Mesin Waktu

Mesin Waktu
Kecelakaan yang merenggut mimpiku


__ADS_3

Dengan malas Bagas berjalan mendekati pintu kamar dan membuka pintu dengan key card yang telah diambil nya dari atas nakas.


Pintu telah terbuka terlihat alis Mami sudah naik ke atas seperti petir di musim hujan. Wajah Gendis pun terlihat sangar seperti nenek lampir yang kehilangan gigi nya.


" Lama amat sih buka pintu aja ! " sungut Mami galak. Bagas mengangkat bahu nya malas.


"Kalau kesini mau marah-marah lebih baik Mami sama Gendis pulang aja " kata Bagas sambil merebahkan tubuh nya ke atas ranjang.


"Eh ...ni anak gak sopan ya masa Mami sudah disini di usir !' Jawab Gendis.


"Ada apa?!" tanya Bagas cuek tak mau bangun dari tempat tidur nya yang nyaman.


"Mas Bagas kenapa sih cuek banget sama Kak Diana? dia kan udah rela nungguin Mas Bagas pulang dari Kanada selama 2 tahun." Gendis mulai menyerang Bagas dengan jutek nya.


Bagas tak menjawab.Bayangan wajah Adinda menari-nari di pelupuk matanya. Senyum manja nya dan cubitan gemas nya membuatnya rindu.


"Masih mikirin gadis cupu itu?" tanya Gendis julid. Bagas melempar bantal kecil ke badan adiknya.


"Diam kamu!!" bentaknya kesal pada Gendis. Rasa marah dan kesal pada adik dan Mami nya sudah tak dapat di bendung lagi. Sudah lama dia memendam perasaan itu. Karena masih menghormati orang yang melahirkan nya pula dia tak mau berbuat kasar lagi.


"Kamu sudah tahu belum kalau mantan pacar kamu itu sudah menikah?! Dia udah ninggalin kamu, jadi untuk apa kamu tetap bersedih dan belum bisa move on ?" cecar Ibunya tak berperasaan.


Bagas bangkit dari rebahan nya dan beranjak meninggalkan kamar dia mengambil handuk yang ada di mini jemuran dekat mesin cuci dan mulai masuk kamar mandi.

__ADS_1


"Lebih baik aku mendinginkan kepala dengan mandi" jawab Bagas sambil menutup pintu kamar mandi.


Mami dan Gendis menggerutu sambil mengeluarkan dua kotak makanan dari tas belanjaan mereka dari mall tadi sore. Mereka berdua shoping ke Mall yang baru di buka di dekat apartemen Bagas. Sejak pulang dari Kanada Bagas tak mau tinggal dengan orang tuanya lagi.


Dia kecewa ketika tahu orang tuanya telah mendatangi keluarga Adinda saat dia berada di Kanada tanpa memberitahu kan nya terlebih dahulu. Ternyata Mami sengaja menunggu keberangkatan nya ke luar negeri agar dia bisa mengintervensi Adinda. Sedang kan saat itu Papi menuruti saja permintaan istrinya tanpa bertanya pendapatnya dulu pada Bagas.


Adinda menangis saat dia menelpon nya dia hanya mengatakan jika kedua orang tua Bagas datang membawa uang dalam nominal besar di dalam koper. Dan Bunda nya berteriak histeris ketika melihat Papi Bagas lalu mengusir Papi Bagas dengan melemparkan koper berisi uang itu.


Sejak saat itu Adinda tak bisa di hubungi lagi dan nomernya di blokir. Bahkan nomer kakak kandung Adinda juga telah berubah. Bagas bingung hendak menghubungi siapa lagi untuk mendapatkan informasi tentang Adinda. Dan saat dia bingung kalut mencari nomer kontak kekasihnya tiba-tiba dia mendapatkan musibah.


Saat itu dia mendapatkan petunjuk melalui email dari Erika teman dekat Adinda saat kuliah dulu tentang Adinda. Dia menyuruh Bagas segera pulang ke Indonesia jika dia tak bisa pulang dalam bulan ini dia akan menyesal seumur hidup karena Adinda benar-benar akan meninggalkannya. Antara bahagia dan sedih mendapatkan berita dari Erika, Bagas memacu mobil dengan kecepatan tinggi.


