
Kenzie bukanlah pria bodoh sehingga perlu melakukan konfirmasi laporan mamanya mengenai Abimana dan istrinya. Dia harus meminta penjelasan terkait dengan mamanya yang mengadu. Apalagi dia juga sudah kenal baik dengan karakter Abimana yang tidak mungkin berkhianat padanya.
Cepat Kenzie menghubungi nomor telepon asistennya, meminta penjelasan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Tut tut tut
Dering kedua panggilan langsung diterima Abimana.
..."Halo, Tuan."...
..."Halo, Abimana. Di mana kamu sekarang? Mamaku bilang kamu tahu tentang keadaan Berliana. Bisa jelaskan apa yang terjadi?"...
..."Tentu saja, Tuan. Maaf, tadi saya sedang menyetir sehingga tidak bisa langsung menghubungi, Tuan. Jadi, tadi nona Berliana jatuh dan mengalami pendarahan. Dia sekarang sedang di rumah sakit, di IGD untuk mendapatkan perawatan medis."...
..."D*mn. Aku harus pergi ke sana sekarang juga. Terima kasih telah memberi tahu saya. Tolong jaga istriku dulu sampai aku datang!"...
..."Tidak apa-apa, Tuan. Baik, saya akan menunggui nona."...
..."Saya akan pergi secepatnya. Pastikan istriku mendapatkan perawatan yang terbaik!"...
..."Pasti, Tuan Kenzie. Semoga nona Berliana bisa tertolong. Saya menunggu Tuan datang."...
..."Ya, segera."...
Klik
Untungnya Abimana bisa memberikan penjelasan tentang keadaan Berliana lewat panggilan telepon yang dilakukan oleh Kenzie, sehingga Kenzie langsung menyusul ke rumah sakit untuk melihat bagaimana kondisi Berliana yang tadi jatuh dan akhirnya mengalami pendarahan.
__ADS_1
"Agrhhh... mama bisa menyesal jika sampai terjadi sesuatu pada Berliana. Tapi, pendarahan? Apakah..."
"Ah, sial! Kenapa aku sampai tidak tahu!"
Kenzie merutuki dirinya sendiri, karena tidak memperhatikan keadaan istrinya. Dia mendengar penjelasan Abimana jika Berliana pendarahan, jadi kemungkinan istrinya itu sedang dalam keadaan hamil.
Tentunya Kenzie menyesal jika Berliana sampai keguguran. Mereka sudah menantikan kabar ini sejak lama, dan mereka belum tahu kabar bahagia ini, namun kesedihan yang akan mereka rasakan.
Sebenarnya Kenzie hampir saja terpengaruh dengan semua laporan mamanya, yang mengatakan bahwa Berliana pergi bersama dengan Abimana entah kemana. Mamanya Kenzie hanya mencoba untuk memfitnah Berliana.
Juwita memiliki motif tertentu untuk memfitnah Berliana dan Abimana, karena rasa cemburu atau tidak sukanya pada sang menantu. Kenzie hampir saja terpengaruh oleh laporan tersebut, tetapi untungnya dia tidak langsung percaya begitu saja dan mencoba meminta penjelasan dari Abimana sebelum membuat keputusan yang salah.
Kenzie adalah pemimpin perusahaan, jadi dia selalu memikirkan sesuatu dengan cerdas dan tidak mudah terpengaruh oleh desas-desus tanpa bukti yang jelas. Dalam situasi seperti ini, penting bagi Kenzie untuk mencari informasi dan fakta yang akurat sebelum membuat keputusan atau tindakan yang tepat, apalagi dia tahu jika mamanya punya motif khusus untuk sang istri.
Pernikahan Kenzie dan Berliana telah berlangsung selama enam bulan. Namun, kebahagiaan rumah tangga mereka terganggu ketika ibu Kenzie, Juwita terus mempengaruhi putranya untuk bercerai dengan Berliana sejak awal.
"Kenapa mama tidak pernah menyukai Berliana?" tanya Kenzie pada dirinya sendiri saat menuju ke rumah sakit.
***
Kejadian hari ini membuat Kenzie memutuskan untuk menolak semua keinginan mamanya, yang menginginkan dia bercerai dengan istrinya. Seiring berjalannya waktu, di dalam hatinya sendiri ternyata sudah mulai memiliki perasaan yang dalam pada istrinya.
Kenzie menolak dan tegas untuk mempertahankan hubungan antara dirinya dengan Berliana.
