
"Terima kasih sudah mau berkunjung ke rumah mama, Berliana. Mama sungguh senang bisa melihatmu dan Kenzo di sini."
Juwita memeluk tubuh menantunya, kemudian menciumi wajah cucunya yang dia rindukan selama ini.
"Tidak perlu berterima kasih, ma. Kami juga senang bisa berkunjung ke sini. Rumahmu sangat indah." Berliana tampak senang melihat perubahan sikap mama mertuanya.
"Terima kasih, sayang. Mama berharap kamu merasa nyaman di sini. Rumah ini memang terasa sangat sepi dan sunyi setelah Kenzie pergi. Bagaimana jika kalian di sini saja?" tanya Juwita memberikan penawaran.
"Maaf, ma. Aku juga merasa sedih ketika mengingat mas Kenzie. Tapi, kita harus terus berusaha untuk menjalani hidup kita ke depan, ma. Jangan sampai mas Kenzie justru mereka sedih melihat keadaan mama dan kita semuanya, ya ma."
Juwita menganggukkan kepalanya mengiyakan dan membenarkan perkataan Berliana. "Benar, Berliana. Aku berharap kamu bisa merasa lebih baik setelah berkunjung ke sini. Ayo, mari aku akan menunjukkan padamu beberapa mainan miliknya Kenzie sewaktu masih kecil dulu."
"Baiklah, ma. Aku sangat ingin melihat-lihat mainan kesukaan mas Kenzie."
Juwita mulai memperlihatkan setiap mainan anak-anak Kenzie yang masih tersimpan rapi di suatu ruangan di dalam rumahnya pada Berliana dan cucunya. Dia memberikan cerita tentang setiap mainan, dan juga mengajak Berliana untuk mengingat kembali kenangan-kenangan yang mereka miliki bersama.
"Dan inilah miniatur motor sport kesukaan Kenzie. Dia sangat senang bermain di sini."
"Kamar ini sangat indah. Aku selalu merasa nyaman ketika berada di sini. Mas Kenzie benar-benar anak yang hebat."
"Iya, dia benar-benar sangat istimewa. Aku merindukannya setiap saat. Tapi, aku juga menyadari bahwa aku harus terus maju dan menghadapi hidupku tanpa dia."
"Benar, ma. Kita harus terus maju dan menghadapi hidup kita. Mas Kenzie selalu ada di hati kita, dan kita akan selalu mengenangnya dengan cinta."
Juwita merasa lega bisa berbicara terbuka dengan Berliana tentang perasaannya. Dia merasa seperti beban yang selama ini dia pikul telah berkurang sedikit demi sedikit. Namun, dia tahu bahwa dia masih harus melakukan banyak hal untuk memperbaiki hubungan mereka sebagai keluarga.
__ADS_1
Setelah menghabiskan waktu bersama di rumah Juwita, Berliana merasa seperti dia telah menemukan kedamaian dan ketenangan. Dia merasa seperti rumahnya kini telah hidup kembali dan penuh dengan kehangatan dan kebahagiaan.
Beberapa saat kemudian.
"Huwaaaa..."
Secara tiba-tiba, bayangan Berliana dan cucunya pergi. Juwita kembali duduk di ruang tamu yang sunyi. Dia merenung sejenak tentang hari ini dan perasaannya yang berubah-ubah. Awalnya, dia merasa senang bisa mengajak Berliana dan cucunya berkunjung ke rumahnya. Namun, ketika mereka pergi, dia merasa sepi dan kosong lagi. Tidak ada kepergian yang ada di dalam hatinya seperti tadi.
Dia terus berpikir tentang Kenzie, anaknya yang telah meninggal kurang lebih satu tahun yang lalu. Dia merindukan suaminya dan juga putranya yang telah tiada. Juwita berharap bisa mengulang kembali hari-hari bahagia bersama mereka.
Namun, tiba-tiba dia tersadar bahwa semuanya hanyalah lamunan belaka. Suaminya dan putranya tidak akan pernah kembali lagi. Mereka telah pergi selamanya dan hanya meninggalkan kenangan yang indah untuknya.
Begitu juga dengan kedatangan Berliana dan Kenzo. Semuanya hanya angan dan lamunan Juwita sendiri, sebab pada kenyataannya tidak ada Berliana maupun anaknya yang datang berkunjung dan berbincang-bincang dengannya.
