Mesin Waktu

Mesin Waktu
Sadar dari koma


__ADS_3

Bi Jumilah tersenyum melihat anak asuhnya yang sudah sadar dan mengambil ponselnya dia akan mengabari Nyonya besar kalau putra sulungnya sudah sadar dari koma.


Setelah memberi kabar melalui telpon Bi Jum, mendekati tempat tidur Bagas dan menawarkan air mineral pada nya. Bagas menutup matanya mencoba mengingat kembali apa yang menjadi penyebab kecelakaan nya. Tangan nya terkepal karena belum bisa mengingat tentang kejadian selama dia koma.


Perawat kembali masuk ke dalam kamar dan mengecek kondisi Bagas lagi kemudian perawat itu menyuntikkan sebuah obat injecsi ke dalam kantong infus yang menggelantung di tiang nya.


"Suz, apa boleh di berikan minum Mas Bagas nya?" tanya Bi Jum dengan nada kuatir.


"Silahkan Bu, pelan-pelan saja ya pake sendok dulu. Kalau Pak Bagas sudah bisa menelan baru boleh pakai sedotan" jawab Suster itu ramah, kemudian dia pamit keluar untuk meneruskan tugasnya lagi.


Bagas membuka matanya saat Bi Jum memanggilnya. "Mas Bagas, mau minum?"


Lelaki itu mengedipkan matanya tanda mau, kemudian Bi Jum mulai menyuapi air dengan sendok plastik yang telah di sediakan rumah sakit.


Tiga sendok air telah membasahi tenggorokan nya dan Bagas mulai mencoba bersuara.


"Bi, kenapa saya ada disini?"


Wanita berumur hampir 60 tahun itu tampak sedih dan mengusap usap tangan majikan muda nya yang telah di asuhnya sejak dalam buaian.


Bi Jum menghela nafas nya, dia sangat prihatin dengan kejadian yang menimpa anak asuhnya itu. Bi Jum memang mengabdikan dirinya sejak muda, sejak suaminya meninggal kan nya pergi entah kemana karena Bi Jum tak bisa memberinya keturunan. Sejak saat itu Bi Jum bersumpah tak akan menikah lagi dan akan mengabdi seumur hidup nya dengan keluarga Bagas.


"Mas Bagas kecelakaan di Kanada, gak sadar selama 6 bulan. Alhamdulilah doa bibi terkabul, Bibi minta sama Gusti Allah biar membangun kan Mas Bagas secepatnya."


Bagas terkejut, 6 bulan dia koma? kepalanya langsung berdenyut dan merasakan sakit lagi saat dia mencoba mengingat kecelakaan yang menimpanya.


"Bi, saya terlambat..saya terlambat" katanya sambil mengeluarkan air mata. Bi Jum mengusap air mata nya dengan selembar tissue yang ada atas nakas.


"Terlambat kenapa Mas Bagas?Apa yang Mas pikirkan sekarang ?" tanya Bi Jum lembut.

__ADS_1


"Saya terlambat menemui pacar saya Bi..hiks..hiks.." Bagas menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan.


Bi Jum bingung melihat juragan muda nya menangis seperti anak kecil. Tangan nya terulur menepuk lembut lengan Bagas.


" Bibi harus bagaimana Mas, Apa yang harus bibi lakukan?"


Bagas terdiam dia menyeka matanya dengan punggung tangan nya yang tak di infus.


"Aku telah kehilangan dia Bi,semua ini karena Mami ! Karena Papi ! aku benci mereka Bi!" kata Bagas pilu, Bibi semakin bingung tak bisa menghibur dia kehilangan kata-kata untuk menenangkan nya.


"Dia siapa Mas?"


Bagas terisak lagi seperti tak punya rasa malu,dia memang menjelma menjadi anak kolokan di depan pengasuh setianya.


"Antar kan aku ke rumah Dinda Bi, biarkan aku meminta maaf padanya."


"Tapi mas Bagas kan baru sadar dari koma, Bibi gak berani bawa Mas Bagas jauh-jauh"


Entah dimana kedua orang tua Bagas saat itu, saat Bagas membutuhkan suport moril saat sadar dari komanya. Selang beberapa jam Papi Bagas datang ke rumah sakit, dia minta maaf pada Bagas karena tak bisa langsung datang ketika dia siuman.


