Mesin Waktu

Mesin Waktu
POV Bagas


__ADS_3

Hatiku berdesir nyeri kala melihatnya menerima telpon dan mendengar nya menyebut Pah!


Ah Adinda engkau adalah satu satunya cinta di dalam hatiku, meskipun kita tak bisa bersatu.


3 tahun berlalu namun aku masih bisa menggenapi luka ku dengan ingatanku tentang mu, tentang kita berdua. Bahkan harum wangi parfum mu masih menggelenyar di Indra penciumanku.


Mata nya yang sayu, hidungnya yang mancung dan kulitnya yang kuning Langsat semakin menambah ayu gadis itu. Namun di balik ke indahan fisiknya masih lebih indah tutur katanya yang lembut dan dia sangat tergantung denganku tapi itu dulu.


Kembali ku ingat kicau riangnya yang selalu berhasil menaklukkan hatiku.


"Mas Bagas, Mas .." Panggilnya saat aku asyik menekuni diktat kuliahku.


Aku pura-pura tak mendengar cuitannya padahal hatiku riuh ingin segera memeluk tubuh mungilnya.


"Uhh..Mas ...yawes aku balik aja ke kelas !" sungut nya kesal sambil menghentakkan kaki nya yang mungil.


"Eh Baskom tuh adik mu dah nungguin di depan pintu," ledek Wawan kawan karibku yang emang agak sableng kalau memanggil ku.


" Adik ketemu gede kaleee, emang elu Bakwan senengnya emak-emak...hehehe" balasku meledeknya.


Pluk !


Dia melempar gumpalan kertas yang di tangannya sambil nyengir.


"Dah ah ntar keburu ngambek tuh si Udin hahahaha" kataku sambil keluar menemui Dinda.


" Ish ngapain keluar!" Sungutnya kesal aku tertawa sambil mengacak poni Jupe nya...hahaha kenapa aku katakan poni Jupe? ya karena dia memang senang banget pake model rambut alm.Jupe si artis yang udah almarhum itu.


"Ulu...uluuu si Udin marah" ledekku sambil menowel pipi nya.


" Dasar ah Baskom !" balasnya sambil menahan tawa. Lalu dia berlari meninggalkanku.


" aeitt..eettt bilang apa tadi?" aku lalu mengejar nya.


Dan kami pun tertawa riang melupakan kekesalan yang terjadi. Aku mengajaknya ke kantin kampus.


" Mas, Bunda pengen ketemu sama kamu.'' kata gadis ku pelan sambil mengaduk es teler kesukaannya.


" Hmmm..." jawabku sambil mengunyah Mie ayam kesukaan ku


" Kok Hmm aja sih" tanya nya


'' Ya kan lagi makan Udin?!" jawabku lagi

__ADS_1


Dia meringis memperlihatkan deretan gigi putihnya.


tiba-tiba...


BIP..BIP...


Terdengar bunyi ponselku, dulu masih memakai BlackBerry. Aku mengeluarkan nya dari dalam saku celanaku.


'Gas..cepet pulang Mama ada perlu sama kamu!


'Ya Ma, 1 jam lagi ya masih makan siang ' balasku pada wanita yang ku kasihi itu.


Setelah selesai makan aku segera membersihkan tangan. Dinda mengikuti kebiasaan ku untuk bebersih setelah makan.


"Din aku habis ini antar kamu pulang ya, tapi maaf aku belum bisa mampir karena Mama menunggu ku di rumah" kataku sambil melangkah keluar kantin.


" Ya udah gapapa Mas,Ohya persiapan Yudisium Kamu udah beres kan mas" tanya nya lembut.


" Udah beres jangan kuatir, nanti pas wisuda kamu harus luangkan waktu buat dampingi aku ya ? " jawabku


" Insya Allah Mas, dan aku tunggu kedatangan kamu ke rumah ya bertemu dengan bunda dan Ayahku"


Aku mengangguk kan kepala lalu mulai memasukkan kunci kontak mobil ku. Kami berdua telah duduk di dalam mobil SUV hasil keringatku kerja ku selama ini.


