Mertuaku Adalah Sahabatku

Mertuaku Adalah Sahabatku
Ayu terpuruk.


__ADS_3

Ayu merasa dirinya hancur, dia tidak sanggup untuk menghadapi kehamilannya seorang firi lagi, apalagi kehamilan yang sekarang sungguh sangat menyiksanya.


Disaat Ayu melemah, badai justru datang, namun dia harus bangkit, dia punya anak yang harus diurusnya, juga janin yang harus dipertahankan.


Ayu langsung bangkit dan beristigfar, dia mengambil air wudhu dan langsung melangsungkan sholat.


Dia berdoa meminta dikuatkan hatinya dengan ujian hidupnya. Ayu bersimpuh dengan linangan air mata yang terus menerus turun tanpa dikomando.


Sementara Aswin mulai termakan omongan Lusi yang tiap saat memfitnah Ayu dengan fitnahan yang keji dan tidak mendasar.


Aswin berpikir Ibunya pasti benar, sebab Aswin tau Ibunya yang lembut serta penuh kasih sayang padanya juga adiknya.


Dia berpikir tidak mungkin Ibunya tega memfitnah Ayu tanpa sebab.


Kini Aswin benar benar membenci Ayu, malah dia menyesali keputusan nya dulu untuk menikahi Ayu.


Dia mengingat saat Ayu depresi dia berpikir kalau Ayu depresi disangkutkan dengan hubungan Ayu dan Papanya.


Aswin berpikir mungkin yang pertama buat Ayu bukan dirinya tapi Papanya.


Semakin Aswin berpikir buruk tentang Papanya dan Ayu, semakin benci Aswin pada Ayu termasuk terhadap Luki.


Kini Aswin berubah dan tidak mau lagi mengakui Luki sebagai anaknya. Tanpa mencari tau dulu kebenarannya.


Aswin menggugat Ayu ke pengadilan agama.


Aswin menuduh Ayu berzina.


Waktu terus berlalu, Aswin tidak pernah kembali ke rumah Ayu, Ayu menerima surat pengadilan agama.


Ayu membacanya, tampa disuruh air mata jatuh dengan sendirinya. Ayu menangis namun dia sadar siapa dirinya. Dia akan menahan semua kesakitan ini.


" Ya Allah, mungkin aku tidak berhak bahagia, nasibku lahir ke dunia ini hanya untuk menderita " ucap Ayu sambil tidak berhenti meneteskan air mata.


Ayu tidak membagi kesedihannya pada siapapun termasuk pada Andra dia telan sendiri, dia ditinggalkan tanpa tau penyebabnya apa.


Ayu mencoba menerima takdirnya dengan ikhlas.


Tidak terasa waktu sidang pertama pun tiba, kehamilan Ayu sudah menginjak 5 bulan, jadi sudah terlihat membuncit.


Ayu datang bersama pengacaranya yang disewanya. Ayu memakai baju gamis yang longgar supaya menutupi kehamilannya.


Dia tidak akan mengatakan kehamilannya pada Aswin, biarlah bayi ini menjadi miliknya.


Kesakitan yang dia rasakan setiap saat menjadi kekuatan untuknya menjalani hidupnya.


Ayu datang tepat waktu, dia melihat Aswin dan Lusi juga Lisa yang bergelayut manja di tangan Aswin, padahal Aswin selalu menghindari dasar Lisa yang tidak tau malu tetap saja melakukannya.


Namun saat Aswin melihat Ayu dia sengaja membiarkan Lisa menggandeng tangannya.


Aswin ingin membalas rasa sakit hatinya pada Ayu.


Ayu hanya menatap dengan tatapan datar saja. Dia tidak ada lagi sorot mata yang berbinar jika dia ketemu sang Suami.


Cahaya mata itu telah redup, diganti dengan kenestapaan, Ayu tidak akan membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan dia bertekad untuk menyembuhkan hatinya sendiri.


Dia tidak ingin jatuh terlalu dalam. Ayu melewati Aswin, seolah dia tidak mengenalnya.


Aswin melihat itu serasa ada yang tercubit dihatinya, dulu orang yang selalu ada disaat dia terpuruk, Ayu yang selalu memberikan kehangatan dalam hidupnya.

