Mesin Waktu

Mesin Waktu
POV Dinda


__ADS_3

Aku mengenal Mas Rayhan yang sekarang sebagai suami ku sejak kami masih kanak-kanak. Dimana Mas Rayhan adalah tetangga ku, dia anak tunggal dari Pak Kusuma yang sekarang adalah mertua ku.


Sebenarnya mas Rayhan bukan kekasihku namun dia adalah seorang guardian angel ku atau malaikat pelindung saat aku kecil dulu.


Hmmm'.. aku teringat saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar aku adalah anak yang manja dan cengeng. Entah mengapa aku sering kali menangis sehingga Bang Farhan yang notabene adalah kakak kandung ku malah sering mengabaikan ku dan sering bermain dengan teman laki-laki nya. Dia tak mau membawa serta adik bungsunya yang manis ini karena dia tidak mau terganggu bermain.


Aku kesal dan sering merengek untuk ikut bermain karena bagi ku bermain dengan teman Bang Farhan sangat mengasyikkan. Mereka tidak jaim dan tidak ada sifat iri. Mungkin karena lelaki sehingga permainan mereka lebih menantang dan sering memacu adrenalin.


Bukan aku tak punya kawan wanita sebaya saat itu namun mereka sering kali berkelompok dengan gank nya masing-masing jika tidak Seiya sekata dengan pemimpin gank nya maka akan di musuhi. Apalagi Desty adalah gadis songong yang sering tampil alias show up sendiri di muka teman-teman.


Maklum saja Desty adalah anak orang kaya segala jenis mainan dia punya, sampai di rumah nya pun dia memiliki kamar khusus bermain yang berisi banyak boneka lucu dari berbagai negara. Momy Desty seorang single parent yang bekerja di sebuah perusahaan besar dan mendapatkan posisi jabatan tinggi. Desty mempunyai kakak lelaki juga bernama Kevin. Mereka berdua sering di tinggal pergi Momy nya kerja hingga larut malam dan hanya di temani Oma serta 2 orang pembantunya.


Kevin juga sangat bandel dia yang paling sering menggodaku hingga aku menangis keras lalu Bang Farhan atau Mas Rayhan lah yang datang menenangkan kan ku. Kevin pernah di tonjok sama Mas Rayhan gara-gara membuat ku terjatuh ke dalam got di depan rumahnya.


Saat itu aku bermain sepeda sendiri an lalu Kevin datang menghampiri ku mendorong sepeda ku sampai kencang. Aku yang tak siap akhirnya jatuh tercebur got di depan rumahnya yang bau. Bang Farhan dan Mas Rayhan yang sedang bermain di dekat rumah Kevin segera berlari sesaat mendengar tangisanku.


Bang Farhan dan Mas Rayhan langsung menghampiriku dan menolong mengeluarkan tubuh mungilku yang terhimpit sepeda. Untung saja setiap naik sepeda aku selalu menggunakan helm yang di belikan ayah sehingga kepalaku aman dari benturan dinding got. Namun kaki ku terkilir dan tanganku terluka karena tergores dinding got yang kasar.


Setelah mengeluarkan aku dari got yang bau itu, tanpa banyak cakap Mas Rayhan langsung berlari menghajar Kevin. Tubuh Kevin di dorong hingga terjerembab dia menangis meminta ampun. Setelah dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan jailnya itu. Mas Rayhan menghentikan intimidasi nya.

__ADS_1


Ah saat itu aku merasa sangat bangga mendapat perlindungan ganda dari 2 kakakku. Kakak kandung ku dan kakak ketemu gede ku.


Banyak kejadian yang melibatkan Mas Rayhan dan aku sejak kecil sehingga lambat laun aku menyayanginya. Aku terbiasa main ke rumah nya dan bercanda dengan Mama papa nya seperti orang tua ku sendiri.


Namun aku merasa sedih dan kehilangan ketika Papa dan Mama Mas Rayhan mengatakan akan pindah sementara ke Makassar karena Papa nya mendapatkan kenaikan jabatan.


Belum juga mereka sekeluarga pindah aku sudah merasakan kesedihan yang dalam. Aku tak bisa membayangkan jika harus berpisah dengan Mas Rayhan. Jujur saja aku sudah tak bisa tidur dan tak enak makan membayangkan akan berpisah dengan Mas Rayhan.


Untuk membiasakan diri tanpanya maka aku mencoba beberapa hari tak mau menemui kakak ketemu gede ku bahkan aku mogok bicara jika bertemu tak sengaja. Saat itu aku sudah remaja dan menginjak bangku SMP.


Entah berapa macam cara dan rayuan Mas Rayhan bahkan sampai Bunda mencoba mengambil hatiku, aku tetap bergeming. Jujur aku sedih harus berpisah dengan Mas Rayhan. Entah karena ketergantungan sosoknya yang selalu melindungi dan menjagaku.


"Ayo lah Dek, kenapa sih kamu gak mau ketemu dengan Mas Rayhan? gak biasanya lho kamu begini" tanya Bunda saat makan siang bersama.


'Ugh..Luna?


Aku mencebik kesal lalu melempar gulungan tisu bekas ke arah Bang Farhan.


Eh..apa benar Mas Rayhan dekat dengan Kak Luna ya? secara mereka sama-sama satu sekolah di bangku SMA.

__ADS_1


Eh tapi aku jadi kepo juga nih dengan berita terbaru dari abang ku yang usil ini. Namun aku gengsi dong jika bertanya lagi tentang kebenaran omongan nya.


Lagian nih aku kan masih kecil masih SMP kenapa harus cemburu? apa sih cemburu itu aku belum tahu. Aku cuma kesal aja karena sebentar lagi aku tak bisa bersama Kakak ketemu gede ku itu.


Sudah satu bulan aku berusaha menjauhi Mas Rayhan ada rasa rindu ketika tak sengaja melihatnya berjalan ke masjid, dia pasti melewati rumahku karena rumahku terletak di ujung komplek yang dekat dengan masjid.


Biarlah aku saat ini menjauhi nya agar kelak ketika kami benar-benar berpisah aku akan terbiasa tanpa nya. Entah perasaan apa ini yang sangat merindukan guardian angel ku.


Tiba saatnya keluarga Pak Kusuma untuk berangkat ke Makassar. Sebelum mereka meninggal kan komplek ini, mereka mengadakan acara Farre well dengan para tetangga. Aku yang enggan mengikuti bunda ke rumah Mas Rayhan terpaksa ikut karena Mama Nanik , ibu Mas Rayhan menjemput ku langsung.


" Ayo Dinda, Tante sudah rindu lho hampir satu bulan kamu tak pernah main ke rumah. Kenapa nak?" tanya Tante Nanik lembut.


Aku menunduk sedih, air mata yang ku tahan berhari-hari akhirnya tumpah jua. Dengan penuh kasih sayang Tante Nanik membelai rambutku.


"Dinda kenapa menangis nak?Dinda tak mau ke rumah Tante? apa Dinda marah sama Tante? " tanya beliau lagi.


Aku menggeleng kan kepala. Lalu tangan lembut itu mengusap air mata yang membanjiri kedua pipiku.


"Kalau Tante ada salah sama Dinda, Tante minta maaf ya nak?" tanya nya masih dengan suara lembut.

__ADS_1


"Tante tidak salah apa-apa, Dinda hanya sedih harus berpisah dengan Om dan Tante" jawabku semakin terisak.


Tante Nanik memelukku erat. Kemudian beliau berpamitan pada Bunda untuk mengajakku ke rumahnya. Tante Nanik menggandeng tangan ku menuju rumah nya.


__ADS_2