Mimpi Indah Seorang Gadis

Mimpi Indah Seorang Gadis
Eps.2-Try to happy


__ADS_3

Tidak lama kemudian, Livia putus dengan PO (Pacar Online) kecilnya. Tetapi Livia tidak merasa putus asa, karena baginya ini bukanlah seberapa dibandingkan siksaan dari keluarganya. Dia tidak berhenti disana, dia terus mencari kebebasannya sendiri. Sebulan, seminggu, tiga hari, hubungan dalam jangka tersebut sudah biasa dialami Livia.


Pacar pertama, hubungan mereka berjalan seminggu, dan putus karena perselingkuhan. Pacar kedua, hubungan mereka sungguh harmonis dipandangan orang-orang, tetapi didalamnya saat sedang berduaan, sifat kekerasan Sang cowok muncul. Pacar ketiga hingga kelima, sebulan paling lama, dan tiga hari paling cepat.


"Aku sudah terbiasa..."


Saat ini Livia, sudah menduduki bangku SMA 3.


Dia mendapat seseorang yang berhasil memikat hatinya, berawal dari si cowok yang terus menerus mengejar Livia, cowok ini bernama Delvin. hubungan mereka telah berjalan Selama dua bulan. Selama dua bulan, Jujur Saja, Livia merasa tersiksa. Karena Kerinduannya tidak pernah tersampaikan, karena dia tidak tau bagaimana cara menyampaikannya. Dia tidak berani menyampaikan hal itu kepada Delvin. Dia hanya bertindak sesuai tindakkan Delvin nantinya.


Seiring berjalannya waktu, yang namanya hubungan pasti dapat memudar. Memudar karena tidak adanya komitmen, tidak ada rasa, tidak ada perhatian, hari ini adalah bulan kelima setelah mereka bersama. Mereka sudah mendapatkan izin oleh orangtuanya untuk tinggal bersama karena keinginan Delvin dan Livia, dengan syarat jangan sampai terjadi sesuatu.

__ADS_1


"Byy, besok nonton sama-sama yuk"


"Apaan sih! jangan ganggu aku main!"


Hati Livia merasa sakit tiba-tiba, apa salahnya dia bertanya. Dia merasa bahwa Delvin bahkan tidak mencintainya lagi. Kemudian air matanya mulai mengalir dari sebelah kiri.


"Hiks.. Byy, sudah gak cinta lagi kah sama aku"


"Tapi byy..." Jawab Livia dengan kaget


"Awas aja sampai kamu laporan kepada orang tua mu! heh, tidur sama aku aja gak berani. Apa gunanya badan kek gitu, tapi gak manfaatin buat ngehibur pacar sendiri. Tiap hari nyuci, nyapu, belajar, dandan aja gak pandai. Intinya habis ini, masuk kamar dan lepas semua pakaian mu! ku tunggu! setelah itu aku baru akan pikirkan untuk menikahi mu"

__ADS_1


"Gak akan! harga diri ku lebih penting, mu hanya pacar ku bukan suami ku! aku gak akan melakukannya untuk mu!"


Dengan marah, Delvin menghampirinya dan menjambak rambutnya. Lalu menamparnya dengan keras. Pada saat itu Livia tidak terpikir untuk kabur, karena rumah yang mereka tinggali, adalah hasil tabungan Livia sendiri. Dia tidak rela pergi, dan berniat mengusir Delvin. Tetapi Delvin menahan Livia, Livia terus menerus mencoba lepas, Tetapi...


"heh! paha mulus gini, buka dikit kenapa, gak usah sok polos gak mau, sok suci!" Sambil mengelus-elus


"Gak mau!" Teriak Livia didekat telinga Delvin, dan menendang bagian sensitif Delvin.


"Argghh!!" Teriak kesakitan, Delvin yang sedikit kaget dan merasa sakit, hanya bisa terbaring dilantai sambil memegang tempat Livia menendang.


Ini adalah kesempatan Livia, tanpa memikirkan rumahnya. Ia membawa kunci, lalu dia keluar dari rumah itu. Tidak lupa untuk mengunci Delvin di dalam, hal pertama yang terpikir Livia setelah dia keluar adalah dia harus menelepon polisi. Sebelum terjadi, sudah terdengar suara ledakkan. Livia kaget dan bingung dengan apa yang terjadi, suara dari mana hal itu berasal.

__ADS_1


__ADS_2