Mesin Waktu

Mesin Waktu
Tania menangis


__ADS_3

Adinda melamun menunggu martabak pesanan nya matang.


" Mbak ini pesanan nya" Kata pegawai Koh Ahay menegur Dinda yang sedang duduk menumpu tangan.


Tak ada reaksi dari nya, lalu pelayan itu berdehem untuk menarik perhatian Dinda


"Ehemm..permisi mbak Martabaknya sudah selesai!" dengan sedikit menekan suaranya pelayan itu berhasil membangun kan Dinda dari lamunan nya.


"Ehh..maaf maaf iya Mas, berapa semuanya?" kata wanita cantik itu.


" Martabak special sapi jamur 50.000 dan martabak manis keju Milo 35.000 " jawabnya


Dinda mengangsurkan selembar uang berwarna merah. Tak lama kemudian pelayan itu memberikan uang kembaliannya.


TRINGGG... TRINGGG...


Suara ponselnya berbunyi lalu dia mengambil benda pipih yang berada di dalam tas Selempang ya.


Mas Rayhan menelpon, pasti Tania rewel ini batin Dinda.


" Halo Assalamualaikum Mah, udah selesai belum? Tania nangis dari tadi" tanya Rayhan agak keras karena suara tangis Tania membuat suaranya nyaris tak terdengar.


" Waalaikum salam, iya Pah ini sudah selesai mau meluncur 15 menit lagi ya, coba bawa jalan keluar rumah biar berhenti nangis nya" jawab Dinda memberi solusi agar anaknya berhenti menangis.


" Ya sudah cepat pulang, hati-hati di jalan" Kata Rayhan buru-buru menutup telpon nya karena Tangis Tania terdengar lebih kencang lagi.


Dinda segera berlari kecil menuju parkir motor dan setelah itu dia memacu kuda besinya dengan cepat.


 


Dinda memeluk Tania dengan erat sambil mencium pipi batita nya dengan penuh kasih sayang.


" Aduh anak mama yang cantik kenapa menangis?"


Rayhan menghela nafas kasar. Bagaimana dia tidak panik hampir 1.5 jam Dinda keluar meninggalkan mereka berdua di rumah. Tadi Dinda pamit hanya sebentar membeli diaper dan susu formula yang hampir habis tapi nyatanya Dinda malah keluar lama dan pulang tidak membawa barang yang tadi akan di belinya malah membawa martabak.


" mana diaper dan susu formula nya Mah?" tanya Rayhan


Dinda terkejut menyadari bahwa tadi dia tak sempat membeli keperluan putrinya karena bertemu dengan Bagas.

__ADS_1


Deg.!!


Ya Tuhan kenapa bisa lupa membeli keperluan si bocah ya? batin nya lagi. Aduh aku harus ngomong apa ini ke Mas Rayhan. gak mungkin kan aku bilang panik gara-gara gak sengaja ketemu Mas Bagas.


" Mah ! Mah! ckk !"


kesal Rayhan melihat istrinya bengong seperti habis kesambet.


Lalu pundaknya di tepuk pelan oleh tangan suaminya.


"A...apaa..ada apa Mas?" tanya Dinda terkejut


" Kamu kenapa sih kok ngelamun aja, kesambet ya?" tanya Rayhan sambil menelisik wajah istrinya yang sedang menggendong putri semata wayang nya.


" Ehmmm kesambet apa sih Mas jangan Ngadi - Ngadi deh!" sungutnya kesal. Sebenarnya dia juga bingung mau menjawab pertanyaan suaminya dia takut suaminya marah.


" Diaper sama sufor Tania mana? kok yang di bawa pulang malah martabak?"


Ulang Rayhan lagi.


"Oh tadi kasir antri banget dan stok diaper Tania kosong." jawabnya asal dan dia juga meminta maaf dalam hati bahwa dia tidak jujur pada suaminya.


" Oh ya wes besok pagi sebelum ke kantor aku coba ke toko yang dekat pasar aja sapa tau stoknya ada"


Dinda mengangguk sambil mengayun putrinya di dalam buaiannya. Tania sudah tenang dan terlihat mengantuk.