__ADS_1


Aswin melupakan semuanya, terganti dengan kebencian yang tidak mendasar.


Ayu di panggil begitupun Aswin, mereka duduk bersebelahan hanya berjarak 1 meter saja.


Ayu berdoa dalam hatinya supaya diberi kekuatan.


Hakim bertanya pada Aswin dan Ayu, jawaban mereka kompak ingin berpisah, sekalipun dikasih waktu untuk mediasi justru Ayu yang menolaknya, dan Ayu meminta supaya hakim mengabulkan semua permohonan dari Aswin.


Yang lebih parahnya Ayu membenarkan semua yang dituduhkan kepadanya, tidak ada penyangkalan sedikitpun. Entah apa yang ada di pikiran Ayu, dia seolah mati rasa.


Saat semua sudah selesai, dan hakim menunda keputusan sampai 2 minggu.


Sidang pun ditutup.


Ayu melangkah dan menghampiri Aswin, " Mas makasih ya atas semuanya dan aku minta maaf jika selama ini mengecewakanmu, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu yang sekarang yang satu level dengan mu" ucap Ayu. Dan Ayu pun berlalu dengan tanpa menunggu jawaban dari Aswin.


Ada yang aneh dari pandangan Aswin, melihat Ayu tidak seperti biasanya. Badan Ayu yang mengembang dan pipi Ayu yang cabi serta perut Ayu yang terlihat besar.


Aswin berpikir jangan jangan Ayu hamil, namun segera ditepisnya. Namun dia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.


Aswin mencoba mengejar Ayu, dan Aswin menarik tangan Ayu sambil berkata " Yu kita harus bicara" ucap Aswin.


" Maaf mas semua sudah selesai, tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, semua sudah hancur mas, apa lagi yang mau kamu bicarakan" ucap Ayu sambil terus melangkah.


" Yu, kamu hamil?" pertanyaan itu terlontar begitu saja.


" Sekalipun aku hamil, tidak masalah mas, jangan khawatir, aku tidak akan memberatkan kamu. Toh kamu sudah menuduh aku berzina dengan Papamu, terus untuk apa kamu masih bertanya tentang kehamilanku" ucap Ayu lagi.


" Anak siapa Yu" Aswin malah bertanya dengan pertanyaan yang sangat melukai Ayu.


"Aku seorang pen zina maka mungkin Ayahnya adalah pelaku zina juga" jawab Ayu dan berlalu pergi.


Ayu tidak kuat hatinya menerima tuduhan yang bertubi tubi, sesampainya di mobil dia menangis, dia menekan dadanya yang sungguh sesak.


Akhirnya Aswin memtuskan untuk menelpon Ayahnya.


" Halo "


" Halo , Bu apa khabar " basa basi Aswin kebetulan yang menerima telponnya Ibu Vina.


" Baik, kamu dan keluargamu gimana sehatkan, terus Ayu gimana masih muntah muntah gak?" tanya Bu Vina.


Deg, hati Aswin merasa di palu, dia takut melakukan kesalahan dengan menuduh Ayu tanpa mencari tau.


" Win maaf Ibu sama Papa mu langsung pulang malam itu sebab Ibu ada tugas lagi jadi Ibu tidak bisa menunggu sampai kamu pulang" ucap Ibu Vina.


" Apa Ibu pulang malam itu" tanya Aswin.


" Iya Win terpaksa meninggalkan Ayu sama Art saja, padahal Ayu lagi muntah muntah terus" jawab Ibu Vina lagi.


" Oh iya Win gimana kehamilannya lancar gak, soalnya umur Ayu itu beresiko tinggi loh" ucap ibu Vina lagi.


" Ibu tau Ayu hamil sejak kapan dan sudah berapa bulan?" Aswin malah balik bertanya.


" Ya saat Ibu mampir ke rumah mu malam malam sekalian pamit pulang, telpon kamu gak diangkat angkat" jawab Ibi Vina penuh tanda tanya.


" Jadi malam itu Ibu ada bersama Ayu dan Papa ?" tanya Aswin lagi.


