
Aku mengenalnya sejak kanak-kanak, gadis ayu berhidung mancung dan berkulit kuning Langsat. Tawa nya yang renyah dan sifat manja nya ke aku membuat ku ingin selalu melindungi nya. Adinda si Pipit kecilku itu sungguh telah mencuri hatiku, entah sejak kapan rasa suka ini hadir menyeruak di memenuhi hatiku. Yang aku tahu aku merasa selalu ingin menjadi pelindung nya. Jadi orang pertama yang mengusap air mata nya dan jadi orang pertama yang mendengar teriakannya saat bahagia.
Kami tumbuh bersama dari kecil dalam satu lingkungan komplek. Aku yang anak tunggal merasa senang saat memiliki teman bermain sebaya yang ramah dan menyenangkan. Farhan bocah berambut ikal itu anak yang selalu membuat ku tertawa dengan ulah iseng nya. Kami berusia sebaya tapi dia lebih beruntung memiliki seorang adik perempuan yang cantik dan ternyata cengeng ha..ha..haa.
Ya, adik Farhan itu gadis kecil yang cengeng, namanya Adinda, entah kenapa dia gampang sekali menangis saat bermain dengan kawan sebaya nya. Namun Farhan yang notabene adalah Abang kandung nya malah sering menjahili adiknya sehingga si cengeng itu akan berteriak merajuk dan ujung-ujung nya menangis keras sambil menghentakkan kaki nya.
Akhirnya aku lah yang sering membuat gadis itu berhenti menangis dengan segala upaya aku coba menyenangkan nya. Entah aku bawa dia naik sepeda onthel ol keliling kompleks perumahan atau aku belikan es cream strawberry kesukaan nya. Jarak usia Farhan dengan adik nya adalah 5 tahun, jadi saat kami berusia 10 tahun Dinda masih berusia 5 tahun dan masih duduk di Taman kanak-kanak.
Aku ingat saat Dinda menangis karena di tinggalkan Farhan pergi bermain layang-layang di lapangan, aku lah yang sibuk menenangkan Dinda dengan membawa dia kelililing lapangan naik sepeda onthel ke tempat Farhan beradu layangan.
Saat itu lah dia akan tertawa sambil mengayunkan kedua tangannya ke atas atau meloncat-loncat kegirangan. Karena kedekatan kami itu lah banyak yang menyangka bahwa Dinda adalah adik kandung ku. Secara aku juga memiliki kulit kuning seperti Dinda tidak seperti Farhan yang berkulit sawo matang.
Aku juga sering membawa Dinda ke rumahku bertemu dengan Papa dan Mama, beliau berdua sangat menyukai Dinda karena memang orang tua ku sangat menginginkan anak perempuan namun sayang mereka harus memupus keinginan itu karena Mama tidak bisa lagi memberikan aku adik, Mama mempunyai masalah di rahim nya sehingga harus merelakan rahim nya di angkat daripada membahayakan nyawa beliau.
Jadi lah aku anak tunggal dari Klan Tri Kusumo Atmaja, tapi Papa tak pernah mempermasalahkan adik untuk ku, karena keselamatan mama lah yang jadi prioritas utama Papa dan kami saat itu. Selain itu sepupuku anak Tante mariana adik Mama ku sering bermain ke rumah sehingga rumah tak pernah sepi.
Pernah suatu hari aku mengajak Dinda main ke rumahku saat itu Mama membuat topi dari rajutan nya. Mama ingin Dinda memakainya dan saat itu Mama sangat bahagia melihat topi itu sangat pas di kepala gadis mungil itu. Berkali-kali mama mencium Dinda dengan penuh perasaan seakan-akan Dinda adalah anak kandung yang lama di impikannya.
Bertahun tahun kami tumbuh kembang bersama hingga suatu hari saat aku duduk di bangku SMA Papa mendapat promosi jabatan lebih tinggi di perusahaannya. Sebagai General Manager dan kompensasinya Papa harus di tempatkan di sebuah kota besar di luar Jawa.
