Mesin Waktu

Mesin Waktu
Bertemu Mantan


__ADS_3

Bruk !!


Aku tak sengaja menubruk tubuh seseorang di depan rak yang memajang kebutuhan kebutuhan susu dan diapers di sebuah mini market berlogo warna biru ini.


"Maaf...maaf Pak!" sesalku karena tak hati-hati, dan membuat beberapa belanjaan di tangan lelaki itu terjatuh.


Aku menunduk untuk memungut barang yang tergeletak di lantai mini market itu dan secara bersamaan lelaki itu juga menundukkan tubuh nya.


'Dukk!


"Awww..awww!"


keluhku meringis kesakitan karena kepalaku berbenturan dengan dada bidang lelaki itu.


"Maaf ... !! "


giliran lelaki itu yang meminta maaf. Aku segera mendongakkan kepalaku ke arah nya karena aku sungguh merasakan getar rasa yang bergemuruh mendengar suara bas lelaki itu.


"Ya Tuhan ! " aku memekik lirih tak sanggup melihat pemandangan di depan ku.


Lelaki itu sungguh membuatku runtuh, aku segera bergegas meninggalkan nya tanpa berusaha meminta maaf dan membantu nya memunguti barang nya yang terjatuh.


"Din..Dinda !! tunggu!!" seru lelaki itu tergesa.


Aku tetap melangkah setengah berlari menghindari lelaki itu.


Dada ku berdegup kencang, Ya Tuhan kenapa harus bertemu lagi? kenapa Tuhan ?


"Adinda Putri Kirana!!" teriaknya agak keras sehingga membuat beberapa pembeli di mini market ini menoleh, mungkin di kira kami adalah sepasang kekasih yang sedang berantem.


Kaki ku hampir mendekati pintu keluar tiba-tiba tanganku seperti di tarik paksa dari belakang.


"Lepas ! Lepaskan aku !!" aku berusaha melepas tangan kanan ku yang telah berada di genggaman nya.


Namun lelaki itu tak mau melepaskan begitu saja.


"Din, please. Aku mau bicara sebentar saja dengan mu. "


''Tak ada yg perlu di bicarakan lagi!" pungkasku cepat

__ADS_1


Tiba-tiba dia memeluk pundakku, aku terkejut dan berusaha meronta.


"Din, tolong beri aku waktu 5 menit saja setelah itu aku tak akan mengganggu mu!"


Karena beberapa orang sudah melihat kami berdua seperti adegan sinetron, akhirnya daripada malu karena telah menarik perhatian pembeli lain, aku segera mendorong tubuh nya.


" Lepaskan aku dulu!" bisikku dengan nada yg ku tekan menandakan keberatan atas permintaan nya.


Akhirnya lelaki itu melepaskan pelukannya. Dan aku segera berjalan menuju salah satu sudut di depan minimarket itu yang ada beberapa tempat duduk untuk pembeli kopi yang ada di dalam gerai minimarket.


"Din, Apa kabar?" sapa nya lembut. Netra mata nya menatapku tajam dan ahhhh...keteduhan tatapannya itu membuatku teringat kilatan masa yang telah bertahun berlalu


"Baik, ada perlu apa? aku tidak ada waktu banyak!" Kataku sambil membuang muka tak ingin ku menatap mata elang nya lagi


"Aku hanya ingin meminta maaf dan pengampunan mu" Katanya pelan tak sama sekali tak melepaskan pandangan nya ke arahku.


"Aku sudah lama memaafkan mu,dan permisi aku masih banyak keperluan yang penting!" jawabku sambil berdiri. Tangan nya segera menarik pelan tanganku.


Aku terkejut, sentuhan lembut tapi penekanan tangannya membuatku ingin mengeluarkan air bening yang sedari tadi menggayut di kelopak mataku. Tapi aku tak ingin dia tahu aku ingin menangis.


"Dinda, percaya lah aku tetap mencintaimu dari dulu hingga saat ini. Aku tak tahu kenapa Tuhan mempertemukan kita lagi disini setelah bertahun aku mencari mu. Aku kehilangan jejakmu!" urai cerita dari mulutnya dengan suara Vibra yang bergetar.


"Rindu! aku rindu kamu Dinda! " ulangnya lagi.


Suara ponsel membuyarkan keheningan kami berdua. Aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecilku.


