
Seorang Gadis kecil yang selalu hidup dibawah bayangan orang tuanya, hidup dia serba dilarang. Tetapi dia mampu bertahan hingga sembilan tahun, kemudian dia memiliki seorang adik lelaki. Walau perhatian orang tua pada dia berkurang, dia tetap bertahan, karena dia tidak sadar. Dia hanya bahagia memiliki seorang teman bermain, tetapi dia selalu dilarang menggendong adik kecilnya oleh baby sitter dan ibunya.
Setahun-Duatahun hingga tiga tahun, dia sudah tidak sanggup bertahan dengan ketidakadilan orang tuanya dan memilih untuk bersosialisasi dengan orang lain diluar rumah. Tetapi ketika dia bersosialisasi, hingga dia mulai tertawa dan bebas. Orang tuanya mengetahuinya dan melarangnya, untuk bergaul dengan mereka.
"Mami gak adil! adek salah selalu aku yang kena, aku lahir duluan tetapi bisa diatur adek sesuka hati, aku hanya mau bebas mi!"
"Bicarakan saja dengan ayah mu, ngapa aku bisa ngelahirin anak kek mu, gak tau sayang adek, kalau bukan karna adek ekonomi sekarang gak akan selancar ini, dia pembawa rezeki, sedangkan kamu? bawa sial! bisanya ngebantah, sakit ngeluh terus kapan dewasa Liv!"
__ADS_1
"Mi, aku tau umur. Aku tau umurku udah 12 tahun, bentar lagi smp, tapi aku juga tetap butuh yang namanya sosialisasi, tapi dilarang? lalu aku harus ngapain?"
"Main dengan adek kan bisa, hp kalau adek mau tinggal kasih, Egois! ngapain aku cucikan baju mu, ngapain masakkin, ngapain kasih kamu tinggal disini, lalu ngapain aku nyapu dan ngepel kamar mu? ngapa gak aku bersihin aja kamar ku"
"Mami? tiap mau ku kerjain Mami ngelarang, jaga adek aja, gak usah keluar, masuk kamar, duduk aja, ini itu? Mami lupa??"
"Gak adil, masuk ranking 3 besar pun Mami gak peduli kan? dia yang hanya 10 besar aja Mami bandingkan sama aku, suka ngungkit-ngungkit masalah yang udah lewat terus"
__ADS_1
"Diam!"
Dia ditampar dengan keras, hingga mengeluarkan darah. Tetapi ditengah emosi ibunya, hal itu tidak akan berakhir begitu saja. Dia menerima kekerasan dari ibunya, ditendang, disiksa, dan dia menahannya. Semakin dia ingin bebas, semakin keras pukulannya. Begitu selesai, ibunya pergi meninggalkannya dan bercerita dengan orang lain mengenai anak pembantahnya.
Livia cukup menahan, dia sudah terbiasa sejak kedatangan adik kecilnya. Terkadang saat dia berusaha melindungi adik kecilnya, adiknya malahan menfitnah kakaknya. Livia cukup tidak terima tetapi memilih diam, karena dia tau. Jika dia membantah akan lebih jauh masalahnya. Sang ayah yang begitu pulang kerja, tidak menghiraukannya, karena ayah tau siapa yang salah, siapa yang diam. Tetapi sang Ayah tidak mau untuk ikut campur, semakin ikut campur semakin panjang masalahnya.
Livia hanya bisa mengurung diri sendiri dikamar, dan menangis diam-diam. Jangan sampai kedengaran orang diluar ucap dia didalam hati. Gpp, cukup bertahan sebentar lagi. Tujuh tahun lagi, tahan ya.
__ADS_1
Tidak berhenti disana, Livia sangat membutuhkan teman dimasanya tersebut, jangan tersia-siakan waktunya sedikit pun. Dia tetap bergaul dengan mereka, dan bahkan teman dia semakin banyak, dan dia berhasil menyembunyikannya hingga dia berumur 14 tahun. Selama 2 tahun yang panjang, terkadang dia hanya bisa pura-pura bahagia, tertawa didepan orang tuanya. Tetapi terkadang dia mengalami hal yang sama, dan dia mulai membiasakan segalanya. Dia sudah tidak sendiri, dia bahkan sekarang memiliki pacar online, yang bahkan tidak bisa dia ceritakan kepada orang tuanya. Karena dia tau orang tuanya akan melarang. Sejak saat itu dia sudah dapat tinggal sendiri disebuah kost, tanpa harus mengandalkan orang lain, dan dia mulai mencari-cari part time