
Setelah Ayahnya dan Ibu Vina sampai di penginapan, Ayu datang mengunjungi mertuanya itu, Ayu langsung memeluk Ibu Vina dan mencium tangannya.
Ironisnya Vina Dan Ayu tua Ayu, namun Ayu tetap menghargai sebagai mertua. Beda sama Andra Ayu tidak menyalaminya.
" Eh Yu kamu ko tidak adil banget, ke Ibu Vina kamu cium tangan ke aku tidak kamu memang engga menganggap Mertuamu ya!" seru Andra.
" Ah tidak usah, aku engga mau salim sama kamu, nanti ujung ujung nya meledek" ucap Ayu.
Aswin melihat interaksi mereka itu cukup iri, diri Ayu seolah keluar semua, tidak jaim, dan semua keluar dengan natural.
Tidak dengan dirinya, seperi diatur kata kata saja Ayu sangat hati hati, tertawa saja jarang sekali kalau bersama dia.
Sungguh Ayu sangat beda kalau sudah ketemu Andra, Ayu seolah menemukan jati dirinya yang sebenarnya.
Ayu jika sama Aswin dia berusaha banget menyenangkan hati Aswin, dan berusaha tidak melakukan kesalahan.
Bila ketemu Andra, tawa sering berderai, kata kata tidak di atur semua keluar secara natural.
Sungguh sangat miris bagi Aswin, dia ingin Ayu bersikap apa adanya, jangan jaim.
Toh dia adalah suaminya, Aswin iri dengan kedekatan Ayu bersama dengan Andra.
Berbeda dengan Vina, boro boro merasa iri, Vina sangat menyayangi Ayu, sebab Vina mendengar semua kisah Ayu dari suaminya.
Dari mulai Ayu yang banyak di buli, banyak yang menghina tapi Ayu menahan seorang diri, Vina mendengar kisah itu menjadi sangat sedih.
Vina menyayangi Ayu begitu tulus, tidak ada sedikitpun rasa cemburu, Dalam hati Vina ingin mencurahkan kasih sayangnya pada Ayu dan anaknya.
Entah lah seperti ada satu ikatan namun apa Vina tidak tau, dia ikut sedih saat mendengar semua kisah Ayu.
Apalagi terakhir mendengar Ayu masuk rumah sakit dan mengalami depresi. Ayu yang seolah kuat terlihat dari luar ternyata sangat rapuh.
" Mas, kita kan dah ketemu sama Papa dan Ibu Vina, kita pulang yu" ajak Ayu.
" Coba Yu ulang kalimat barusan" kata Andra meminta Ayu mengulang kata yang menggelitik kupingnya.
" Ah tidak ada siaran ulangan, kamu jangan terus meledek aku Dra " sahut Ayu.
" Ya ampun Yu kamu tadi manggil Papah ,sekarang kamu manggil nama, emang ya cuma kamu mantu yang kurang ajar sama mertuanya " ucap Andra lagi sambil tertawa.
Ayu ikut tertawa, dia senang mampu membuat Andra bisa melupakan rasa kesalnya pada Lusi.
" Ya udah aku pulang ya Pah " ucap Ayu sambil mengambil tangan Andra dan menciumnya.
Andra terdiam, dan mengusap kepala Ayu dengan mata yang mulai berkaca kaca.
" Aku tidak pernah menyangka kamu akan jadi bagian hidupku, tapi kenapa jadi mantu ya" ucap Andra. Sambil tangannya mengusap ujung matanya.
" itu takdirku dari Allah, semua manusia punya nasib yang berbeda beda, begitupun aku, kenapa aku tidak dapat jodoh selagi aku muda, sebab jodohku baru lahir" ucap Ayu sambil tertawa.
__ADS_1
Ayu tidak ingin memperlihatkan kesedihannya pada Mertuanya, Ayu berusaha supaya mertuanya tetap bahagia.
Malah Ayu tak sedikitpun mengadukan perlakuan Lusi padanya.
Ayu sangat menjaga perasaan Andra, nama Andra akan selalu jadi prioritas kebahagiaannya, Andra tidak boleh sedih.
Aswin dan Ayu pulang ke rumah Ayu, di rumah Aswin kosong, sebab Lusi dam Lisa masih di rumah sakit.
Lisa masih menunggu Lusi yang masih belum boleh pulang, Lisa mencoba telpon Aswin dia masih berharap nunggu Lusi bersua Aswin.
Saat handphone nya berdering dan tidak ada namanya, langsung Aswin tolak, Aswin antisipasi dari pada jadi duri dalam rumah tangganya lebih baik menghindar.
Aswin melajukan motornya dengan cepat, sementara Ayu memakai mobilnya sendiri.
Ayu terlambat 1/2 jam dari Aswin. Aswin langsung nyari anaknya. Setelah setengah jam datang lah Ayu.
" Yu, kamu mau mandi biar aku siapkan airnya ya" ucap Aswin. Dia memang paling seneng melayani Ayu istrinya.
Entah kenapa jika melihat Ayu senang Aswin tambah bersemangat memanjakan Ayu.
Mungkin orang tidak percaya punya suami muda tapi sangat menyayanginya.
" Mas tidak usah, aku bisa menyiapkan sendiri " jawab Ayu.
