
Aku memasuki ruang tamu berukuran 4 x 4 meter itu dengan perasaan gelisah memikirkan apa yang akan di bicarakan oleh ibu nya Dinda. Mata ku menyapu seluruh sudut ruangan yang rapi dan bersih.
Sofa warna monokrom terletak apik di sisi kanan tembok ruangan berjajar dengan dua bangku kecil. Satu Pot tanaman hijau berada di sudut dan 1 foto keluarga berukuran besar menempel di dinding warna putih. Dan satu kaligrafi ayat kursi terpasang di dinding sebelah kiri.
Rumah ini mungil minimalis namun terkesan asri dan hommy sekali. aku saja betah duduk berlama-lama disini sambil membayangkan jika kelak aku sudah menikah dengan Dinda aku juga ingin membangunkan sebuah istana kecil yang nyaman. Karena rumah adalah tempat pulang yang ternyaman setelah kita melakukan kegiatan seharian di luar.
" Hmmm...melamun apa sih serius amat," sapa Dinda muncul membawa segelas es teh manis kesukaan ku
Aku tersenyum menarik tangan nya dan tubuh mungilnya otomatis jatuh kepelukanku.
"Mas, nanti di lihat bunda sama ayah!" tangannya mendorong tubuhku. Aku terkekeh dan segera memperbaiki duduk ku.
Beberapa saat kemudian seorang wanita berumur lima puluhan tampak menyembulkan kepalanya di balik manik-manik penghubung ruangan.
"Silahkan di minum Nak Bagas" kata Ibunya Dinda yang tampak anggun menggunakan gamis biru berhijab warna senada.
Beliau mengambil duduk tepat di samping Dinda. Aku jadi tahu garis kecantikan gadisku itu menurun dari ibunya.
" Terimakasih Tante" jawabku.
"Nak Bagas, Tante boleh menanyakan sesuatu hal yang penting ?" tanya nya
"Silahkan Tante" jawabku lagi.
__ADS_1
' Ohya maaf Ayah Dinda kurang sehat jadi Tante yang mewakili Om ya?"
Tante Liana mengambil nafas panjang. Lalu menatap kami berdua. Aku sedikit gugup dengan melihat mimik wajahnya.
" Hubungan Nak Bagas dengan Dinda mau di bawa kemana? Tante melihat kalian sudah lama jalan bersama saling menjajaki"
Tante Liana melanjutkan lagi perkataannya.
" Tante rasa kalian bukan anak remaja lagi yang baru mengenal cinta, tapi kalian sudah dewasa dan bisa menentukan langkah selanjutnya."
Aku meremas tanganku yang tiba-tiba berkeringat, aku memang mencintai Dinda namun aku juga belum siap jika di berikan pertanyaan mendadak seperti ini.
"Ehmmm...Tante saya serius dengan Dinda, saya sayang dan cinta sama Dinda. " jawabku terbata-bata.
Dinda ku lirik dengan sudut mataku dia terlihat menundukkan kepala nya.
" Saya serius Tante dengan Dinda, namun saya meminta waktu untuk menyelesaikan kuliah S2 saya dulu Tante."
Tante Liana dan Dinda tampak menghembuskan nafas bersamaan. Ya Tuhan apakah salah jawaban ku ini? Aku jadi salah tingkah melihat kedua wanita di depanku ini.
"Jadi intinya Nak Bagas belum siap untuk lebih serius dengan Dinda, begitu kan inti nya?"
'" Bunda..." sela Dinda
__ADS_1
" Maaf Tante Saya bukan nya tidak siap, tapi saya meminta waktu dulu, agar saya bisa membahagiakan Dinda seutuhnya. Saya minta waktu 2 tahun untuk melamar Dinda." kataku meminta ijin.
Ku tatap wajah Dinda yang terlihat mendung, matanya hampir menumpahkan air bening yang menggayut di kelopak matanya.
" Baik lah, Tante mengerti. Namun setidaknya Nak Bagas membicarakan hal ini dengan orang tua Nak Bagas."
" Baik Tante, insya Alloh setelah wisuda saya akan mengenalkan orang tua saya kesini."
Setelah berbasa basi sebentar Tante Liana pamit ke dalam kamar menemani ayah Dinda yang sedang tidak enak badan.
Dinda berpindah duduk di sebelahku, tanganku menggenggam telapak tangannya yang dingin.
"Sayang, maaf kan Mas ya belum bisa secepatnya meminang mu!" pintaku pelan.
" Sudah gapapa Mas, Aku tahu mas masih konsentrasi mempersiapkan wisuda. Tapi...."
Dinda menghentikan pembicaraannya dengan ragu ,
" Tapi kenapa sayang ?!" tanya ku penasaran
" Ah sudah lah tidak penting..lebih baik Mas segera pulang karena tadi mas bilang ada keperluan dengan Mama kan?"
Dengan rasa penasaran yang masih mengganjal di pikiran akhirnya aku pamit pulang.
__ADS_1
________