Mesin Waktu

Mesin Waktu
Pesta pernikahan farhan


__ADS_3

Acara lamaran Farhan untuk kekasihnya Ratih telah selesai di selenggarakan dan kedua belah pihak keluarga telah sepakat mencari hari baik untuk melangsugkan akad dan di lanjut resepsi pada 3 bulan ke depan.


Dan hari ini adalah waktu yang di tunggu-tunggu Farhan sudah siap dengan Jas. hitam dan peci hitam nya. Wajahnya terlihat lebih tampan dan gagah. Adinda pun telah siap dengan kebaya modern berwarna peach dengan kain jarik warna ke emasan. Bunda dan Ayah pun telah memakai baju seragam untuk orang tua pengantin


" Bang, gimana perasaan nya mau ijab kabul? senang deg deg an gak?" tanya nya dengan senyum mengembang.


Farhan yang sedang membetulkan dasi nya menoleh ke adik nya. Tampak makin ayu saja adik bungsunya ini pantas si Rayhan getol banget mendekati nya.


" Kalau mau tahu perasaan Abang, nikah dulu gih?! pasti bisa langsung tahu deh karen agak bisa di gambarkan.. hehehe" jawabnya sambil mengerling.


Dinda melempar gulungan kecil tissue kecil yang tadi di pilin nya.


" Ya kan nanti masih lama nikahnya, kuliah aja belum kelar !" jawab Dinda melengos


" Lha gak papa to dek, kuliah sambil menikah nanti wisuda udah gendong bayi hahaha" kata Farhan menimpali adiknya.


" Kayak nya tidak dalam waktu dekat deh. Bagas belum siap" jawab nya ringan.


"Kalau ada yang lebih siap melamar apa kamu mau?!" iseng Farhan menggoda adiknya.


" Emang siapa yang udah siap?"


Farhan sudah siap melontarkan jawaban tiba-tiba pintu kamar nya di ketuk dari luar


'tok..tok..tok


Ayah dan Bunda nya ternyata sudah tak sabar untuk segera mengantar calon pengantin ke tempat akad di rumah calon mempelai wanita.

__ADS_1


" Abang sudah selesai dandan nya? ayo cepat keluar kamar temui dulu Om Tante dan eyang kamu. Minta restu dulu sebelum berangkat perang hehehe." canda Ayah dengan wajah sumringah.


Sungguh demi apa pun di dunia ini, melihat Ayah sehat dan tersenyum bahagia adalah anugrah terbesar di hidup Farhan dan Adinda.


Lelaki yang setengah hidup nya selalu di dedikasikan untuk keluarga itu sekarang sering sakit-sakit an dan jika beliau sedang terkena serangan mendadak maka satu keluarga akan jadi sedih dan kalang kabut.


Ayah adalah seorang ayah idola anak nya tak pernah marah dan selalu bertutur kata lembut. Jika anak nya melakukan kesalahan pun beliau tidak akan memarahi atau pun memukul. Beliau justru dengan bijaksana akan memanggil anak nya yang berbuat salah dengan penuh kebapakan dan kelembutan sehingga mau tak mau si anak akan merasa sungkan untuk berbuat hal yang salah.


Beda dengan Bunda, beliau adalah ibu yang tegas dan disiplin. Jika salah satu anaknya berbuat salah maka Bunda tak segan-segan memberikan hukuman. Walaupun hukuman nya bukan hukuman fisik namun Farhan dan Adinda jadi lebih segan terhadap Bunda.


"Iya Ayah, ini Farhan sudah selesai berbenah. Let's go" jawab Farhan sambil ibu jari dan telunjuk nya tangan nya di silangkan dan berbunyi klik.


Ayah dan Bunda menggeleng kan kepala melihat tingkah konyol anak bujang nya yang sebentar lagi berganti status menjadi seorang suami.


Ruang keluarga sudah penuh dengan keluarga besar Bapak dan Ibu Irawan. Para sesepuh turut hadir untuk mengantar kan cucu mereka ke gerbang mahligai rumah tangga. Dan kebetulan Farhan adalah cucu pertama dari kedua belah pihak dan baru dia yang akan menikah sehingga sambutan keluarga sangat meriah dan penuh suka cita.


Eyang Kakung dan Eyang putri Rasmanto yang notabene adalah orang tua Pak Irawan tampak terharu dan tak terasa air bening meleleh di kedua sudut kelopak mata beliau yang sudah keriput .


