dan merawat bayinya dengan begitu baik." Dylan memberikan kata-kata semangat.
***
Ketika Berliana kehilangan suaminya, Kenzie, dalam kecelakaan tragis, tidak hanya Berliana yang merasa sedih. Mamanya Kenzie, Juwita, juga merasa kehilangan anaknya yang sangat dicintainya. Namun, ada rasa bersalah yang menghantui dia setiap saat, karena dialah yang bertanggung jawab atas kecelakaan itu.
"Hiksss... maafkan mama, Kenzie."
Juwita tahu bahwa dia melakukan kesalahan yang besar saat kecelakaan itu terjadi. Dia berusaha untuk meminimalkan kesalahannya dan memindahkan beban tanggung jawabnya ke Berliana, yang pada saat ini justru sedang hamil anaknya Kenzie. Dia merasa bahwa Berliana adalah kambing hitam yang tepat untuk menerima semua kesalahan dan tanggung jawab atas kecelakaan itu.
Namun, rasa bersalah dan rasa takut akan ditemukan kebenarannya selalu menghantui pikiran Juwita. Dia merasa sangat sedih dan berduka atas kematian Kenzie dan memutuskan untuk menyalahkan Berliana agar tidak menghadapi konsekuensi dari kesalahan fatalnya.
Juwita juga merasa kesepian dan terasing, karena keluarga Kenzie, dari pihak almarhum suaminya dan sahabat-sahabatnya tidak lagi berhubungan dengan dia setelah kecelakaan itu. Dia merasa bahwa dia telah kehilangan segalanya, termasuk anak dan cucunya, dan tidak tahu harus berbuat apa selain menyalahkan Berliana.
__ADS_1
Kondisi emosional Juwita menjadi rumit dan sulit diatasi. Seharusnya dia belajar untuk menghadapi kesalahannya dan menerima kenyataan bahwa dia harus bertanggung jawab atas tindakannya. Dia juga harus memperbaiki hubungan dengan keluarga Kenzie dan mendukung Berliana yang sedang hamil dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti.
Tapi dia terlalu egois, dan tidak mau mengalah dan mengakui kesalahannya.