Dari arah berlawanan sebuah truk tronton bermuatan semen juga melaju dengan kecepatan tinggi. Tabrakan tak dapat di hindari dan akhirnya Bagas mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya.


Lalu Polisi menghubungi pihak kampus dan memberikan alamat apartemen Bagas. Saat polisi menuju Apartemen petugas itu bertemu dengan Katrina teman yang sesama mahasiswa dan sahabat karib Bagas selama kuliah disini.


Katrina gadis dari pulau Sebrang yang selalu mendampinginya saat dia mengalami koma.


Gadis itu tidak mengetahui semua kontak keluarga Bagas karena handphone Bagas hilang jadi saat Bagas ditemukan di dalam mobil nya yang ringsek.


Setelah kepolisian setempat melakukan olah TKP dan menyelidiki penyebab kecelakaan yang mengakibatkan korban jiwa pengemudi truk tronton itu, salah satu petugas kepolisian menemukan handphone Bagas yang berada di bawah jok mobil dan masuk ke dalamnya.


Polisi menyerahkan ponsel Bagas pada Katrina dan gadis itu mencari nomer orang tua Bagas. Setelah menemukan kontaknya Katrina segera menghubungi Mami Bagas dan mengabarkan jika Bagas mengalami musibah kecelakaan mobil dan saat ini sedang koma.

__ADS_1


Pantas saja selama satu bulan orang tua Bagas tidak dapat menghubungi anaknya dan setelah mendapat kabar dari Katrina orang tua Bagas serta adiknya segera terbang ke Kanada untuk melihat dan merawat Bagas.


Mami langsung menangis meraung Raung melihat anak lelaki kebanggaan nya itu terdiam tak sadarkan diri. Memang luka-luka di tubuhnya sudah mengering dan terlihat goresan bekas pecahan kaca mobilnya di wajahnya yang bersih.


Papi langsung menelpon sahabatnya di Indonesia yang memiliki rumah sakit terbaik di Jakarta. Papi berinisiatif merawat Bagas hingga anaknya itu sadar dari koma di Indonesia. Karena pertimbangan dengan biaya dan waktu nya jika terus berada di Kanada.


Perusahaan nya juga membutuhkan tenaga dan pikirannya. Dia tak mungkin menyerahkan tanggung jawab besar pada anak buahnya saja.


Setelah berkonsultasi dengan dokter yang menangani Bagas dan mendapat persetujuan untuk merawat Bagas di tanah air, Lelaki paruh baya itu memboyong anak nya ke Rumah Sakit milik sahabatnya di Indonesia.


Tepat 6 bulan koma,Bagas tersadar ketika dia mendengar suara Adinda membangunkan tidur panjangnya. Ternyata suara itu adalah mimpi Bagas. Saat terbangun dia berteriak mencari Adinda dan di sebelahnya hanya ada Bik Jumilah pengasuh setia sejak kecil.


Bik Jumilah menggenggam tangan juragan muda nya dan mengusap-usap tangannya.


"Mas Bagas, Alhamdulillah sudah bangun. Sebentar Mas, Bibi panggilkan suster dan dokter dulu"


Bi Jum segera melepaskan tangan Bagas dan keluar kamar mencari tenaga medis yang sedang berjaga.


Beberapa saat kemudian dua orang perawat dan satu dokter perempuan masuk ke kamar rawat Bagas. Dokter memeriksa keadaan Bagas dan tersenyum melihat pasiennya telah sadar dari tidur panjangnya selama 6 bulan.


"Dinda...Dinda" air matanya meleleh mengingat kekasihnya.


"Sabar ya Pak, Anda baru sadar dari koma selama 6 bulan. Syukur lah kesehatan anda mulai membaik" kata dokter tadi.

__ADS_1


"Apaa??koma ?" tanya nya heran. Dia tak ingat kejadian yang menimpanya.


__ADS_2