Farhan bersimpuh di kedua kaki Kakek dan Nenek nya. Kedua tangan Kakeknya membelai rambut Farhan dengan penuh sayang.


"Eyang, Farhan mohon doa restu doakan acara ini lancar sampai akhir dan doakan Farhan dan Ratih jadi kelurga yang sakinah mawadah warohmah" pinta Farhan sambil mencium punggung tangan Eyang kakung.


Lelaki veteran pejuang kemerdekaan RI itu telah berusia 75 tahun dan tampak masih gagah dengan balutan baju batik tulis nya.


" Eyang selalu mendoakan mu mendapatkan kebahagiaan lahir batin, merestui mu untuk menjadi seorang laki-laki sejati dan semoga Allah meridhoi semua jalan mu."


"Aamiin..." kompak semua yang ada di ruangan itu mengaminkan.

__ADS_1


Setelah itu giliran eyang putri dari Ibunda nya. Dari pihak ibunya memang tinggal eyang putri yang masih ada. Eyang Kakung telah berpulang saat dia masih SMP. Sehingga posisi eyang Kakung saat ini di ganti oleh Pakde Hanis, Kakak tertua ayah nya.


"Andaikan eyang Kakung mu masih ada le, pasti beliau bahagia melihat cucu nya akan menikah. Doakan eyang putri panjang umur ya agar bisa mengantar Dinda menikah juga." lirih dan haru suara eyang putri di telinga nya saat dia juga meminta restu.


Setelah acara minta restu selesai. Rombongan keluarga calon mempelai putra berangkat beriringan mengendarai 6 mobil mini bus menuju hotel tempat akad nikah dan resepsi sekalian.


Acara Ijab Kabul Farhan berjalan lancar, air mata kedua orang tua dan adiknya meleleh tak terbendung. Resmi sudah status bujangan nya menjadi seorang suami. Imam dari seorang istri yang cantik dan lembut.


Ratih dan Farhan tampak serasi memakai balutan baju pengantin modern berwarna silver. Ratih tampak anggun dengan kebaya brokat silver dan memakai hiasan kepala yang berupa mahkota siger yang merupakan ciri khas pengantin Sunda. Sedang kan Farhan pun tampak gagah memakai beskap warna senada dengan istrinya.


Adinda memandang kakak nya dengan perasaan senang dan sedih. Senang karena dia sekarang memiliki seorang kakak perempuan yang lama di ingin kan nya dan sedih karena setelah ini Farhan tak akan tinggal serumah lagi dengan nya.


Jujur saja walaupun Abang nya sering iseng dan membuat kesal dirinya namun rasa sayang nya pada Farhan juga sedarah dan serahin dengan laki-laki itu membuat nya merasa kehilangan.


Tiba-tiba Adinda melihat sosok lelaki yang dikenal nya sedang bercakap-cakap dengan Om Satria adik Ibu nya.


"Mas Rayhan!'' pekik nya senang.


Lelaki itu menoleh ke arah nya lalu melambaikan tangan.


Rayhan tampak gagah dan yang jelas tampan. Cambang nya yang tipis terlihat tegas menghiasi wajah nya. Baju batik coklat membalut rapi tubuh tegap nya.


Rayhan berjalan mendekati Adinda dan terpana melihat pesona Adinda yang semakin sempurna. Adik kecil nya itu telah menjelma menjadi wanita dewasa yang cantik. Tubuhnya tinggi semampai namun proporsional. Bibir nya tipis dan merekah tersenyum.


"Din ! '' hanya sapaan nama nya saja yang keluar dari mulut Rayhan. Sudah lama dia tak berjumpa dengan Pipit mungil nya itu. Setiap dia pulang ke Jawa Dinda tak pernah bertemu dengan nya. Dan saat terakhir ketemu itu mereka berpapasan di Toko buku Pelangi di sebuah mall terbesar di kota ini.


Dan saat itu Dinda tak sendiri. Dia bersama dengan Bagas. Mereka berdua tampak mesra berkali-kali Bagas menarik hidung Dinda yang mancung karena gemas

__ADS_1


Rayhan merasakan perih di hati nya melihat pemandangan yang mesra itu di depan mata nya. Rasanya sakit tak berdarah adik kecil nya kini telah memiliki kekasih. Padahal dia telah lama menanti kan saat Dinda dewasa dan tahu akan isi hati nya selama ini.


__ADS_2