
Acara wisuda berjalan lancar, Dinda bersedia mendampingiku dari awal acara hingga terakhir. Orang tuaku pun datang menghadiri wisuda dan aku pun bangga menjadi lulusan terbaik di kampus ini.
Mama dan Papa aku perkenalkan dengan Dinda, sambutan kedua orang tua ku ketika bertemu dengan kekasih ku sungguh membuatku tak enak hati.
Memang penampilan Dinda yang sederhana Dengan make up tipis membuat Mama sedikit menatap nya dengan senyum tertarik di sudut bibir dan aku tahu itu menandakan jika Mama kurang respek dengan keberadaan gadisku.
" Bagas setelah ini Mama ingin membawa mu untuk makan siang di Restoran Jepang. Mama ingin merayakan kelulusan mu dan keberhasilan mu menjadi lulusan terbaik"
"Ehmm Bagas masih ada acara Ma dengan teman seangkatan. Kami mau merayakan kelulusan ini dulu" aku berasalan padahal aku ingin merayakan kelulusan ini dengan Adinda.
Gendis adikku yang centil menyurukkan badan nya ke dadaku.
"Ah Mas Bagas gak asyik! kita kan mau party sekeluarga, ayo lah Mas Gendis sudah mengundang Diana juga !" rajuknya.
Aku mendelik memperlihatkan kekesalanku saat Gendis menyebut nama Diana. Aku tak mau Dinda salah paham dengan nama itu.
"Ayo lah Gas, Kapan lagi kita berkumpul mumpung Papa tidak sibuk juga" Kata Mama sambil membetulkan letak toga ku yang miring.
Ku lihat Dinda yang sedari tadi diam mendengarkan kami bicara tampak resah. Aku tahu pasti dia tidak nyaman berada di tengah keluarga ku. Aku tahu Dinda anak yang sederhana dan rendah hati. Memang aku sering mengajaknya ke rumah untuk berkenalan dengan orang tuaku namun dia tak pernah mau dengan alasan belum waktunya. Dan sekarang saat ada waktu yang tepat respon keluargaku tidak seperti harapanku.
Hanya Papa yang kulihat sedikit kalem dan menanggapi nya sedikit bertanya semacam formalitas kesopanan saja.
Mama seolah mengacuhkan keberadaan Dinda.
Karena itu aku mau mengajak Dinda pergi berdua merayakan kelulusan ku dengan alasan aku mau pesta perpisahan dengan teman seangkatanku.
" Bagas janji nanti malam kita Dinner. Kalau sekarang beri waktu Bagas untuk teman-teman ya Mah. " Bujuk ku pada wanita yang melahirkan ku.
Dengan separuh hati mama akhirnya menyetujui keinginan ku. Namun dengan penuh penekanan beliau menyuruhku agar datang tepat pukul 18.00 wib di restoran Jepang langganan keluarga kami.
__ADS_1
Setelah itu kami berpisah, Mama Papa dan Gendis pulang dengan membawa Toga dan medali ku penghargaan ku . Kulihat mobil Sedan Hitam metalik punya Papa sudah keluar meninggalkan kampusku, aku segera menarik tangan Dinda untuk segera kabur meninggalkan tempat acara yang sudah agak sepi.
Di dalam mobil Dinda tetap diam tak mengeluarkan sepatah kata pun.
" Sayang, kenapa diam?" Tanya ku sambil menarik tuas kopling. Mobil mulai melaju meninggalkan parkiran.
" Hmmm' jawabnya pelan
" Kok Hmmm... ada apa?" Tanya ku lagi, sebenarnya aku sudah merasa kalau Dinda akan tak enak hati karena pertemuan dengan keluarga ku. namun aku harus menyakinkan dia bahwa keluarga ku adalah keluarga yang baik.
" Gak ada apa-apa Mas''
"Yakin ?" buru ku lagi
Dia memandangku dengan tatapan yang sulit ku artikan.
"Aku ? Berbohong? sama siapa?" tanyaku tak mengerti
" Kan keluarga mu tadi mengajak mu party, kenapa kamu berbohong ada acara dengan teman seangkatan mu?'
Aku tersenyum lalu tanganku mengusap pucuk kepalanya.
"Oh itu? hehehe ..kan aku sedang ingin merayakan kelulusan ini denganmu sayang"
"Tapi kan aku sudah janji menggantinya nanti malam" jawabku santai.
" Nanti malam aku akan mengajakmu lagi" kataku sambil tersenyum.
Dinda menggelengkan kepalanya, aku terkejut dengan responnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyaku
" Aku tak ingin mengganggu waktu mu bersama keluarga. Biarkan keluarga mu merasakan kebahagiaan dengan kelulusan mu"
Aku menghela nafas perlahan.
" Kamu tidak nyaman dengan keluarga ku?" tanyaku lagi.
" Hmmm'..tidak juga. Aku merasa nyaman saja dimana pun aku berada, mungkin keluarga mu yang tak nyaman dengan keberadaan ku nanti" Jawabnya lugas.
Aku terdiam merasa bersalah atas perasaan tidak nyaman kekasih ku.
" Mungkin perlu waktu yang lebih intens bersama keluarga ku, belum terbiasa bercanda dan berkomunikasi " hibur ku sambil tetap berkonsentrasi ke jalan raya yang sedikit padat.
Dinda mengedikkan bahu nya yang ramping lalu dia mengambil ponsel di dalam tas tangan nya.
Dia mulai mengetikkan pesan ke seseorang dia ponselnya. Air muka nya terlihat tenang dan beberapa kali dia menghembus kan nafas pelan.
"Ada apa?" tanya ku penasaran
" Tak ada apapun, aku hanya pamit pulang terlambat setelah dari acara wisuda mu mas." jawab nya
"Ohya Bang Farhan titip salam kata nya selamat jadi wisudawan terbaik. Di tunggu traktiran nya"
"Oke Terimakasih, Ayuk jadwal kan aja waktu nya kita makan bersama, bilang sama Bang Farhan ya?!" kata ku sambil mengusap rambut.
Gadis ku tersenyum simpul lalu menyimpan ponsel nya ke dalam tas lagi.
Mobil ku mulai melaju lebih kencang karena jalanan sudah mulai lengang.
__ADS_1