
" ehh..., tunggu!!! Lice!!!" ujar Licia.
" hey! lepaskan temannya!" ujar nona Jiang.
" kau ingin aku melepaskan orang ini?!, jangan mimpi!" ujar orang itu.
DOR...
setelah suara tembakan nona Jiang kelihatan gemetaran...
" nona Jiang... jangan takut..." ujar Licia.
" aku takut jika tertembak pistol itu..." ujar nona Jiang.
" heh! takut yah kalau gitu tembak lah mu sendiri kalau tidak ada pendarahan sama sekali aku akan menembak kepala teman mu yang ada di genggaman tangan ku ini!" ujar orang itu.
" tapi... aku tidak membawa pistol..." ujar Licia.
" heh! kalau gitu ambilah! datang lah kesini untuk mengambil!" ujar orang itu.
............
'apa penjahat sekarang sebodoh ini?!, apa dia tidak takut kalau aku menyerang tiba-tiba?!'
............
ketika Licia mencoba mengambil pistol itu...
Krak...!!
suara pistol itu jatuh dari tangan si penjahat, karena di tendang oleh Licia...
dan...
DOR...
" terima kasih Sen... jarang sekali kalau mu siaga..." ujar Licia.
" apa kau gak bisa membedakan kami?!" ujarnya.
" ehh... apa maksudnya?!" ujar Licia.
" aku adalah Rei...." ujarnya.
" ahhh... maaf!" ujar Licia.
" tidak apa-apa, sekarang cek keadaannya Lice dulu mungkin luka pukulnya gak terlalu begitu parah!" ujar Rei.
" ok dan di mana Sen?!" ujar Licia.
" dia mungkin masih menyelidiki..." ujar Rei.
" hei!!! kok kalian gak bilang kalau si cerewet ini terluka!!!" ujar Sen.
" oh... gimana kami bilang?!, kami gak bawa teknologi apapun cuma aja!" ujar Licia.
" hei! cerewet bangun dong..." ujar Sen sambil berjalan mendekati Lice.
" maaf yah.... gara-gara aku teman kalian jadi seperti ini.... aku sungguh minta maaf!" ujar nona Jiang.
__ADS_1
" tidak apa-apa... jadi sementara gak perlu dengar suara cerewet nih..." ujar Sen.
" sudah... ayo kita segera pergi dari sini takutnya ada perangkap lain lagi!" ujar Rei.
" ayo pergi!!" ujar Licia.
" di sini sudah ku pasang bom 1kg... jadi tenang aja adil kok matinya... hahahaha" ujar penjahat lainnya.
" liat aja nanti!" ujar Licia.
" Sen! lacak bomnya!" ujar Rei.
" baik! akan ku coba untuk melacak keberadaannya" ujar Sen.
" oh iya dan..." ujar Rei.
DOR...
" hebat juga... kali ini mu sudah cukup siaga dan pandai memanfaatkan waktu yang tepat!" ujar Rei.
" terima kasih!" ujar Licia.
" halo!!, ini bukan saatnya untuk beromantis!!" ujar Sen.
" iya...iya..." ujar Licia.
setelah 5 menit kemudian....
" dah ketemu! bomnya ada di sekitar kita sepertinya ada dinding sebelah sini!" ujar Sen.
" ok kerja bagus Sen!" ujar Rei sambil membuka tutup Bom.
" bilang aja kalau rindu orangnya, gak perlu bilang suaranya..." ujar Licia.
" apa kau mau ku pukul!!!" ujar Sen.
" hei!!! coba ulangi apa yang kau katakan kepada dia...." ujar Rei.
" tidak ada..." ujar Sen.
" Lic, kalau ada Kuning dan Merah mu pilih gunting yang mana?!" tanya Rei.
" kalau aku sih biasanya merah tuh bisa bikin aku marah jadi aku ingin memotong merah agar merahnya cepat pergi!" jawab Licia.
" bersiaplah!" ujar Rei.
............
'semoga tidak terjadi apa-apa pada Rei, semoga apa yang kubilang benar...'
............
setelah selesai memotong kabelnya...
tidak terjadi apa-apa...
" yes!! berhasil!!" ujar Sen.
" sudah ayo segera pergi dari sini..." ujar Rei.
__ADS_1
" siapa yang akan bawakan Lice?!" ujar Licia.
" Sen!!, bawakan Lice dengan selamat!" ujar Rei.
" what!!! why me!!" ujar Sen.
" because she like you!" ujar Rei.
" yalah..." ujar Sen.
" kita bawa nona Jiang pulang dulu!" ujar Rei.
" terima kasih karena kalian bersedia menolong ku..." ujar nona Jiang.
setelah selesai mengantar nona Jiang....
dan sampai di rumah...
" wah... capek juga ngebawa nih anak..." ujar Sen.
" Sen tolong yah bawain Lice ke kamarnya!" ujar Licia.
" why me again?!" ujar Sen.
" mu pilih bawa dia ke kamarnya atau mandiin dan obati lukanya?!" ujar Licia.
" ehh... kau pilih pilihan pertama deh..." ujar Sen.
setelah selesai membawa Lice ke kamarnya...
............
'hari ini kok misinya berjalan begitu mulus yah... sepertinya ada yang bantu dari jauh... mungkin itu kelompok Rexyra...'
.............
" ehmm... air..." ujar Lice.
" ohh... aku minta Licia obati mu dulu yah sekalian ambilkan air..." ujar Sen.
" Lic, si cerewet dah bangun..." ujar Sen.
" owh... aku pergi siapkan obat dulu... airnya tolong di ambilin, yang hangat yah..." ujar Licia
" ok!" ujar Sen sambil menuju kearah dapur.
ketika Sen sedang memasak air agar menjadi hangat tiba-tiba...
Krang!!!!....
*Bersambung...
account: felicia vanissa24
guys tetap dukung author nih... 1 like udah ngebantu semangatin..... thanks yah dah ikutin author sampai sini... apa kalian puas dengan karya author?, kalau gak minta nih masukannya... Lop you guys...
*😆(happy)
__ADS_1
**