Mas Rayhan menelpon, suamiku yang pendiam itu ternyata menelponku mungkin dia merasa aku terlalu lama ke mini market ini.


" Assalamualaikum Mas" Kataku setelah mengusap gambar warna hijau di layar ponselku.


" Waalaikum salam Ma, kamu kemana aja? Beli Diaper ke Dubai ya?" Selorohnya tapi tetap dengan suara lembut tak ada nada bentakan.


Tumben Suamiku bersuara keras, padahal selama aku mengenal nya tak pernah dia berkata keras. Dia lelaki pembawaan tenang.


" ehmm iya ini mau balik, tadi antri nanti aku belikan martabak Koh ahoy ya Pa" jawabku tanpa memberi alasan yang jelas.


Aku sempat melirik lelaki di depanku ini yang masih duduk santai sambil memainkan ponselnya.


" Ya wes hati-hati gak usah ngebut. Kalau Martabaknya rame kamu gak usah beli langsung pulang aja ya Mah,kasihan Tania menunggu" kata Mas Rayhan.

__ADS_1


" Iya Pah, kalau nangis buatin sufor dulu ya" pesanku pada Mas Rayhan. setelah itu aku menutup pembicaraan ku.


Lelaki itu menatapku nanar dan tersenyum kecut.


"Aku harus pergi ! aku tak bisa berlama-lama disini!"


"Baik lah, setidaknya aku sudah lega melihatmu baik-baik saja dan telah memaafkan ku" jawabnya.


Aku terdiam sesaat menyesap rasa rindu dan benci yang ada di dadaku.


" Ya..selamat tinggal" pamit ku


" Din..Jangan katakan itu, sangat menyakitkan mendengarnya." pungkasnya sambil memandang lekat mata ku. Aku menghindari tatapan mata nya.


" Lebih menyakitkan mana pergi tanpa pamit dan menghilang?" Kataku ketus.


"Maaf .." kalimat maaf meluncur dari bibir nya Rasanya tak tega melihatnya seperti itu, kedua tangannya mengatup di depan dada.


" Boleh aku meminta nomer ponselmu?"


Bayangan masa lalu ku dengannya perlahan mulai menguar di kepala berkejaran dengan riuhnya rasa rinduku.


"Untuk apa? kita udah usai. Tidak perlu Mas" geleng ku.


"Din, bahagia nya aku mendengarnya masih menyebutku Mas"


Lalu dia mengambil sesuatu dari dompetnya, sebuah kartu nama di selipkan ke telapak tanganku.


"Baiklah, jika kamu tak mau memberiku nomer ponsel. Ini kartu namaku. Jika kamu butuh apapun bantuan ku jangan segan menghubungi ku" Aku terdiam lalu segera berlalu meninggalkan nya.


"Din, tolong save nomer aku ya! ada hal penting yang harus kau tahu walaupun semuanya terlambat tapi setidaknya bisa melegakan ku" Katanya pelan kemudian bangkit meninggalkan ku yang masih berdiri termangu.


...........


Pertemuan yang tak di sengaja dengan Mas Bagas mantan kekasihku di masa aku kuliah itu menyimpan sejuta rindu yang tak tuntas tapi semua telah terlambat. Aku telah menikah dengan Mas Rayhan sahabatku di masa lalu dan kami telah memiliki seorang putri kecil yang manis bernama Tania.


Aku melamun di depan pagar balkon kamar ku. Angin malam yang semilir membuatku semakin terhanyut oleh kisah di masa lalu.


Kami melewati waktu bersama di bangku kuliah. Mas Bagas adalah kakak kelas 1 tingkat di atas. Dia yang humoris dan mudah bergaul mampu meluluhkan hatiku yang beku.

__ADS_1


Bagas Pramana adalah seorang lelaki yang gagah dan tampan dia ketua BEM dan aktif di organisasi kampus. Aku kenal saat mengikuti ospek mahasiswa baru. Aku yang kala itu mendapat hukuman dari seniorku untuk membersihkan kelas karena aku terlambat datang. Beberapa senior wanita mulai mengerjai menyuruhku seolah aku pembantu dan budaknya.


Saat itu aku memang datang terlambat karena aku harus mengantarkan Ayah ke Rumah Sakit terlebih dahulu. Ayah mendadak mendapat serangan jantung dan di rumah hanya ada aku dan ibuku. Mas Farhan Kakak pertamaku sudah tinggal terpisah rumah karena telah menikah.


__ADS_2