Tapi Aswin tidak peduli, dia tetap mengerjakannya.
Ya Aswin selalu meminta tak terduga, Ayu harus selalu siap kapan saja, jiwa muda yang selalu ingin melihat yang cantik cantik dan berbuat semua itu, tapi Aswin selalu pulang sama Istrinya.
Ayu semakin kesini semakin lihai memanjakan suaminya. Jadi Aswin tidak perlu orang lain.
" Yang , udah dong, aku sudah dingin banget" ucap Ayu.
" Bentar dulu, kamu bilas dulu gih" ujar Aswin.
Ayu langsung membilas badannya, dan cepat mengeringkannya, dan meninggalkan Aswin yang masih asyik menikmati mandinya.
Beres rutinitas dikamarnya Ayu menuju Dapur, sekalipun ada Art sungguh Ayu tidak memberatkan, yang bisa dia kerjakan pasti dikerjakannya.
Aswin Pun sama sudah selesai bersih bersih, diapun ke dapur mengekori istrinya.
" Mas mau makan sekarang, aku siapkan ya?" tanya Ayu pada Suaminya.
" Iya Yu, aku lapar juga, aku terakhir makan tadi pas sarapan sama kamu Yu" jawab Aswin.
" Emang di rumah sakit engga sempat makan?" tanya Ayu keheranan.
" Pertama tadi aku panik, kedua aku bingung dengan kejadian yang menimpa orang tuaku itu, ko bisa terluka bersamaan" ujar Aswin lagi.
" Iya ya, aku aja tadi engga sempat nanya sama Ayahmu Mas kenapa bisa terluka bareng" jawab Aswin.
__ADS_1
" Tadi Papah sama Ibu Vina datang ke rumah kita, disana malah dihadapkan dengan Mamah dan Lisa" jelas Aswin.
" Mereka bertengkar?" tanya Ayu lagi.
" Ya begitulah, Mamah mau menyerang Ibu Vina, dihalangi sama Papah malah Mamah tambah ngamuk , semua dilempar ke sembarang arah, pas mau kena Ibu Vina, Papa yang menghalangi, jadi Papa yang terluka" Aswin menjelaskan dengan detail.
Ayu paham dengan penjelasan Aswin, pasti Lusi terluka Andra lah pelakunya. Ayu tau sifat Andra kalau yang disayanginya ada yang nyakitin pasti dia akan membalas dengan lebih kejam.
Ayu pernah ada di posisi Ibu Vina, selalu di lindungi, setiap ada yang merundung nya, Andra tau langsung kabar yang merundungnya menjadi tidak beruntung. Ayu yakin banget Andra akan murka jika itu terjadi.
Mereka pun makan dengan hidmat, Aswin sekali kali nyuapin Ayu. begitupun Ayu melakukan yang sama. Sementara Luky sudah ada dikamarnya.
Di lain tempat di waktu yang sama,Lisa terus mencoba telpon Aswin, dia mau ditemani dirumah sakit nunggu Lusi, kapan lagi ada kesempatan meraka berdua.
Lisa tidak tau saja Aswin sudah tidak sudi bertemu lagi kalau tidak terpaksa, apalagi menerima perjodohan itu, Aswin bergidik kalau ingat kelakuan Lisa yang berusaha menjebaknya. Dan berakhir dengan 3 satpam menggilir Lisa.
Lisa tidak pantang menyerah, dia berusaha dengan segala cara, dia chat Aswin dengan kabar yang buat orang panik.
" Mas, Ibu kritis, aku tidak tau harus gimana, dari tadi di telpon engga di angkat angkat" isi chat Lisa.
Aswin bukan orang bodoh, dia tadi sempet minta no Dokter yang menangani ibunya dan Aswin Pun memberikan no kontaknya pada Dokter tersebut.
Aswin hanya membacanya, lalu ia telpon Dokter itu.
" Halo Mas"
" Selamat malam Dok, maaf mengganggu, saya hanya mau nanya, gimana perkembangan Ibu saya" tanya Aswin.
" Oh Ibu Lusi perkembangannya bagus, besok juga bisa pulang hanya luka di luar saja" jawab Dokter itu.
" Makasih Dok, sekali lagi maaf menggangu waktu Dokter" ucap Aswin lega.
Bagaimanapun Lusi Ibunya, seburuk apapun dia tidak akan meninggalkannya, apalagi Ibunya dalam keadaan tersesat.
Aswin ingin Ibunya menyadari semua kesalahannya. Dia mau Ibunya hidup normal seperti orang lain, tidak diliputi dengan dendam yang membara.
Aswin membalas chat Lisa " Coba kamu lihat yang bener, mungkin yang kritis otak kamu Lisa"
" Aku baru saja telpon Dokternya Mama baik baik saja, dan besok sudah boleh pulang" isi chat dari Aswin.
Lisa berang begitu membaca balasan dari Aswin. Timbullah niat dalam hatinya untuk membuat Ibu Lusi kritis betulan.
Dengan dipenuhi otak licik dan dia menyusun segala rencana sambil tersenyum.
Yu kita tunggu bab berikutnya.
Apakah Lisa akan berhasil melaksanakan niat jahatnya. Kita tunggu ceritanya semakin seru.
selamat membaca
__ADS_1