"Mas aku keloni Tania dulu ya, kalau Mas lapar bisa makan martabak dulu ya" Pamit Dinda karena dia juga belum menyiapkan makan malam suaminya.


" Oke Sayang, gak usah repot nyiapin nanti aku ambil sendiri saja. Kamu istirahat aja sama Tania. Nanti mas siapin makan malamnya.


Dinda berlalu masuk ke dalam kamar tak lama Rayhan sudah menata martabak di piring saji.


Beberapa saat kemudian Rayhan masuk ke dalam kamar melihat Tania dan Dinda yang sejak beberapa menit lalu tak terdengar suara tangisannya.


Hmm..Syukur lah Tania sudah tertidur tapi lho kok Dinda ikutan molor juga?' geleng Rayhan melihat istrinya tertidur di samping bocah kecilnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 20.45 Wib. Terlambat untuk makan malam mereka namun perut harus tetap di isi agar nanti malam bisa tidur nyenyak dan tak masuk angin. Dengan perlahan di tepuk lengan istrinya dengan lembut.


" Mah, ayo makan dulu. Tania sudah tidur" ajak Rayhan dengan suara pelan takut membangunkan Tania.

__ADS_1


Dinda menggeliat meliuk kan tubuh nya yang terasa lelah.


"Eh. ehmm maaf mas aku ketiduran. Mas sudah makan?'' tanya nya tak enak hati melihat wajah teduh suaminya.


"Belum, Ayuk kita makan bersama mumpung dia tertidur. Mas sudah siapin makan malam kita"


Dinda segera membenahi baju atas nya yang kancing nya terbuka karena habis menyusui Tania.


" Mas, besok aku mau ke rumah Mama. Beliau rindu Tania. ''


Pamit Dinda pada suaminya sembari menyendokkan nasi ke piring Rayhan.


" Iya besok Mas antar kalian sekalian berangkat kerja"


Dinda tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada suaminya yang sangat sabar dan selalu mengutamakan kebahagiaan nya sejak awal menikah hingga sekarang.


Dia teringat saat menangis tersedu-sedu saat Rayhan datang melamarnya, dia belum bisa melupakan Bagas saat itu namun karena Ayahnya lah yang membuat nya pasrah dan menerima pinangan Rayhan.


Entah mengapa cinta nya untuk Rayhan belum tumbuh saat itu padahal mereka adalah sepasang sahabat dari kecil. Masa kecil mereka tumbuh bersama hingga remaja dan dewasa. Rayhan selalu ada di saat apapun kondisi Adinda. Bahkan saat terburuk gadis itu pun Rayhan selalu berada di sisi nya untuk menguatkan. Namun Cinta Adinda telah terpatri untuk Bagas.


Bagas yang membersamai nya selama masa kuliah mampu menjungkir balikkan hidupnya dari masa bahagia menjadi fase terendah di hidup nya dan membuatnya menyerah mempertahankan cintanya demi baktinya pada orang tua.


" Kamu kenapa sih Mah,dari tadi bengong melulu! ada yang kamu pikirkan? Sakit?" tanya Rayhan melihat istrinya hanya mengaduk nasi dan lauk di piringnya.


' Enggak ..gak apa-apa Mas cuma agak pening saja kepalaku" katanya sedikit membohongi suaminya.


" kalau sakit besok gak usah ke rumah Bunda. Tunda dulu sampai sembuh pasti Bunda mengerti kok"


Adinda menggelengkan kepalanya


" Pasti besok udah sembuh kok mas, kurang tidur aja aku."


" Ya sudah setelah sholat kamu langsung tidur aja, nanti Mas yang beresin meja makan. Apa perlu Mas pijit?" kata Rayhan lagi


"Gak usah pijit Mas, aku tidur aja setelah sholat. Mas gak apa-apa nih, membereskan meja makan?"


Rayhan mengangguk, lalu segera menghabiskan makan malam nya. Setelah itu. dia membereskan meja makan dan mencuci piring kotor mereka.


........

__ADS_1


Di dalam kamar Adinda menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru langit. Pikirannya mulai mengembara mengingat pertemuannya dengan Bagas lagi.


__ADS_2