Mesin Waktu

Mesin Waktu
Galau


__ADS_3

Dinda merenung memikirkan permintaan ayah nya yang sedang sakit. Ayah nya meminta nya untuk segera menikah. Sebentar lagi dia akan wisuda kurang dua semester saja. Bagas pun akan segera berangkat ke Kanada. Dia gundah menghadapi permintaan sang Ayah yang begitu kerap nya.


Dia sudah mengatakan jika Bagas akan meminang nya setelah dia menyelesaikan kuliah nya di luar negeri namun Ayah nya terlihat sedikit memaksa nya untuk mempercepat keinginan nya itu. Setidaknya ikatan pertunangan dahulu kata Ayah nya.


Dia tak berani mendesak Bagas karena dia tak ingin dianggap sebagai cewek pemaksa dan egois. Dia dilema sekali menghadapai masalah ini. Di satu sisi dia ingin memenuhi permintaan ayah nya di sisi lain dia juga belum siap dengan keluarga Bagas yang terlihat kurang Wellcome pada nya.


Namun sikap Bagas yang selalu perhatian dan sabar membuat nya ingin terus bersama dengan Bagas. Bukan karena kekayaan Bagas namun dia sudah terlanjur nyaman bersama kekasihnya itu. Kebersamaan nya selama hampir 3 tahun itu banyak menorehkan kenangan manis.


Bagas begitu setia pada ikatan cinta nya walaupun banyak gadis lain yang lebih cantik dan lebih segalanya dari Dinda namun Bagas tak pernah bergeming dari cinta nya.


Suara deru mesin motor berhenti di depan pagar rumah nya. Bel rumah nya pun berbunyi nyaring.


'Teeeeetttt


Tettttttttt.... teeeeeettttttt

__ADS_1


Lamunan Dinda terhenti, dia beranjak dari tempat duduk nya yang nyaman di kursi goyang di depan televisi.


Gadis itu keluar membuka pintu dan mendapati seorang yang sangat di butuhkan nya saat ini. Siapa lagi kalau bukan kakak kandung nya yang sudah menikah itu.


''Assalamualaikum, duh lama banget sih !" salam AW Farhan dengan setengah kesal.


" Waalaikum salam ihh sabar kenapa kan masih jalan Otong!" jawab Dinda kesal namun dengan nada bercanda.


Farhan menarik hidung mancung Dinda dia memang gemar sekali menarik hidung adiknya itu. Dia berharap kelak jika dia memiliki anak perempuan dia ingin hidung nya seperti hidung adiknya . Maklum saja hidung nya sendiri tidak mancung Seperti adiknya si Dinda.


"Gimana keadaan Ayah? kamu di rumah sama siapa?


Dinda menceritakan kronologi ayah nya saat kambuh sesak nafas nya. Rahmad adalah sepupu Farhan dan Adinda dan dia juga bekerja sebagai pegawai Ibu nya di toko roti dan kebetulan dia menginap di rumah mereka tadi malam karena besoknya jadwal shift pagi.


Rumah Rahmad lumayan jauh jika harus pulang balik, jadi bunda nya meminta Rahmad untuk menginap di rumah itu, hitung-hitung menghemat biaya transport toh mereka juga senang rumah jadinya tidak sepi sejak Farhan berumah tangga.

__ADS_1


Farhan masuk ke dalam rumah, lalu menuju kamar orang tua nya. Dia mengetuk pintu beberapa kali lalu terdengar suara Ibu nya dari dalam kamar menyuruh nya masuk.


Ibu nya sedang mengaji di samping tempat tidur Ayah nya. Lelaki tua yang kelihatan kurus itu terlihat sedang tidur pulas.


"Bunda, gimana kabar Ayah? kata Dinda semalam ayah kambuh lagi."


Dinda mengikuti kakak nya ke dalam kamar orang tua nya. Dia membawa segelas es kopi susu gula aren kesukaan Farhan.


Bunda menutup Alquran dan mencium nya.


"Iya semalam tiba-tiba sesak nafas. Kata dokter Ayah harus opname tapi Ayah tidak mau. " raut wajah Bunda terlihat lelah.


"Kenapa Ayah tak mau di opname?" kata Farhan lagi.


Bunda termenung lalu mengajak kedua anak nya keluar dari kamar agar Ayah mereka bisa beristirahat dengan tenang tanpa gangguan suara berisik.

__ADS_1


"Ayah beralasan tidak mau membuat repot istri dan anak-anaknya. Bunda sudah memaksa bahkan sampai menangis tapi Ayah tetap dengan pendirian nya. Coba Farhan bujuk Ayah agar mau di opname. bunda kuatir sekali dengan kesehatan nya yang menurun "


Farhan mengangguk lalu dia mengatakan akan menginap beberapa hari di rumah ini. Dia akan menjemput istrinya dulu setelah ini.


__ADS_2