Sebenarnya aku malas kuliah namun Papa selalu mengancam tak akan di berikan fasilitas tingkat management jika aku tidak memiliki Gelar


ME.MA.LU.KAN !!!


kata beliau jika anak nya hanya sekolah menengah saja. Bahkan Papa menghendaki ku melanjutkan Sekolah S2 ke luar negeri setelah ini dan management perusahaan akan di kelola nya untuk sementara waktu.


"Din..setelah aku lulus kuliah, aku mau melanjutkan ke Kanada!" pamit ku dengan suara pelan membuyarkan keheningan kami.


"Ka..Kanada Mas?" tanya nya pelan namun ada hempasan nafas yang menyesakkan.


" Iya sayang, Papa dan Mama menyuruhku kesana. Aku sebagai anak pertama yang akan meneruskan usaha Papa jadi harus memiliki skill dan pengalaman yang lebih baik" jawabku sambil tangan ku menarik tangan kanan nya.


Dinda terdiam sambil matanya menatap nanar ke depan.


" Kenapa mendadak sekali?" lirih suaranya mampu menyesakkan dadaku.


" Sebenarnya rencana ini jauh sebelum nya, dan aku sempat menolak rencana Papa."


"Namun Mama juga mendukung Papa jadi lah aku mengalah. Tapi aku janji aku akan setia padamu. 2 tahun bukan waktu yang lama sayang." kata ku berusaha meredakan gelisahnya.

__ADS_1


Dinda membalikkan badan menghadap ku dan melepaskan genggaman tanganku. Diam dan hening melingkupi kami berdua.


" Mas kamu nge prank kan?" tanya nya sambil. tersenyum. Ya Tuhan anak ini tak mengerti jika apa yang ku katakan adalah hal yang pasti akan terjadi.


Aku menggeleng kan kepala lalu berusaha merebut tangannya kembali. Air mata gadis ku mulai berembun, Ah kenapa momen romantis berdua jadi ada air mata sih.


" Sayang, dengar aku please. " aku menepikan kendaraan di sisi jalan yang hampir menuju perumahannya.


Aku merengkuh kepala nya dan mengusap pucuk kepalanya.


"Aku bukannya ingin menghalangi niat baikmu untuk masa depan. Namun kenapa mendadak? aku takut jauh dari mu Mas." lirih suaranya membuat dadaku makin sesak.


"Din. aku pasti kembali untukmu. Tolong tunggu aku selama 2 tahun. Setelah lulus kita akan menikah!" janji ku pada gadis mungil itu.


"Benar kah? " tanya nya lagi sambil menggenggam tanganku


''Iya sayang. aku akan kembali dan tolong setia untuk ku" pinta ku sambil mengecup telapak tangannya.


"Kalau aku bisa setia Mas, tapi kamu? di sana pasti banyak gadis yang lebih cantik dan menarik" jawabnya sendu


Aku terkekeh mendengar nya merajuk, dasar anak kecil aku menyentil hidungnya yang Bangir.


"Masa sih kamu meragukan cintaku? Janji aku pasti setia pada Adinda Kirana Putri untuk mencintai mu se umur hidup ku!" ujar ku sambil mengangkat tangan kanan ku seperti sedang bersumpah ala pejabat yang akan di ambil sumpahnya oleh presiden.


"Gombal aja terossss...!" jawabnya Manja.


Seketika gadis ku tersenyum dan kami kembali melanjutkan perjalanan ke rumahnya.


Tak lama kami sudah sampai di depan pagar rumah Dinda. Rumah minimalis ber cat putih itu tampak terawat rapi. Di lihat dari fisik rumahnya terlihat jika penghuni rumah ini orang yang rajin merawat tanaman.


Banyak tanaman yang sedang ngetren saat ini terlihat berkembang apik dan segar. Terutama tanaman anggrek yang tampak indah berwarna warni.


"Ayo masuk mas. " Ajak Dinda.


Jujur saja selama 6 semester aku berpacaran dengan nya aku memang sering mengantarkan Dinda ke rumahnya dan aku pun sudah akrab dengan Ayah, Ibu dan Kakak sulung nya.


Mereka begitu baik padaku dan mempercayakan Dinda jika berjalan denganku.


Namun aku sedikit aneh dengan perkataan Dinda jika Ibunya ingin bertemu denganku. Bukan kah kami sering ketemu juga?


Aku tak bisa menepis keheranan karena belum bertemu dengan orang tua Dinda.


 

__ADS_1


__ADS_2