__ADS_1
Rasanya aku tak ingin ikut pindah bersama Papa dan Mama namun aku tak tega melihat Mama menangis sedih jika aku tak mengikuti beliau berdua. Aku tak ingin kehilangan teman-teman ku disini dan tak ingin kehilangan sahabat ku si Farhan dan terutama si cengeng Dinda.
Aku ingin tinggal dengan Tante Mariana yang akan menempati rumah kami selama kami sekeluarga di Makassar, namun Mama bersikeras mematahkan keinginan ku dengan mengatakan akan kesepian jika tanah rantau berdua saja dengan Papa.
Selain itu Papa juga berjanji akan kembali lagi di kota ini jika anak cabang perusahaan yang di kelolanya itu telah mengalami kemajuan estimasinya kurang lebih 3 tahun.
Derai tangis Bunda Farhan dan si cengeng tak tertahan saat mengantarkan kami di bandara.
Saat itu Dinda sudah menginjak bangku SMP kelas 1 dan aku serta Farhan sudah di bangku SMU kelas 3. Memang sayang kurang 1 tahun lagi aku lulus namun Papa juga tak bisa menunda keberangkatan nya ke Makassar.
Gadis cengeng itu sudah tumbuh jadi remaja yang cantik namun dia masih tetap manja kepadaku dan kolokan. Seringkali Farhan menegur adiknya agar tak terlalu manja denganku mungkin juga ada rasa cemburu di hatinya karena adiknya sendiri lebih lengket denganku.
"Dindot kenapa nangis terus sih, kan Mas Rayhan pasti kembali lagi kesini." ledek Farhan sambil mengusik rambut adiknya.
' ckk...yang bakal kehilangan perhatian Kakak angkatnya nih cengeng terus" olok nya lagi
"Hiks .hikss ..Mas Farhan jahil Bunda" tangisnya sesenggukan
Mama tersenyum terharu melihat betapa kehilangan nya Dinda dan keluarga nya ketika kami pergi sampai mereka sekeluarga semangat mengantar kami ke bandara.
__ADS_1
" Farhan sudah jangan ganggu adiknya. Selalu ya kamu tidak bisa menenangkan adiknya malah membuat rusuh" Kata Bunda menegur anak sulungnya.
"Mas Rayhan kan tidak lama ke Makassar sayang, nanti kalau libur kami akan datang ke kota ini. Kan rumah Tante masih ada disini"
" Janji ya Tante bakalan sering kemari lagi ya kalau liburan" jawab Dinda masih dengan suara terisak.
Aku hanya terdiam merasakan kepedihan yang dalam. Entah mengapa hatiku merasa pilu dengan perpisahan ini walaupun nanti nya kami akan kembali lagi. Aku tak bisa berkata apapun hanya bisa memandang gadis belia itu dengan air yang mengembang di sudut pelupuk mata.
"Dih, Rayhan nangis ya" suara usil Farhan mengejutkan ku.
Tiba-tiba Mama dan Bunda menoleh ke arahku. Lalu Bunda secara reflek memeluk tubuhku.
" Kalau Rayhan rindu kami sering-sering telpon ya. Kan sudah ada internet jadi kita bisa video call juga kalau rindu" kata Bunda menenangkan.
Aku mengangguk dan tersenyum malu. Ah betapa aku akan merindukan mereka terutama si cengeng ku itu.
Beberapa bulan setelah kepindahan kami sekeluarga di Makassar, kami sangat sibuk dengan berbagai urusan. papa sibuk dengan kantor barunya dan Mama juga sibuk mengikuti kegiatan papa. Aku pun sibuk mempersiapkan diri untuk ujian nasional. Sibuk les di sekolah maupun di Lembaga bimbingn belajar.
__ADS_1
Aku agak melupakan kepedihanku berpisah dengan sahabatku di Jawa dan mulai akrab dengan lingkungan baru. Mulai banyak teman baru dan aku mulai kerasan tinggal disini.