Bagas tak mau memandang wajah Ayah nya,sakit sekali hatinya ketika mengingat what's up terakhir dari Adinda yang mengatakan bahwa orang tuanya telah membeli harga diri mereka dengan uang. Sungguh keterlaluan sekali perbuatan orang tuanya rasanya ingin sekali dia menghajar nya kalau tak ingat lelaki itu adalah orang tua kandung nya.


Tak lama kemudian Mami dan Gendis datang tergopoh-gopoh sambil membawa beberapa kotak kue kesukaan Bagas. Namun Bagas di membisu tak mau menatap mereka. Pandangan nya menerawang jauh ke depan tapi air matanya meleleh di pipinya.


Saat ini dia hanya ingin menemui kekasihnya dan dia ingin bersujud di kedua kaki orang tua Adinda untuk meminta kan maaf atas perbuatan orang tuanya yang sudah sangat keterlaluan.


Gendis mencium pipi Abangnya namun Bagas hanya diam tanpa merespon,biasanya dia senang sekali menggoda dengan menarik hidung nangis Gendis sampai si bontot itu berteriak histeris.


Sikap dingin yang di tujukan Bagas pada kedua orang tua dan adiknya membuat Mami terheran heran. Dengan isyarat mata Mami melihat ke arah Papi. Lelaki separuh baya itu mengedikkan bahu tanda tak mengerti.

__ADS_1


"Aku kecewa sama Papi dan Mami" katanya dengan suara keras setengah berteriak.


Kedua orang tua nya terkejut kenapa anak nya itu bersikap seperti ini.


"Ehmm...iya Maafin Mami ya nak, Kami terlambat datang kesini. Tadi kami mencari kue kesukaan mu nak."


Bagas menangis seperti anak kecil tergugu tanpa suara.Papi melihat tingkah anaknya itu penuh keheranan. Mereka bingung dengan sikap si sulung yang seperti itu.


"Aku tak butuh kue Mami, aku butuh Adinda ! bawa Adinda kesini Mi! Kalau Adinda tak bisa Mami bawa kesini, lebih baik aku tak pernah bangun lagi!" katanya lagi.


Gendis terkejut dengan perkataan kakak nya. Dia tak berani menatap wajah nya karena dia tahu permintaan Bagas itu tak mungkin terjadi.


" Nak, jangan meminta hal seperti itu, Sehatkan badan mu dulu." kata Papi nya sedih sebenarnya lelaki tua itu ingin menitikkan air mata namun dia tak mau menampakkan kesedihannya pada anak dan istrinya.


Mami mendekati ranjang Bagas dan membelai kepala nya dengan lembut namun Bagas segera menepis tangan itu dia sedang tak mau di dekati keluarga nya. Hatinya benar-benar kecewa,perih dan sakit karena perlakuan keluarga nya.


"Sayang, Adinda sudah tak mau dengan mu.Dia telah memilih lelaki lain!" kata Mami dengan dingin.


" Mami bohong !!! Mami Jahat !!! Aku mau pergi !! Aku mau Adinda !!" teriaknya histeris. Enam bulan tak sadar pasti dia telah kehilangan banyak momen dan berita tentang kekasihnya itu.


Entah apa yang di sembunyikan keluarga nya sehingga Papi, Mami dan Gendis tak mau mengatakan kebohongan itu, tak mungkin Adinda pergi dengan lelaki lain. Adinda adalah wanita setia dan pasti akan menunggunya.


Papi meneteskan air matanya melihat anak sulung nya yang histeris. Hatinya terluka sebagai seorang Ayah dia tak tega melihat anaknya terpuruk seperti itu.


"Sudah lah Kak, Apa yang di katakan Mami itu benar. Adinda telah memilih lelaki lain.Dasar wanita tak setia, baru pacaran saja sudah berani seperti itu apalagi nanti menikah!" sahut Gendis akhirnya jengah dengan tingkah Kakaknya.


Makin marah lah Bagas lalu infus yang masih menempel di lengan nya di cabut dengan paksa oleh Bagas. Papi memeluk Bagas dan menghalau tangan Bagas yang hendak mencabut selang infus nya.


"Nak..Papi Janji, kalau kamu sudah sehat pasti Papi akan membawa Adinda menemui mu. Tapi kamu harus janji juga sama Papi kalau kamu harus sehat. Jangan berbuat seperti ini lagi nak."

__ADS_1


Pelipis Bagas yang terkena pecahan kaca,luka nya sudah mulai membaik dan sekarang yang tertinggal hanyalah bekas luka yang memanjang dan memarut.


__ADS_2