"Kenzie, aku masih tidak bisa menerima Berliana sebagai istrimu. Aku tahu kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari dia." Juwita menemui Kenzie yang masih berada di rumah sakit.
Juwita datang bukannya menengok menantunya, tapi justru meminta anaknya untuk bercerai lagi dari istrinya.
__ADS_1
"Ma, aku mencintai Berliana dan aku tidak ingin kehilangan dia. Kami telah menikah dan tidak ingin mengakhiri hubungan kami hanya karena pendapat Mama yang itu-itu saja."
Juwita mendengus dingin. "Tapi kamu bisa menemukan wanita yang lebih baik dari dia. Berliana tidak cocok menjadi ibu bagi cucu-cucuku nanti. Aku tidak ingin cucuku tumbuh dengan didikannya yang kuno."
Kenzie membuang nafas panjang. "Hhh... Ma. Mama salah tentang Berliana. Dia adalah istri yang baik dan penuh kasih sayang. Kenzie yakin dia akan menjadi ibu yang hebat untuk anak-anakku nanti. Mama, tolong menghargai hubunganku dengan Berliana dan menerima dia sebagai bagian dari keluarga kita." Kenzie memohon pada mamanya.
"Aku tidak bisa menerima hal ini, Kenzie. Aku tidak bisa membiarkanmu terus hidup dengan wanita yang tidak pantas untukmu. Aku khawatir kamu akan menyesal di kemudian hari. Mempertahankan kehamilannya caca tidak bisa!" Sarkas Juwita.
Kejadian kemarin membuat berliana harus kehilangan calon bayinya yang baru berumur lima minggu. Kenzie dan Berliana tentu saja sangat sedih, tapi Juwita justru memanfaatkan situasi ini untuk mendesak anaknya menceraikan Berliana.
"Ma, Kenzie tidak akan menyesal. Kenzie mencintai Berliana dan aku yakin bahwa hubungan kami akan menjadi lebih kuat dengan dukungan Mama. Kenzie meminta pada Mama untuk membuka hati dan mencoba memahaminya. Kami berdua ingin hidup bahagia dan damai bersama. Tolong dukung keputusan Kenzie untuk tetap bersama Berliana." Kenzie memohon.
Kenzie menolak permintaan mamanya untuk bercerai dengan Berliana dan memutuskan untuk mempertahankan hubungannya dengan istrinya, membuat Juwita marah dan kecewa. Dia merasa bahwa putranya tidak mendengarkan nasihatnya dan mengambil keputusan yang salah, sehingga ia berkata kasar dengan menuduh Berliana.
"Apa sih yang dilakukan perempuan itu sehingga kamu takluk? Apa kamu di guna-guna?"
Juwita mempertanyakan keputusan Kenzie dan mencoba mempengaruhi pikirannya dengan argumen-argumen yang merendahkan Berliana.
"Kamu telah diracuni oleh Berliana, Kenzie. Kamu sudah berani melawan Mama." Juwita berkata dengan wajah di buat sesedih mungkin.
Juwita berpendapat bahwa Berliana tidak layak menjadi istri Kenzie karena latar belakang keluarganya yang kurang baik dan tidak sebanding dengan status sosial Kenzie yang kaya dan berpendidikan tinggi, itu sudah biasa di dengar oleh Kenzie. Tapi sekarang alasan mamanya bertambah, karena Juwita juga merasa Berliana tidak cocok menjadi ibu bagi cucu-cucunya nanti.
"Ma. Ini sudah takdir. Untuk anak, itu tergantung rezeki. Jika ada, nanti juga Berliana bisa hamil lagi."
Mendengar perkataan anaknya, Juwita melengos. Dia tidak suka jika Kenzie membantahnya seperti sekarang ini. Padahal dulunya, Kenzie selalu menurut dengan apa yang dia katakan dan inginkan.
"Mama tidak tahu, apa yang sudah dilakukan Berliana. Tapi yang pasti Mama tidak suka kamu melawan Mama!" Juwita tegas berjaya dengan wajah mengeras.
__ADS_1
"Mama. Sebaiknya mama pulang dan beristirahat. Kenzie akan pulang bersama Berli jika kondisinya sudah membaik."
Tanpa menunggu untuk diusir untuk kedua kalinya, Juwita melenggang pergi tanpa mau melihat keadaan Berliana yang ada di dalam kamar rawat inap. Tadi mereka berdua memang berbicara di luar kamar, karena Juwita tidak mau masuk menjenguk menantunya.