"Hiks hiks hiks... huhuhu..."
Juwita merasa kesepian dan sedih. Dia merasa seperti hidupnya telah kehilangan arah. Rumahnya terasa kosong dan sunyi tanpa kehadiran suaminya dan putranya. Semua ini terasa terlalu berat baginya.
"Aku harus bisa merubah sikap. Aku ingin kehidupanku yang bahagia dengan dikelilingi cucu-cucuku di hari tuaku sekarang ini."
"Tapi, apakah Berliana mau pulang lagi ke rumah ini setelah semua yang sudah aku lakukan padanya?"
Juwita ragu dengan niatannya. Dia tidak tahu bagaimana caranya meminta maaf pada Berliana, padahal dia juga ingin melihat Kenzo tumbuh kembang dengan baik di masa-masa pertumbuhannya sebagai seorang bayi.
Dengan melihat Kenzo, Juwita seakan-akan melihat Kenzie sewaktu masih bayi juga. Dan itu sangat menggemaskan.
__ADS_1
Namun, pada akhirnya Juwita menyadari bahwa dia belum bisa perdamaian dengan hatinya sendiri. Dia segera menggelengkan kepalanya membuang angan-angan yang tidak akan pernah dilakukan dalam waktu dekat ini.
"Tidak, tidak! Aku tidak mau tunduk pada Berliana. Dia bisa besar kepala dan berbangga hati."
"Lebih baik aku pergi keluar mencari kesenangan bersama teman-temanku. Mungkin dengan demikian, aku bisa sedikit melupakan kesedihan dalam hati."
Juwita sadar jika dia masih memiliki teman-teman sosialita. Teman-teman yang pastinya juga peduli padanya.
Mereka semua pasti akan selalu siap membantu dan mendukungnya di saat-saat sulit seperti ini. Juwita menyadari bahwa hidup terus berjalan, dan dia harus belajar untuk menerima kenyataan bahwa suaminya dan putranya sudah pergi meninggalkan dirinya sendiri di dunia ini.
"Aku harus tetap bisa happy. Buat apa terus bersedih? Kenzie tidak akan kembali untuk memelukku."
Juwita bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar Kenzie. Dia mengambil beberapa foto Kenzie yang terpasang di dinding dan mengelus-elusnya. Dia tersenyum lembut dan berkata dalam hatinya, "Aku akan selalu mencintaimu, Kenzie. Sampai kita bertemu lagi di surga nanti."
Juwita kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa. Dia mengambil album foto keluarga dan mulai memandanginya. Dia tertawa saat melihat foto-foto lucu putranya ketika masih kecil. Juwita merasa hangat di hatinya, dan dia menyadari bahwa meskipun suaminya dan putranya telah pergi, kenangan mereka masih hidup dalam hatinya.
Juwita merasa sedikit lebih baik sekarang. Dia tahu bahwa hidupnya mungkin tidak akan pernah sama lagi, tapi dia juga tahu bahwa dia harus terus bergerak maju. Hidup terus berjalan, dan Juwita akan terus hidup dengan kenangan-kenangan indah bersama suaminya dan putranya yang telah tiada.
"Haahhh... sekarang waktunya untuk happy!"
Setelahnya, Juwita pergi menuju ke kamarnya sendiri. Dia mencari pakaian terbaikku untuk digunakannya hari ini. Rencananya, dia akan menghubungi beberapa temannya untuk diajak bertemu. Merayakan kebangkitannya dari keterpurukan.
"Aku harus pergi. Aku akan menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa bahagia."
"Aku akan menjadi diri sendiri, dan aku tidak peduli dengan Berliana. Dia bukan siapa-siapa, dan karena dia juga, Kenzie akhirnya pergi untuk selamanya."
__ADS_1
"Seandainya Kenzie menikah dengan Alice, semuanya pasti akan baik-baik saja. Putraku tersayang masih bisa aku peluk dan bermanja-manja denganku."
Ternyata Juwita menolak perasaan bersalah dan rasa ingin melihat dan bertemu dengan cucu serta menantunya. Keegoisan Juwita sangat besar, dan itu mengalahkan perasaan hati dan akal sehatnya.