Mimpi Indah Seorang Gadis

Mimpi Indah Seorang Gadis
Eps.7-Menolak


__ADS_3

Livia hanya tertawa melihat kelakuan mereka, karena sudah sering melihat mereka seperti itu. Mereka bahkan mulai bersahabat sejak SMP malahan, jadinya sudah lumayan mengenal satu sama lain. Waktunya memulai belajar dan tibalah waktu beristirahat.


" Jawaban kalian gimana tentang soal kuisnya pak Yanto tadi, Coba liat punya kalian berdua. Soalnya aku bingung di nomor 4, punyaku disalahin, kan kemaren ada dijelaskan dua. Poin a kan... (blablablablabla balabalanalabl), lalu Poin b kan.. (blblabalbala balbla) kok disalahin ya..." bahas Yosy tentang Kuis IPS tadi.


" Iyayah, kok disalahin? Soalnya punya ku dibenerin, keliru kali bapaknya, gimana jawaban mu Mi?" Jawab Livia, karena merasa bingung juga.


" Kekantor pak yanto aja" Saran Jumi, begitu dia diizinkan untuk berbicara.


Mereka pun berjalan kekantor guru. Dan segera mencari Bapak Yanto, tetapi yang mereka dapati adalah Bryan sedang berdiskusi tentang sesuatu dengan pak yanto.


" Eh Bryan ngapain disana tuh, yuk liat " sambil mengandeng Livia dan Jumi menuju kesana.

__ADS_1


" Selamat siang pak, saya mau membahas mengenai Kuis yang diadakan sebelumnya, apa bapak mempunyai waktu? " Ujar Livia to the poin dengan senyuman manisnya.


Pak Yanto yang melihat itu sempat terpesona, akan tetapi kembali lagi ke kenyataan, umur mereka berjarak 7 tahunan. Akan tetapi Pak Yanto hingga kini masih lajang. Sedangkan Bryan, juga ikut terpesona hingga melupakan apa yang ingin dia sampaikan lagi ke Pak Yanto.


" Permisi pak " Panggil Jumi yang peka akan hal tersebut.


" Ah iya nak, bapak habis ini ada rapat dengan guru-guru lain, Bryan bapak titipkan Livia dan teman-teman ya " Sambil mengelus kepala Livia


"Sini yuk Liv, ke meja dipojokkan sana, mana yang gak dipahami hmm?" Ajak Bryan dengan gentle dan lembut


"Ah ehm keknya itu.. anu.. aku mau jajan dulu deh emm" Jawab Livia dengan sedikit risih.

__ADS_1


Jumi memberi kode kepada Yosy yang tercenggang, untuk melanjutkan topik. Yosy pun menyarankan untuk dia dan Jumi saja yang membelikan jajan. Bryan tersenyum karena dia senang akan pekanya sahabat-sahabat Livia ini..


Kemudian tersisa lah Bryan dan Livia diruangan tersebut. Dan Bryan pun menanyakan kembali bagian mana yang tidak dimengerti Livia. Sambil mengeluarkan pena yang sering dikantonginya. Livia kemudian menjelaskan mengenai apa yang ingin ditanyakan.


" Ohhh pantesan punya Yosy disalahin Liv, karena penjelasan pada poin a menyangkut poin b, karena kan diminta untuk menjelaskan secara terpisah, dan dipoin b-nya aja ada menyangkut penjelasan si a" jelas Bryan


" Ouhhh okei... yaudha ku pamit dulu, mumpung udah terjelaskan" balas Livia yang sebenarnya udah risih dari awal


Tetapi saat Livia hendak berdiri dari kursinya, tangannya ditarik oleh Bryan. Bryan menahannya karena ingin mengatakan sesuatu, dan Livia kembali duduk lalu mencoba mendengarkan apa yang ingin disampaikan Bryan. Walau dia telah mengetahuinya, dia merasa tidak sopan jika langsung pergi meninggalkan Bryan.


" Liv, mau nggak tinggal diapartemen ku.. lalu ehm itu, jadilah pacar ku ya??" Ujar Bryan sambil menciumi punggung tangan Livia dengan lembut, bahkan siapapun yang melihat itu pasti akan membuat hati menjadi geli dan ingin tersenyum. Terkecuali Livia.

__ADS_1


__ADS_2