" Ya ada, malah Ibu yang memeriksa Ayu waktu itu" jawab Ibu Vina lagi.

__ADS_1


" Apa Ayu nunggu aku bu waktu itu?" pertanyaan Aswin semakin membuat bingung Vina.


" Win Ibu jadi semakin tidak mengerti dengan semua pertanyaanmu ini, ada apa sebenarnya?" tanya Ibu Vina.


Aswin akhirnya menceritakan semua yang terjadi, dan Aswin memberitahukan kalau dia telah meninggalkan Ayu selama 3 bulan.


Vina sungguh syok, dia tidak percaya dengan semua yang Aswin bicarakan.


Vin bisa membayangkan kesakitan Ayu saat ditinggalkan diceraikan dengan tuduhan yang dia tidak lakukan.


Vina menangis meratapi nasib Ayu, dia sangat tau Ayu seperti apa, jangankan untuk berzina mengenal laki laki saja tidak. Di dalam hidupnya dia hanya dekat dengan Ayahnya, Andra dan Aswin.


Kini dia dituduh yang sangat kejam, perempuan mana yang mau menerima semua itu.


Setelah menutup telpon dari Aswin tadi Vina menghampiri suaminya yang lagi di ruang kerjanya.


Vina tiba tiba menangis dan memeluk Andra. Vina bingung mau menceritakan dari mana sebab dia sangat tau, Apa yang akan Andra lakukan pada Aswin bila tau Aswin menyakiti Ayu.


Sementara Aswin sangat menyesal setelah tau apa yang terjadi sesungguhnya.


Aswin merasa kecewa dengan dirinya sendiri yang selalu mendahulukan emosi tanpa mau mencari tau dulu. Dia akhirnya bergegas melajukan motornya untuk ketemu Ayu.


Teriakan Lusi dan Lisa tidak dihiraukannya, yang ada dalam pikiran Aswin adalah bagaimana caranya menemui Ayu.


Namun sangat disayangkan Ayu tidak ada dirumahnya, Ayu sedang pergi menghadiri sebuah acara.


Ya saat ini Ayu diangkat jadi kepala cabang kantornya dan dipindahkan di kota Surabaya.


Satu kesempatan yang tidak akan pernah Ayu lewatkan. Mungkin ini yang terbaik untuknya.


Dia akan pergi meninggalkan semua kenangan yang sangat menyakitkan hatinya.


Aswin balik lagi kerumahnya, dia akan datang lagi malam. Namun Aswin salah perhitungan.


Ayu tidak mau menunda semua sudah Ayu persiapkan jauh jauh hari tentang kepindahannya ke kota Surabaya itu.


Saat badai datang menerjang malah Ayu mendapatkan tawaran untuk menjadi kepala cabang di kota Surabaya. Ayu menerimanya


tanpa berpikir dua kali.


Dan saat ini Ayu sudah terbang bersama keluarganya, keluarga Pak Arga, art nya pun dibawa semua.


Luki sangat bahagia bisa pergi naik pesawat. Walau Luki suka merengek ingin ketemu Ayahnya namun Pak Arga bisa mengalihkan semuanya.


Malam pun tiba Aswin dengan terburu buru mendatangi rumah Ayu lagi.


Sementara Lusi seperti biasa lagi bersama berondong nya. Lisa entah ada dimana.


Sesampainya Aswin di rumah Ayu, Aswin mengetuk pintu. Namun yang keluar tetangganya Ayu.


" Maaf Mas , mau bertemu siapa ya?" tanya tetangga Ayu.


" Bu Ayu nya Ada Pak?" tanya Aswin.


" Bu Ayu kan sudah pindah, emang Bapak tidak ikut pindah?" tetangga Ayu malah balik bertanya.


" Pindah, pindah kemana Pak?" tanya Aswin lagi.


" Nah itu saya kurang tau, sebab Bu Ayu hanya nitip rumah ini saja, dia tidak menceritakan apapun" jawab si Bapak tadi.

__ADS_1


Yu ah segitu dulu, besok kita lanjut bab berikutnya tentu saja dengan semua konflik yang lebih .....


selamat menbaca.


__ADS_2